Mohon tunggu...
Bambang Syairudin
Bambang Syairudin Mohon Tunggu... BAMS, lebih senang DIAJARI oleh PUISI daripada DIAJARI oleh SAJAK; kalau puisi ngajarinya serius sekali, sedangkan dengan sajak malah diajak tertawa terbahak-bahak ngakak! ©

========================================== BAMS, hidup dan mencari NAFKAH sebagai Pendidik di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya. Pernah BELAJAR di Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung. BAMS, lebih senang DIAJARI oleh PUISI daripada DIAJARI oleh SAJAK; kalau puisi ngajarinya serius sekali, sedangkan dengan sajak malah diajak tertawa terbahak-bahak ngakak! ========================================== KEPADA SEMUA TEMAN, yang telah memberikan KERAMAHAN KOMEN dan PENILAIAN, saya mengucapkan SANGAT BERTERIMAKASIH. 🙏🤝🙏 ========================================== KEPADA ADMIN KOMPASIANA, yang telah dengan SANGAT BAIK dalam MENGELOLA dan menyediakan TEMPAT BERBAGI LITERASI, saya mengucapkan SALAM SALUT dan SANGAT BERTERIMAKASIH. 🙏🤝🙏 ==========================================

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Kenapa Kau Turut Saja

19 Mei 2021   01:00 Diperbarui: 19 Mei 2021   01:02 77 9 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kenapa Kau Turut Saja
Gambar Ilustrasi merupakan dokumen karya pribadi (Karya Bambang Syairudin)

(kenapa kau turut saja) 

alam berulanghari tanpa duplikasi
nampak sama tapi bedanya
sungguh jauh sekali

usia merontok gigi
menonjok tepi
panggung  reot bumi
gantian lahirkan mati
di tempat paling sunyi
tersembunyi
keluar masuk hati
keluarnya renta nyali
nelangsa sekali

dimana pintu masuknya
dimana pintu keluarnya

duh, kaujebak aku
kedalam pendapa
empat warna rupa

seribu  kurang  satu jendela
kemana arah membukanya
kenapa kutakbisa

tuk nemukanmu
kulewati ritual kunyahan sebelas bijih kopi
disembur kedalam lima jemari bunga kenanga
yang hijau segar menguning ini
akankah monolog rinduku
dapat larut bersahut ikut
kemana  saja langkah mu nuju
ke kayu palang pembuka pintu itu
susuhnya  swara dialog lawang aksaramu
disitukah tuanmu tulis resah kita
kenapa kau turut saja
seruan tuanmu menyudahi kita
sungguh tega tuanmu pisahkan kita

padahal ku tak henti menyebut
tak harap tuanmu yang menyahut
tapi cukup lambaian kenanganmu
yang kuharapkan menyambut
bukan tuanmu yang menyahut
biarlah tuanmu beringsut susut
menjauh ku tak takut
yang ku takutkan itu  
bila indah senyummu
tak kembali

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x