Mohon tunggu...
Ikhwanul Halim
Ikhwanul Halim Mohon Tunggu... Freelancer - Penyair Majenun

Author of 'The Geek Got The Girl', 'Rindu yang Memanggil Pulang', 'Kafe Pojok & Barista tak Bernama' (Antologi Puisi), 'Terdampar dan Cerita-cerita Lain' (Kumpulan Flash Fiction), '2045' (Kumpulan Cerpen) dan 'Bobo Pengantar Dongeng' (Kumpulan Dongeng Kekinian). Father. Husband. Totally awesome geek. Urban nomad. Sinner. Skepticist. Believer. Great pretender. Truth seeker. Publisher. Author. Writer. Editor. Psychopoet. Space dreamer. https://web.facebook.com/PimediaPublishing/ WA: +62 821 6779 2955

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Kereta Api Hantu

18 November 2021   19:00 Diperbarui: 18 November 2021   19:18 216 24 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Jadi kamu ingin tahu tentang kereta hantu? Oh, kereta hantu selalu melewati Duku pada pukul 4:30 pagi. Tidak selalu juga, karena kereta hantu terkenal tidak dapat diandalkan.

Itulah yang selalu dikatakan Inyiak Intan ketika orang bertanya mengenai pendapatnya. Dia selalu mengaku bahwa dia adalah seorang cenayang yang bisa membaca garis telapak tangan, meramal masa depan dengan kartu domino dan berbicara dengan arwah orang mati. Dia tidak pernah menjawab ketika aku bertanya apakah ada orang mati di kereta hantu. Dia hanya memalingkan muka dan mengubah topik pembicaraan.

Ada satu ketika kita selalu dapat mengandalkan kereta yang lewat dan itu pada malam kereta itu tergelincir, 25 Desember. Cerita di sekitar kota mengatakan itu adalah Marah Salim tua yang hendak menyabotase tentara Nippon. Saat itu tahun 1944 ketika itu terjadi. Mereka mengatakan dia mengelas beberapa batang besi ke rel, semua menyamping dan miring. Mereka mengatakan Sidookaan Miyamoto berbicara dengannya lama dan lantang tentang hal itu tetapi tidak dapat menahannya, dan dia benar-benar menyangkal bahwa itu adalah dia, meski semua orang mengatakan itu adalah dia.

Marah Salim membuat bom, senapan rakitan, dan benda-benda lainnya selama zaman Belanda. Dia adalah seorang tukang las, tetapi kemudian selama perang mereka mengubah pabrik besar, letaknya beberapa puluh kilometer ke arah Sawahlunto. Bagaimanapun juga, mereka mengubah pabrik itu menjadi tempat membuat ban karet. Pabrik karet tidak membutuhkan keahlian seorang tukang las. Marah Salim dipensiunkan. Dia tidak ingin melakukan hal lain selain mengelas. Dia tidak ingin pelatihan baru, menjadi tukang las atau tidak sama sekali. Dia hanya duduk-duduk di rumah loji tua yang besar di dusun, minum tuak dan bir, dan menyumpah serapah penjajah Jepang.

Ketika dia datang ke kota untuk membeli barang-barang, terutama tuak dan bir, dia akan memberi tahu siapa pun di sekitarnya bagaimana perasaannya tentang semuanya. Dia tidak terlalu senang. Aku kira dia membenci semua orang dan dia membenci sawah ladang dan dia sangat membenci Duku. 

Tidak tahu dari mana dia mendapatkan uangnya, aku belum pernah mendengarkan cerita tentang itu. Memikirkan rumah loji tuanya saja membuatku merinding. Keadaannya rusak dan berantakan, tidak ada apa-apa kecuali rumput mati di sekelilingnya. Pohon-pohon mati dan beberapa jendela ditutup papan dan beberapa dihitamkan dengan aspal atau arang atau kertas atau semacamnya.

Jadi orang-orang mengatakan dialah yang melakukannya. Dia mengelas besi tulangan itu ke rel malam itu, dan itu masuk akal. Dia pria yang aneh, pemabuk, sepertinya tidak punya kawan atau orang yang merawatnya. Dan seperti yang kukatakan tadi, dia adalah seorang tukang las. Jadi pada tanggal 25 Desember 1944, kereta itu menabrak batang-batang besi itu dan keluar dari rel. 

Dan karena larinya cukup cepat, semua gerbong saling bertabrakan dan itu adalah bencana besar yang didapat dari besi bengkok dan apapun yang mereka buat dari kereta api. Tentu saja ini terjadi jauh sebelum aku lahir, jadi semua ini datang dari mulut orang kedua atau ketiga.

Setelah kejadian itu, Marah Salim jarang datang ke kota, karena dia memang tak sering datang. Orang-orang jarang melihatnya. Dan ketika dia benar-benar datang ke kota, akan selalu ada beberapa orang yang berani mengganggunya dan meneriakinya, berkata, 'Mengapa kamu melakukannya, Hans? Mengapa kamu melakukannya? Kami tahu itu kamu, Hans,' Itulah nama panggilannya, Hans ... Hans Salim.

Uniku Mutia memberi tahuku bahwa Etek Sofia, ya, Fatimah, tapi kami memanggilnya Sofia, tapi Uni Mutia mengatakan padaku bahwa Etek Sofia adalah salah satu dari orang-orang yang meneriaki Hans Salim dan aku bisa memercayainya. Tetap saja, Hans selalu menyangkalnya secara langsung, dan mengatakan dia tidak akan pernah melakukan apa pun yang dapat menyebabkan kematian orang lain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan