Mohon tunggu...
Bagas Candrakanta
Bagas Candrakanta Mohon Tunggu... Mahasiswa -

SMI - Sopan Mengelaborasi Ide

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Generasi Muda Jepang Berkurang dan Pelajaran untuk Indonesia

3 November 2017   07:31 Diperbarui: 3 November 2017   23:15 6207
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Berita tentang banyaknya penduduk Jepang yang enggan memiliki anak sudah banyak bertebaran di dunia maya. Banyak yang tertarik melakukan penelitian tentang anomali ini. Seperti TheGuardian.com yang melakukan penelitian di awal tahun 2017 yang hasilnya, sekitar 47,2% pasangan suami-istri menyatakan mereka sexless marriages.Angka tersebut meningkat 2,6% dari angka yang didapatkan di tahun 2014. Bahkan di tahun 2004 angka tersebut masih menyentuh 31,9%.

Menurut JapanTimes, pada sensus terakhir, jumlah anak 14 tahun kebawah ialah 15,71 juta. Ini adalah angka terendah sejak 1950. Dalam 36 tahun berturut-turut jumlah anak di Jepang mengalami penurunan yang signifikan. Ratio jumlah anak-anak diantara 31 Negara yang memiliki populasi 40 juta atau lebih, Jepang ada diposisi terendah. Pemerintah setempat pun memperkirakan jumlah penduduk Jepang akan menjadi 88,1 juta di tahun 2065 (sekarang sekitar 127 juta).

Banyak yang sudah membahas alasannya, tetapi penulis mencoba memberikan tulisan yang berbeda. Lantas, apa yang menyebabkan anomali ini terjadi? Dan, yang paling penting, apa pelajaran yang bisa petik dari anomali untuk Indonesia?

Ilustrasi: 123rf.com
Ilustrasi: 123rf.com
|Banyak Hiburan|

Asian Boss, sebuah YouTube Channel,pernah mewawancarai secara langsung kepada penduduk Jepang tentang anomali ini. Mari sempatkan waktu untuk menonton video yang hanya berdurasi 6 menit tersebut. Hasilnya adalah respon yang diberikan penduduk Jepang hampir sejenis, yaitu banyaknya aktivitas di rumah yang menyebabkan malas bersosialisasi. Ketika mendengar respon tersebut, kita pasti menyetujui dalam hati, "iya juga ya", karena kita semua tahu bahwa manga, anime, video game, dan masih banyak lagi jenis hiburan, itu bersumber dari Negeri Sakura. Industri kreatif sangat maju di Jepang. Negatifnya adalah semakin banyak orang yang malas bersosialisasi, karena mereka memiliki 'dunia' yang lebih cocok dan baik. Belum lagi jika kita berbicara tentang virtual girlfriends.

Semua penjelasan diatas mengerah pada satu kesimpulan, yaitu malasnya menanggung tanggung jawab. Karena dengan memiliki anak, bertambah pula tanggung jawab. "If you've children, it'll cost a lot of money and responsibilty. But a lot of people living in Japan don't have that kind of money"Itulah salah satu respon narasumber dalam video tersebut. Banyak masyarakat Jepang yang menikmati masa lajangnya, me time-nya. Bahkan businessinsider mengklaim lebih banyak binatang peliharaan (terutama anjing) dibandingkan anak-anak di Jepang. 

Hal ini semakin menguatkan argumen bahwa mereka ingin menghabiskan uang untuk mereka sendiri. Lebih mudah memberi makan 2 kali sehari dan tidak perlu repot menyekolahkan anjing daripada harus mengurus bayi. Dengan memilki anak, banyak hal yang harus dipertimbangkan dan banyak penduduk Jepang tidak menginginkan itu.  

|Wanita Karir| 

Di Jepang, banyak sekali wanita yang bekerja, dan masyarakatnya mengakui bahwa sulit jika kedua pasangan harus bekerja, apalagi jika mereka memutuskan mempunyai momongan. Di BBC.com, Nobuko Ito membagikan pengalamannya menjadi seorang wanita karir dan seorang ibu di Jepang. Nobuka Ito menceritakan bahwa ia berhenti dari pekerjaan karena satu alasan, yaitu memiliki 3 anak yang masih kecil. "I'd get in the office at 09:00 in the morning, and leave at 03:00 the next morning, and I'd come in on Saturday and Sunday. If you want to keep working you have to forget about your children, you have to just devote yourself to the company. I can't do this, it's impossible." 

Belum lagi jika kita berbicara tentang suami yang jarang sekali membantu pekerjaan rumah, seperti mengurus anak-anak. Faktanya,  para suami di Swedia, Jerman, dan US membantu pekerjaan rumah setidaknya 3 jam per hari, dibandingkan dengan Jepang yang hanya sekitar 1 jam. Mengapa? Karena para suami merasa harus lebih fokus bekerja sekeras-kerasnya atau mereka akan kehilangan pekerjaannya.  Inilah 'kejamnya' menjadi wanita karir di Jepang. Mereka harus mempertimbangkan dengan matang mana yang harus dipilih, karir atau keluarga. Mari mundur sedikit, kembali ke masa remaja. 

Ada seorang pekerja asing di Jepang yang menceritakan pengalamannya di bagian komentar channel YouTube Asian Boss dalam mengencani wanita Jepang. Menurutnya, hampir mustahil untuk mengencani wanita Jepang. Mereka lebih memilih untuk bersenang-senang bersama teman-temannya dan melakukan part-time job.Mungkin tidak ada ya konsep 'malam mingguan di Jepang'. Intinya, mereka 'gila' kerja. Mungkin inilah yang membuat remaja laki-laki Jepang menyerah dalam mengejar cintanya dan lebih fokus pada karirnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun