Mohon tunggu...
Aulia GitaNaila
Aulia GitaNaila Mohon Tunggu... MAHASISWA

Mahasiswa FISIP UNTIRTA 2019

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan

Politik Indonesia yang Karut Marut

6 Desember 2019   19:29 Diperbarui: 7 Desember 2019   08:34 72 0 0 Mohon Tunggu...

Fanatisme adalah salah satu hal yang sedang gencar gencar nya dikaitkan dengan perpolitikan, fanatisme terhadap politik di Indonesia telah mengakibatkan polarisasi masyarakat, pudarnya kerukunan, dan menguatnya kebencian antarkelompok yang berbeda pandangan. Seharusnya pandangan terhadap politik tidak hanya di lihat dari satu sisi melainkan harus dari berbagai sisi. Lalu bagaimana politik saat ini?

Menurut saya politik di indonesia bukan lagi politik yang damai, bukan lagi politik yang bebas, dan sampai saat ini indonesia belum mencapai negara demokrasi. Mengapa? Bukankah indonesia sudah menganut sistem luber dan jurdil? Bukankah indonesia sudah menetapkan pemilihan umum dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat? Bukankah di indonesia menganut bhineka tunggal ika?

Pertanyaan pertanyaan tersebut memang jawabannya adalah benar, jika dilihat dari kacamata eksternal, namun yang perlu diketahui bahwa jika dilihat dari kacamata internal betapa bobroknya negara ini. Kenapa?

Di mana letak damai nya ketika pemilihan presiden kemarin saja bentrok dan mengakibatkan banyak korban jiwa, damai dalam segi apa ketika masih banyak sebagian dari kita yang masih kemiskinan sedangkan para petinggi negara dengan bangga nya duduk di kursi kehormatan.

Namun dengan kejadian yang ada, siapa yang pantas disalahkan? sampai saat ini banyak dari kami yang masih tidak mengerti dengan sistem yang tidak jelas ini, seakan kita sedang memperkaya orang yang sudah kaya dan membuat miskin orang yang sudah miskin.

Apa sebenar nya yang terjadi saat ini? Seakan semua nya bungkam, isu isu yang seharusnya dipublikasikan justru di timbun oleh isu yang tidak terlalu penting.

Perbudakan, pelecehan, konflik SARA, bahkan perang antar saudara. Semua itu bukan lagi hal yang tabu untuk diperbincangkan. Tanpa kita sadari, kita sudah ada di zonasi itu,dan kita sedang bermain di zonasi itu, tapi kita seolah tidak mau tahu dan seolah takut untuk menyuarakan.

Seperti yang kita ketahui bahwa setiap tindakan yang mengarah kepada pemerintahan akan langsung menerima hukuman tanpa terkecuali. Segala macam bentuk politik selalu menghalalkan segala cara untuk menjadikan kesalahan bagi rakyat kecil, yang salah menjadi lebih salah, dan yang benar menjadi salah. Berbanding terbalik dengan para penguasa

bahkan yang salah justru cenderung dibenarkan, sebagai contoh nya yaitu korupsi bahkan hukuman yang diterima lebih ringan dari pada yang dilakukan rakyat biasa yang mengambil kayu untuk bertahan hidup.

Mereka yang mempunyai uang banyak dan memiliki kedudukan yang tinggi pasti aman dari gangguan hukum atau pasal yang akan dituduhkan. rakyat biasa yang melakukan hal kecil langsung ditangkap dan dijebloskan ke penjara, sedangkan seorang yang mampunyai gelar pejabat melakukan tindakan korupsi menggelapkan uang ratusan juta rupiah dapat berkeliran dengan bebas nya tanpa rasa malu sedikit pun atas apa yang dilakukan, sungguh miris tanah air bumi pertiwi ini.

Setiap manusia mempunyai hak dan keadilan atas diri mereka masing masing baik dari lingkungan dimasyarakat mau pun ditanah air,seperti yg tercantum dalam pancasila sila ke-5 yang berbunyi "keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia". Hal itu sangat jelas bahwa setiap masyarakat berhak mendapat keadilan diri mereka sendiri tanpa terkecuali, tidak pandang bulu, golongan, tahta, kekayaan, orang miskin, orang kaya, disabilitas, penyandang penyandang tuna netra, rungu dan sebagainya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN