Mohon tunggu...
Muhammad Irfan Ayyubi
Muhammad Irfan Ayyubi Mohon Tunggu... Mahasiswa

Hanya seseorang yang ingin tidur siang di sebuah kolong jembatan dengan bebasnya

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Hilang

30 November 2020   13:12 Diperbarui: 30 November 2020   13:17 22 7 0 Mohon Tunggu...

Ketika Pono masuk ke dalam, tak ada seorangpun di gubuk kecil itu. Hanya Pono sendiri bersama segala perasaan yang dibawanya. Tak ada Bapak, Ibuk, maupun adik lelakinya. Kemana mereka semua?

Ditanyakannya pada kecoak yang ada di sudut ruangan yang sempat ia temui. Laba-laba yang bertengger tenang pada jaringnya di langi-langit pun tak tahu menahu. Bahkan cangkir berisi kopi yang sisa setengah, atau panci di dapur, atau lukisan-lukisan Bapak di dinding gedeg, mereka semua bungkam.

Tak ada yang bisa menjawab. Tak ada sepatah katapun terdengar. Sekeras apapun Pono bertanya. Mereka tetap tak menjawab. Jangan-jangan mereka semua tuli, tidak mendengarnya, atau berpura-pura tuli.

"He! kalian semua bersekongkol  seperti pejabat-pejabat itu, yang tak pernah mendengar pertanyaan rakyat ya?"

Mereka semua diam. Menatap Pono. Tatapan mereka seakan mengolok-oloknya. Tak ada lagi yang mendengarnya bicara.
Sial. Jikalau semua diam. Pada siapa Pono akan bertanya? Berbicara? Pada manusia? Sebuah kesia-siaan belaka. Mereka sudah tidak bisa diajak bicara. Mereka tidak tertarik pada pertanyaan-pertanyaannya. Mereka cuma tertarik bila Pono bicara tentang desas-desus,  kabar-kabar fenomenal, tentang pertengkaran, atau aib orang lain, atau perkara pahala dan dosa. Hari ini, Manusia terlalu rumit dan tidak bisa lagi diajak bicara. Tak seperti dulu.

"Bahkan pinggiran kota kini telah ikut-ikutan seperti kota mati itu!" Umpat Pono.

Ia berjalan kembali dan terus berjalan. Orang-orang yang dilewatinya bertanya hanya sekedar basa-basi. Lalu sibuk kembali dengan perbincangan mereka. Tak peduli pada pertanyaannya sama sekali. Malah balik bertanya,

"Barangkali Bapakmu kawin lagi?"

"Barangkali Ibumu jual diri?"

"Barangkali adikmu kena tangkap polisi?"

Ia berjalan dan terus berjalan. Melewati Pepohonan rimbun yang cuma bisa menari. Menari bersama angin. Tanpa jawaban yang ia butuhkan. Langit semakin gelap, segelap sanubarinya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x