Mohon tunggu...
Ika Ayra
Ika Ayra Mohon Tunggu... Penulis - Penulis cerpen

Antologi cerpen: A Book with Hundred Colors of Story (jilid 1) dan Sewindu dalam Kota Cerita

Selanjutnya

Tutup

Trip Pilihan

Jalan-jalan ke Tepian Mahakam, Yuk!

13 April 2021   07:58 Diperbarui: 13 April 2021   09:00 619
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kantor Gubernur Kaltim (dokpri)

Kurang lebih lima ratus kilometer arah selatan, adalah kampung halaman suami. Kami sempat tiga bulan berada di kota seribu lembah- julukan kota Palu, sebelum kembali lagi ke Tolitoli hingga genap lima tahun.

Menjelang akhir 2009, saya kembali pulang ke kampung halaman dan setahun kemudian melahirkan anak kedua.

Tahun 2016 saya mengajak kedua anak saya menemui kakek dan indok mereka di kota Palu. Saat itu saya sedang mengandung delapan bulan dan ingin melahirkan anak ketiga di kampung halaman suami, sambil suami pulang menemui orang tua dan seluruh keluarga.

Dua tahun kami berada di sana, sebelum mendapat kabar bahwa ibu saya sakit keras. Kami boyongan lagi, pulang ke Samarinda. Kami mengurus surat mutasi sekolah dua anak kami dan berencana menetap saja di kota kayu-julukan kampung halaman saya.

Membaca kisah-kisah dari sahabat Kompasianer, ditambah pengalaman pergi ke beberapa tempat, akhirnya meletupkan rasa cinta dan kebanggaan pada kampung halaman sendiri. Tadinya perasaan seperti demikian terasa biasa saja. 

Pada senin kemarin, suami berkesempatan mengajak saya jalan-jalan keliling kota Samarinda, sambil berbelanja beberapa alat kerja beliau. 

Mencari jalur sepi, menghindari kemacetan lalin menjelang ramadhan (dokpri)
Mencari jalur sepi, menghindari kemacetan lalin menjelang ramadhan (dokpri)
Suami setuju saya mampir sebentar di tepian sungai Mahakam untuk bernostalgia. 

Di masa kanak-kanak, saya dan ibu harus menumpang kapal kecil untuk menyeberangi sungai, pergi ke pusat belanja bernama pasar pagi, atau untuk mengunjungi keluarga di kecamatan lain.

Saat sudah berumah tangga dan mempunyai dua orang anak, saya dan suami kerap mampir ke tepian sungai Mahakam untuk menikmati suasana sore. Selain kami, ada banyak keluarga lain yang juga datang untuk bersantai. 

Sebelumnya, kawasan ini sangat ramai karena dibuka wahana bermain anak. Suasana malam hari, justru membuat tempat ini kebanjiran pengunjung. Pada masa pandemi, keadaan jauh lebih sepi dan wahana bermain anak tampak sudah ditutup.

Tampak tiga ponton bermuatan batubara (dokpri)
Tampak tiga ponton bermuatan batubara (dokpri)
Ternyata puluhan tahun berlalu, pemandangan di sungai Mahakam masih sama. Banyak ponton bermuatan batubara menuju pelabuhan fery. Khas, dan inilah komoditas sumber daya alam kota Samarinda.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun