Mohon tunggu...
Bambang Herutomo
Bambang Herutomo Mohon Tunggu... Konsultan - Konsultan dan mahasiswa S2 Teologi STT Jaffray Jakarta

Konsultan Pertambangan Batubara dan Mahasiswa S2 Teologi STT Jaffray Jakarta

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Gereja, Arti, dan Tujuan Menurut Alkitab

23 April 2019   21:09 Diperbarui: 30 Juni 2021   05:30 31315
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Meskipun mungkin orang tidak puas dengan gerejanya, akan tetapi tetap ia tidak berhak untuk meninggalkannya. Ia harus ikut kesukaran-kesukaran di sini. Dan ia bertugas, untuk berusaha agar gereja dapat dibangun kembali. 

Kecuali kalau gerejanya tidak lagi merupakan suatu gereja, yaitu kalau gereja telah merosot menjadi semata-mata buatan manusia, pada saat yang demikian tentu tidak ada perintah Allah lagi, untuk tinggal tetap dalam gereja yang bukan lagi gereja dari umat Allah

2. Maksud gereja ialah : melayani Tuhan dalam karya-Nya menyelamatkan manusia.

Orang-orang percaya telah dijadikan pelita, agar menyinari orang-orang lain, hingga mereka memuliakan Allah (Matius 5:16).

Gereja adalah umat Allah agar "memberitakan segala perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia" (1 Petrus 2:9).

3. Allah memberikan Firman dan Sakramen kepada gereja. Firman Allah  di dalam gereja mempunyai fungsi istimewa, yaitu menjadi khotbah. Adakah khotbah itu Firman Tuhan?

Memang, tetapi bukan oleh karena kesalehan, kepandaian pendeta. Akan tetapi oleh karena Allah yang memberikan Firman-Nya kepada gereja.

Kitab suci harus menjadi sumber khotbah. Pendeta menjadi mulut Tuhan; ia dipanggil Allah sendiri untuk menjadi  pelayan firman Allah.

Dengan sendirinya  kita tidak lupa, bahwa pendeta adalah manusia, sehingga ia dapat mengganggu jalannya Firman Allah, bahkan ia dapat menentang Roh Suci.

Oleh karena itu ia dapat membiarkan kemauannya sendiri di dalam berkhotbah. Maka mungkinlah kita perlu mengadakan kritik. Dan segala kritik harus hanya keluar dari Firman Allah.

Sebaliknya pendeta harus terus awas. Jangan sampai ia mempergampangkan khotbah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun