Mohon tunggu...
Asa Rahmadi
Asa Rahmadi Mohon Tunggu... Laki-laki

Mahasiswa Kimia yang nggak kimia kimia banget

Selanjutnya

Tutup

Hobi

Kedai Kopi Trendi, Jangan Malas Mencuci

16 Januari 2020   04:40 Diperbarui: 16 Januari 2020   06:12 12 0 0 Mohon Tunggu...
Kedai Kopi Trendi, Jangan Malas Mencuci
dok. pribadi

Hujan menyambut datangnya pagi, tanda hari harus dimulai meskipun air langit jatuh berderai dan mulai membasahi. Seperti biasa hari begitu cepat berlalu, tiba-tiba langit sudah jingga dan menampakkan senja, kurasa ini hanya kurang kopi saja.

Begitulah awalan yang dibuat oleh anak indie yang mencoba menggabungkan hujan, kopi, dan senja. Berbicara tentang kopi, belakangan ini muncul berbagai macam kedai kopi masa kini dengan nama unik penuh gimmick mulai dari janji hingga hati, puisi, dan ada juga yang menimbulkan kontroversi.

Aku juga sering mengunjungi kedai kopi seperti itu. Membeli salah satu menu, menikmatinya dengan sedotan malu-malu, dan melamun sambil memikirkan sesuatu. Entahlah, aku juga tidak tahu perbadaan rasa kopi, yang aku tahu hanya cara menikmatinya, bisa jadi dengan sambil berbincang atau sambil melihat barista wanita yang rupawan, terserahlah yang mana saja.

Tapi belakangan aku juga memikirkan bagaimana limbah dari kedai kopi ini diolah, apa hanya dengan memasukkannya ke tempat sampah atau ada cara lain yang lebih ramah. Penasaran, aku mulai mencari-cari beberapa anggapan tentang pengolahan limbah ini.

Jawaban yang kutemukan sebenarnya belum benar-benar mengatasi limbah kedai kopi mulai dari yang organik seperti bubuk kopi dan juga yang anorganik seperti bungkus susu, gelas plastik, sedotan, dan banyak lagi lainnya.

Dengan menjamurnya bisnis kedai kopi, maka semakin banyak pula permasalahan limbah kopi yang menumpuk dan belum menemukan celah. Tapi aku pun masih belum juga menemukan cara agar bisnis ini tetap berjalan dan tak ada masalah bagi lingkungan.

Kenapa tulisan ini begitu serius yaa

Masih sulit untuk mengatasi masalah limbah kedai kopi, karena dari konsumen dan produsen masih memiliki pikiran yang sama untuk tidak mau ribet dan mencari jalan yang praktis untuk memproduksi dan mengkonsumsi. Jadi, bisa saja pengolahan limbah makanan khususnya limbah kedai kopi ini hanya menjadi angan, tanpa adanya keseriusan untuk perubahan dari konsumen dan produsen maka semuanya akan sia-sia saja.

Mungkin satu hal yang bisa jadi titik balik agar penggunaan sedotan plastik dan gelas plastik bisa berkurang, yaitu dengan "JANGAN MALAS MENCUCI".

Jika produsen berkomitmen dengan hal ini maka mereka lebih memilih untuk menyediakan gelas berbahan kaca yang bisa dipakai untuk berulang dan mengurangi penggunaan sedotan pula dengan langsung meminumnya dari gelas. Konsumen pun mampu berkontribusi dengan membawa wadah sendiri dari rumah dan mengusahakan untuk tidak menggunakan sedotan.

Saya bingung kenapa tulisan ini jadi serius, padahal hanya ingin bersenang-senang, semoga ada perubahan dari sebelumnya agar mengurangi kemalasan dalam mencuci, terutama pakaian dalam agar terhindar dari rasa gatal pada bagaian vital. Terima kasih.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x