Mohon tunggu...
Nok Asna
Nok Asna Mohon Tunggu... Lainnya - Penikmat Senja dan Sastra.

Penikmat Senja dan Sastra.

Selanjutnya

Tutup

Trip Artikel Utama

Menikmati Keindahan Alam dan Peninggalan Prasejarah di Maros

23 Oktober 2018   18:50 Diperbarui: 25 Oktober 2018   07:51 767
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Perjalanan berlanjut menuju Leang-Leang untuk memenuhi rasa penasaran kami tentang peninggalan jaman prasejarah di sana. Setelah membayar karcis masuk, kami menelusuri kawasan Leang-Leang. 

Taman di area wisata Leang-Leang (dok.pri)
Taman di area wisata Leang-Leang (dok.pri)
Kami langsung menuju gua yang pernah dijadikan tempat tinggal oleh manusia jaman dahulu. Satu per satu anak tangga kami naiki. Penjaga gua sedang akan beristirahat sehingga pagar di depan gua dikunci. 

Namun, dia dengan senang hati membuka kembali kunci pagar dan menunda istirahat siangnya. Pagar di depan gua harus dikunci jika penjaga sedang tidak di tempat untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya gua dijadikan sebagai tempat ritual, juga untuk mencegah vandalisme yang membabi buta. Dinding gua sudah banyak yang dirusak oleh ukiran nama pengunjung.  

Gua di Leang-Leang (dok.pri)
Gua di Leang-Leang (dok.pri)
Beberapa lukisan yang konon katanya salah satu lukisan tertua di dunia berbentuk telapak tangan, rusa, dan babi nampak menghiasi dinding gua. Menurut pemandu, lukisan tangan merupakan suatu simbol ritual keagaamaan. 

Lukisan 5 jari dipercaya sebagai penolak bala, sedangkan lukisan 4 jari disimbolkan sebagai bentuk duka yang mendalam. Lukisan babi dan rusa adalah simbol perburuan pada saat itu. 

Kami masuk ke dalam gua lebih dalam. Senter hp kami nyalakan untuk membantu menerangi dalam gua. Terlintas dalam pikiran caranya manusia jaman dahulu masuk ke dalam gua yang kita harus meniti beberapa buah anak tangga. Apakah dahulu mereka pasang tangga juga? Barangkali dahulu bentangan alam di sini berbeda kondisinya dengan sekarang.

Mengunjungi Danau Pasir Putih dan Mencoba Helena Sky Bridge di Kawasan Taman Nasional Bantimurung

dok.pri
dok.pri
Gerimis yang turun pagi tadi sempat membuat kami khawatir. Ternyata sampai kami di Bantimurung matahari masih bersinar dengan terik. Sejenak kami menikmati gemericik air terjun yang membuat pengunjung betah berlama-lama berendam dan bermain air. Nampak juga di beberapa sudut sudah dipenuhi oleh pengunjung yang memanfaatkan waktu libur dengan piknik bersama di Kawasan Taman Nasional Bantimurung.

Air terjun di Taman Nasional Bantimurung (dok.pri)
Air terjun di Taman Nasional Bantimurung (dok.pri)
Derap langkah kaki menaiki anak tangga lagi demi melihat danau Kassi Kebo atau Danau Pasir Putih. Sepanjang jalan, gemericik air menciptakan suara yang merdu berpadu bersama nyanyian kera yang bergelantungan di pepohonan. 

Burung-burung tak ingin ketinggalan dengan mengeluarkan suara yang tidak kalah merdu. Sesekali mata akan dimanjakan dengan kupu-kupu yang hilir mudik memperlihatkan sayap indahnya. Birunya air sungai membuat kami berhenti sejenak untuk menikmati indahnya.

Birunya aliran air sungai dari Danau Kassi Kebo (dok.pri)
Birunya aliran air sungai dari Danau Kassi Kebo (dok.pri)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun