Mohon tunggu...
Ika Ayra
Ika Ayra Mohon Tunggu... Penulis - Penulis cerpen

Antologi cerpen: A Book with Hundred Colors of Story (jilid 1) dan Sewindu dalam Kota Cerita

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Selamat Jalan Omar, Aku Pasti Mencarimu

23 Juli 2021   09:03 Diperbarui: 23 Juli 2021   13:49 266
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Iya, kukatakan begitu karena terlalu banyak lapisan masyarakat yang merasa terdampak. Tak usah bicara orang kaya yang harus menggadaikan hartanya demi membayar gaji karyawannya. Apalah lagi orang kecil seperti kita, bukan?

Katamu warung ayam penyet bapak terpaksa harus berubah jadi gerobak keliling, meski dengan menu yang sama. Meskipun omset jauh menurun, setidaknya kalian masih bisa bertahan hidup di Jakarta.

Omong kosong! Virus ini sudah mengerjai kita berkepanjangan. Dua bulan yang lalu bapak terpaksa pulang kampung juga. Berusaha menanam cabe di sana. Moga- moga saja bisa menghasilkan.

Aku menutup mataku dengan tangan. Sebenarnya aku berusaha menerima mengapa kau tak menjawab panggilanku akhir-akhir ini. Bahkan akun media sosial mu pun tak aktif. Aneh juga sebenarnya. Padahal biasanya tiada hari tanpa posting di grup foto kesayanganmu. Apa iya kau juga sedang bokek, sama sepertiku saat ini?

Memang pandemi seperti ini sering meruntuhkan digit kekayaan orang-orang tajir, alih-alih manusia seperti kau dan aku.

*

Jam di meja baru menunjuk pukul dua dini hari, saat kulemparkan selimut. Aku mimpi buruk tentangmu, yaa?

Ah, dasar bodoh! Belum tentu kan kau di sana sedang memimpikan aku? Kau bahkan sedang kehabisan kuota, bahkan.

Tunggu. Sepertinya tadi suara chat masuk. Setidaknya aku masih bisa membalas dengan kuota bonus. Dari siapa kira-kira tengah malam begini?

[Ri, buruan kutunggu di rumah sakit. Kabar buruk tentang Omar. Yang kuat yaa...]

Demikian isi pesan pendek dari Vivi. Ah, apa maksudnya?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun