Mohon tunggu...
Prof. Dr. Apollo (Daito)
Prof. Dr. Apollo (Daito) Mohon Tunggu... Seorang Kantian

Guru Besar Tetap Pascasarjana Universitas Mercu Buana; Guru Besar Tidak Tetap FEB Universitas Trisakti; Guru Besar Tidak Tetap Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie; Guru Besar Tidak Tetap Program Doktoral Ilmu Ekonomi Universitas Pancasila; Waktu Lahir Pernah Meninggal Dunia Selama 6 Jam, kemudian Hidup Kembali saat akan dimakamkan, Sejak lahir diberikan bakat metafisik dan indera keenam atau [Indigo]

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Rerangka Pemikiran Filsafat Cina (1)

26 Januari 2020   02:24 Diperbarui: 26 Januari 2020   02:34 93 2 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Rerangka Pemikiran Filsafat Cina (1)
Episteme Filsafat Cina (1)

Filsafat Cina dikembangkan berdasarkan paradigma ontologis, epistemologis, dan metafisik yang berbeda dari wacana teoretis Barat. Konsep dan kategori yang digunakan dalam filsafat Cina tidak dapat dengan mudah ditransfer dari satu konteks sosial-budaya ke yang lain, dan seringkali sulit untuk memahami filsafat ini melalui kacamata pemikiran Barat tradisional. 

Dengan demikian, penerapan metode Barat secara eksklusif dapat menyebabkan kesalahpahaman yang parah dan interpretasi yang salah atas wacana Cina. Karena itu penting untuk menggunakan kehati-hatian agar tidak mengurangi kekayaan dan kedalaman pemikiran Cina atau mengubahnya menjadi versi yang lemah dari pemikiran filosofis Barat.

Dimensi epistemologis dari teks-teks Cina dan perannya dalam konteks pemikiran Cina telah semakin berhasil dikembangkan di bawah naungan menemukan kembali dan menerapkan pendekatan dan kategori metodologis tradisional Tiongkok yang spesifik. 

Entri ini  mengeksplorasi epistemologi Tiongkok melalui lensa aset konseptual dan ideasional yang dibuat dan dikembangkan dalam tradisi Cina.

Menurut epistemologi tradisional Eropa yang berlaku, pengetahuan terutama diperoleh melalui observasi dan penalaran. Namun, dalam pemikiran Cina tradisional, pengetahuan telah dipahami dalam arti yang jauh lebih luas, yaitu sebagai sesuatu yang  (atau terutama) berasal dari isi moral dan yang tidak dapat dipisahkan dari praktik (sosial). 

Metode yang menentukan sebagian besar ajaran epistemologis yang ditemukan dalam klasik Cina didasarkan pada pandangan dunia holistik, dan diarahkan menuju pemahaman yang dapat dicapai melalui pendidikan dan pembelajaran. Isi dasar dari ajaran-ajaran ini berakar pada premis etika pragmatis dan utilitarian. 

Epistemologi Tionghoa bersifat relasional (Roker 2012), artinya ia memahami dunia luar yang akan ditata secara struktural, sementara pikiran manusia  terstruktur sesuai dengan sistem organik merangkul semua yang terbuka tetapi terbuka. Korespondensi relasional antara struktur kosmis dan mental dengan demikian merupakan prasyarat dasar dari persepsi dan pemahaman manusia.

Dalam filsafat Cina klasik makna kata Cina secara harfiah merujuk pada hati fisik, tidak terbatas pada konotasi yang umum. Tidak seperti definisi Barat, pemahaman metaforis Tiongkok tentang gagasan ini tidak hanya menunjukkan organ ini sebagai pusat emosi, tetapi  sebagai pusat persepsi, pemahaman, intuisi, dan bahkan pemikiran rasional. 

Karena orang Cina kuno percaya  hati adalah pusat kognisi manusia, gagasan xin paling sering diterjemahkan sebagai "hati-hati" dalam wacana filosofis. Pemahaman ini ditentukan oleh tidak adanya perbedaan antara kondisi kognitif (gagasan representatif, penalaran, keyakinan) dan afektif (sensasi, perasaan, keinginan, emosi).

Dalam epistemologi Cina klasik, kesadaran diri setiap orang didasarkan pada pemahaman holistik tentang dunia, yang disusun sebagai hubungan interaktif antara manusia dan alam (tianren heyi);

Kesatuan semua makhluk kosmik dilihat dari segi keutuhan organismik dan dinamis dari alam dan masyarakat. Oleh karena itu, kesadaran diri sebagai dasar dari segala jenis pemahaman berasal dari kesadaran  diri sendiri tertanam secara organik dan terjalin dengan (rasional) struktur kosmik konstitutif tak pasti. Pikiran-hati yang mewakili bagian penting dari kesadaran-diri ini, secara bawaan dilengkapi dengan struktur dasar pengakuan (moral).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
VIDEO PILIHAN