Mohon tunggu...
aulia ujikomap
aulia ujikomap Mohon Tunggu... terus berkarya

tetap semangat

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan

Peran Regenerasi Petani dalam Mewujudkan Swasembada Pangan di Indonesia

23 Mei 2019   00:09 Diperbarui: 23 Mei 2019   00:18 0 1 1 Mohon Tunggu...
Peran Regenerasi Petani dalam Mewujudkan Swasembada Pangan di Indonesia
dok pri

Ketersediaan pangan merupakan hal mutlak yang harus di penuhi sebuah negara untuk kelangsungan hidup dan stabilitas ekonomi masyarakat, hal ini di jelaskan pada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 bahwa "Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya Pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya Pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan".

Indonesia di juluki sebagai Negara Agraris, melihat letak yang strategis dan iklim yang medukung  menjadikan kegiatan bercocok tanam dapat dilakukan sepanjang tahun, selain itu tanah yang subur juga menjadi sebuah keuntungan bagi negeri kita tercinta ini, apakah ini menjamin akan ketersediaan Pangan bagi masyarakat?

Dewasa ini jumlah petani di Indonesia semakin menurun menurut, pusat data dan informasi pertanian 2018 menunjukkan bahwa jumlah petani hanya 30,46% sedangkan Non petani mencapai 69,54% Saat ini kita sedang mengalami krisis petani. Ketersediaan SDA (Sumber Daya Alam) yang melimpah tidak akan berguna jika tidak ada SDM (Sumber Daya Manusia) yang mampu mengelolanya dengan baik.

Ada beberapa masalah yang muncul di petani

  • Usia petani
  • Status pendidikan
  • Kondisi perekonomian
  • Paradigm masyarakat terhadap petani

Berapa Usia petani di Indonesia?

            Miris menurut data kementrian Pertnian 2018 menyatakan bahwa pada februari 2018 usia petani terbanyak yaitu pada usia 60 tahun keatas mencapai 17,90% , sedangkan usia muda antara 15-24 tahun hanya berkisar 11,11%, hal ini membuktikan bawa rendahnya minat usia muda untuk bekerja di dalam dunia pertanian,  mengakibatkan semakin krisisnya SDM di dunai pertanian, ini merupakan permasalahan serius yang harus kita atasi bersama karena tanpa petani akan sangat sulit bagi kita untuk mencapai swasembada pangan di negeri yang subur ini.

Ada apa dengan pendidikan petani kita?

Miris tingkat pendidikan petani di Indonesia masih sangat memprihatinkan. dikutip dari Statistik Ketenaga Kerjaan Sektor Pertanian Tahun 2017-2018 "pada februari 2018 pendidikan petani pada jenjang pendidikan dasar mencapai 86,49% sedangkan pendidikan menengah hingga pendidikan tinggi hanya mencapai 14,23%." Di kutip dari ditjen DIKTI "bahwa jumlah mahasiswa pertanian terus meningkat dari tahun 2010 hingga 2018 yaitu naik sebanyak 64,16% dari 173.158 mahasiswa menjadi 284.259 mahasiswa, DIKTI memperkirakan bahwa pada tahun 2025 akan naik menjadi 536.000 mahasiswa"

Sangat di sayangkan tingginya jenjang pendidikan yang di ampu samakin rendah pula minat seorang sarjana untuk kembali menekuni dunia pertanian yang ia pelajari di bangku perkuliahan, miris mahasiswa pertanian lebih memilih bekerja di perkantoran, dan Bank, karena mereka beranggapan bahwa bekerja di sektor pertanian tidak menjamin kehidupan yang layak dan mendapat penghasilan yang tinggi.

Bagaimana kondisi kuangan petani?

Dikutip dari Kinerja Pembangunan Pertanian 2015-2018 "dalam 5 tahun terakhir tercatat mulai dari 2014 hingga 2018 nilai NTUP (Nilai Tukar Usaha Petani) mengalami kenaikan 5,39% dan nilai NTP (Nilai Tukar Petani) mengalami kenaikan 0,22%. Pertanian memiliki peran besar dalam menaikan kemiskinan Tercatat angka kemiskinan di pedesaan menurun 10,87% dari tahun 2013 hingga 2018 yaitu 17,74 juta jiwa menjadi 15,81 juta jiwa"

Melihat data tersebut dapat di lihat bahwa pertanian memiliki peran fital meingkatkan perekonomian masyarakat terutama masyaraakat desa, namun sangat di sayangkan permainan tengkulak masih menjadi momok menakutkan bagi para petani, bak virus yang menginfeksi sangat sulit untuk di kendalikan, harga yang sangat tidak sesuai dari tengkulak mengakibatkan menurunnya tingkat penghasilan, sehingga petani harus menggali lubang sana sini untuk memenuhi kebutuhan makan, pendidikan bagi anak-anak mereka dan menyediakan segala jenis perlengkapan, peralatan hingga bibit di musim tanam selanjutnya.

Tengkulak memiliki pengaruh besar bagi harga jual produk pertanian, pemerintah harus melakukan langkah tegas untuk mengatasi para tengkulak yang terus menghantui para petani, yaitu dengan menetapkan harga minimum suatu jenis produk pertanian dan mengetahui waktu panen sehingga pemerintah dapat melakukan sosialisasi, sehingga petani tidak di curangi dan petani akan lebih memilih menjual produknya ke pemerintah dengan harga yang lebih baik dari pada ke tengkulak yang harganya sangat murah.

Seperti apa paradigma yang berkembang di petani?

Paradikma yang berkembang di masyarakat terutama petani ini adalah masih banyaknya yang beranggapan petani adalah pekerjaan rendahan, melelahkan, tidak ada untungnya malah rugi, banyak hutang, panas-panasan, selalu berkecimpung dengan lumpur dan sebagainya, lebih baik kerja di kantor, tidak panas-panasan, tidak berkecimpung dengan lumpur/Tanah, dan lebih terjamin kehidupannya. Orangtua yang bekerja di dunia pertanian enggan mengajak anaknya untuk kembali meneruskan usaha pertanian yang sudah mereka tekuni, karena kebanyakan petani mau anaknya hidup lebih terjamin, tinggal di kota yang peradabannya lebih berkembang ketimbang di desa.

Berpengaruhkah regenerasi petani dalam mewujudkan swasembada pangan di Indonesia?

Petani memiliki peran yang sangat penting bagi suatu Negara karena petani mampu menyediakan pangan bagi masyarakat, pertanian adalah sector yang sangat berpengaruh dalam keberlangsungan perekonomian di suatu bangsa, tanpa di pungkiri semua orang butuh makan untuk dapat hidup dan melakukan segala aktifitasnya. Melihat penduduk di Indonesia yang terus meningkat maka kebutuhan pangan akan semakin tinggi. Sehingga Regenerasi petani merupakan permasalaahan yang harus segera di atasi.

Maka dari itu pemerintah harus melakukan langkah tegas untuk mengatasi masalah di atas, dengan memberikan hak-hak petani, yaitu menjamin pendidikan bagi anak petani sehingga dapat muncul generasi-generasi petani yang mampu mewujudkan pertanian berkelanjutan dalam menyongsong swasembada pangan di indonesia, pemerataan pembangunan terutama ketersedian listrik dan jalur transportasi yang mendukung untuk kegiatan pendistribusian dan penjualan hasil panen petani, memutuskan rantai tengkulak yang selama ini selalu merugikan petani, yaitu dengan membuat kebijakan harga minimum dari produk pertanian sehingga tengkulak tidak bisa memainkan harga dan membohongi petani, dan membentuk koprasi kelompok tani yang bertujuan sebagai wadah pemanjangan tangan dari pemerintah dalam membantu petani baik dalam pembantuan modal, pendistribusian bibt, distribusi pupuk, penyuluhan pertanian, penentuan harga jual, sehingga nantinya petani lebih terarah dan tahu gambaran apa yang harus ia lakukan dan menyatukan visi dan misi mewujudkan pertanian berkelanjutan dalam menyongsong swasembada pangan di Indonesia.

Diharapkan dengan di atasinya semua permasalahan yang muncul pada petani dapat merubah maindset masyarakat terutama usia muda bahwasanya pertanian itu penting sehingga meningkatkan minat masyarakat terutama usia muda untuk terjun dan berkecimpung di dunia pertanian sehingga muncul generasi-generasi Emas yang mampu meningkatkan produktifitas pangan, dan menerapkan pertanian berkelanjutan dalam mewujudkan swasembada pangan di negeri yang kaya ini.