Mohon tunggu...
Aryadi Noersaid
Aryadi Noersaid Mohon Tunggu... entrepreneur and writer

Lelaki yang bercita-cita menginspirasi dunia dengan tulisan sederhana.

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Lelaki Pemikat Punai (8)

1 Januari 2021   18:05 Diperbarui: 1 Januari 2021   19:11 164 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Lelaki Pemikat Punai (8)
Dok. pribadi

Chapter 2 - GAMANG

Sepeda kumbang bermerk Phoenix kukayuh demikian cepat, menembus asap tipis pagi hari. Jalan makadam mengguncang dua roda sepeda naik turun namun tak sedikitpun tuas rem aku tekan. Sepeda berwarna kelabu itu terus melaju.

Arloji analog otomatis pemberian bapak masih melingkar di pergelangan tangan kananku, menunjukkan angka pukul tujuh lewat enam belas menit. Sudah sekian lama aku tak mengayuh sepeda yang kunamakan si 'kelabu', semenjak sekolah menuntaskan semua kegiatan belajar-mengajarnya bagi seluruh siswa kelas akhir. Jika pagi ini  harus pergi ke kota kecamatan tentulah bukan tempat yang jauh menurutku karena saban hari, dua setengah jam kutempuh untuk menuju sekolah di kota Semarang.

Cerita Ayu tadi malam mengusik pikiranku meskipun ibu meminta untuk tak terlalu tergesa menemukan jawaban siapa yang membunuh bapak. Ibu memintaku menyerahkan segala urusan penyelidikan kasus itu kepada kepolisian.

"Serahkan kepada mereka, jangan kau turut memikirkan hal itu. Jika kamu diliputi amarah, tak ada hal yang bisa kamu selesaikan. Sementara ini lebih baik kamu fokus mengurus keberangkatanmu ke Jakarta, hitung kembali uangmu, Jika ibu kembali dapat uang dari penjualan jagung di minggu ini ibu akan tambahkan!" pinta ibu subuh tadi.

"Iya, bu. Aku mengerti tapi cerita Ayu semalam harus kusampaikan pada mereka, sekecil apapun informasi yang kita tahu paling tidak bisa mempermudah penyelidikan mereka,"

"Jadi apa maumu?" kejar ibu.

"Pagi ini aku akan ke kantor polsek," jawabku. Ibu meneruskan membersihkan sisa batu dalam tumpukan beras yang tengah ia tampi.

Tiba di kantor Polsek, si kelabu kusandarkan dibawah tiang bendera. Standard samping yang mestinya menopangnya telah sekian lama rusak karena pegasnya yang melengkung tak elastis lagi.

"Hei mas...jangan ditaruh dsitu! letakan di belakang sana, nanti tempat ini mau dipakai upacara," seorang petugas berseragam polisi tanpa tanda pangkat menghampiri dengan wajah tak sabar. Aku tersentak dan menggeser kembali sepeda dari sandarannya kemudian bergegas menuntun sepeda sesuai arah telunjuk petugas itu sebelum ia menumpahkan kemarahannya.

Tak lama beberapa  polisi  satu persatu menyatu datang dalam barisan dan menghadap ke arah matahari. Upacara awal pagi mereka lakukan sambil menerima pesan yang disampaikan pimpinan mereka.  Seseorang pria paruh baya berseragam putih bercelana hitam berdiri dihadapan, lalu memberikan instruksi setelah salah satu pemimpin regu memerintahkan pasukan untuk istirahat ditempat . Aku terus menyusuri halaman belakang kantor polisi untuk memarkir sepeda.

Ketika aku kembali ke halaman depan kantor, barisan sudah tak tampak lagi. Bunyi mesin ketik pagi itu terdengar keras seolah seperti bel sekolah yang menandakan  pukul delapan telah tiba.

"Anda mau apa?" seorang polisi dengan gelang tali biru melingkar dilengannya menegur sapa.

"Ketemu sersan Rustam pak," jawabku

"Keperluan?" tanyanya singkat

"Ehhhm...mau tanya kasus pembunuhan bapak saya pak,"

"Yang mana?"

"Apakah ada lagi kasus pembunuhan di kecamatan ini minggu ini selain kasus bapak saya?" tanya saya yang membuat polisi itu sedikit merubah mimiknya.

"Kamu ini anak rentenir pasar itu atau anak pemilik kambing?"

"Sendang witir pak," jawabku disambut pandangan yang datar.

"Silahkan duduk disana, nanti saya panggilkan Sersan Rustam," petugas itu menunjuk bangku panjang dibawah sebuah papan tulis.

"Baik pak, terima kasih,"  

Sejak habil dan kabil saling membunuh, peristiwa demi peristiwa  penghilangan nyawa antar manusia selalu tak pernah berhenti. Silih berganti karena kelaparan, keserakahan, kehormatan, kekuasaan bahkan untuk hal sepele macam berebut uang recehan.

"Mas Fatur, ada apa?" sersan Rustam muncul mendekat tampat dimana aku duduk. Aku menyambutnya dengan lekas berdiri dan menyodorkan telapak tangan untuk bersalaman.

Lelaki berumur empat puluhan itu memiliki parut  di pipi kirinya yang memanjang membentuk keloid tipis  yang  nampak jelas  jika ia tersenyum ataupun tertawa. Konon seorang residivis pernah menyerang dirinya dengan pisau dapur ketika ia melerai perkelahian disatu tempat pernikahan  dan pisau itu merobek pipinya demikian cepatnya.

Dalam seragam coklatnya yang nampak presisi bagi tubuhnya yang atletis ia menggerakkan tangannya untuk menyambut salamku.

"Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan, pak," cetusku.

"Nampaknya penting? Soal bapakmu?"

Aku mengangguk lalu menunggu dirinya mempersilahkan  untuk paling tidak mengundang ke meja atau ruangannya. Sejenak saling mematung, Polisi itu melirik pergelangan tangannya.

"Mari ke meja saya, ada waktu sampai jam sepuluh sebelum saya pergi ke desa Randu dampit menyelidiki kasus pembunuhan lain," aku mengangguk mengikutinya. Kuduga ia akan pergi ke tempat pembunuhan rentenir yang baru saja aku dengar. Di tempat kami ada beberapa orang pemilik uang yang berkeliling menawarkan pinjaman dari pasar ke pasar dengan bunga yang jika menurut ukuran normal adalah tidak wajar, tetapi bagi sebagian orang mulai dari pedagang hingga pegawai pasar yang sedang menghadapi kesulitan keuangan tawaran itu cukup menggiurkan. Instan dan tanpa perjanjian apapun uang bisa berpindah tangan cukup dengan menanda tangani buku kecil panjang yang dibawa orang tersebut. Didalam buku tersebut akad pinjam meminjam  dianggap telah terjadi.

Sersan Rustam menarik kursinya lalu mempersilahkan aku duduk. Ia menyeruput kopi hitam dicangkir kaleng berwarna perak. Keningnya berkerut ketika uap kopi panas itu menyapu batas antara kedua matanya. Gelengan kepalanya menandakan betapa ia menikmati setiap seruputan kopi yang melintas lewat kedua bibirnya.

"Pak sersan Rustam. Apakah team kepolisian  sudah menemukan titik terang tentang kasus bapak saya?"

"Sedikit ada perkembangan dari beberapa alat bukti, tapi masih perlu sedikit waktu untuk tahu lebih jauh," jawabnya

"Sudah ditemukan hal-hal baru?"

"Apa maksud kamu?"

"Motif misalnya,"

"Seorang yang perlu uang bisa saja gelap mata untuk melakukan apapun pada korbannya," jawab sersan Rustam.

"Motif apa yang dipunya jika seseorang membunuh korbannya padahal ia tahu korbannya tidak bersenjata?" tanya saya. Sersan Rustam memijit-mijit gagang cangkir kalengnya entah tengah berpikir tentang apa.

"Mengambil kambing ditempat yang sama, dalam waktu berjarak tak terlalu lama. Apakah kira-kira peristiwa beruntun itu tidak mengusik naluri penyidik seperti bapak dan kawan-kawan?" aku meneruskan pertanyaan sambil menatap wajah polisi berwajah parut itu.
Bagi petugas kepolisian kota besar mungkin kerap menangani kasus pembunuhan serupa dalam jumlah yang lumayan sering, naluri penyidikan mereka terasah lewat kasus demi kasus. Namun bagi petugas kepolisian kota kecamatan dengan  kasus terbesar yang ditangani adalah masalah sengketa lahan antara penggarap tanah dengan perusahaan pengelola hutan maka naluri itu harus ditantang lewat adu pemikiran.

"Polres sedang tangani kasus bapakmu, saya hanya menunggu hasil dari mereka termasuk pelacakan lewat anjing pelacak beberapa hari lalu,"

"Bisa saya sampaikan sesuatu?" bisik saya.

"Kenapa tidak," jawabnya.

Lalu aku menceritakan sekian banyak apa yang diceritakan oleh Ayu tadi malam. Perlahan aku menemukan wajah ketertarikan sersan Rustam yang sejak semula ditugaskan menyelidiki kasus pembunuhan bapak ini. Ia mendengarkan dengan seksama tetapi ditengah ceritaku yang meluncur lewat mulut ke telinganya tiba-tiba ia berdiri dan menggenggam lenganku.

"Saya tak bisa mendengar banyak apa yang kamu sampaikan disini karena sebentar lagi saya harus pergi tapi ayo kita keluar sebentar. Diseberang sana ada warung kecil, lebih baik kita bicara disana sebelum saya pergi.

Sersan Rustam menggamit tangan saya seolah menggiring menuju keluar kantor polisi itu dan menyeberangi jalan yang cuma dilintasi satu dua sepeda angin dan sepeda motor. Sebatang bangku panjang terbentang didepan warung kecil yang belum lagi buka.

"Ada apa, sersan Rustam. Kenapa kita kesini?" tanyaku gusar.

"Ceritakan sekali lagi bagaimana ciri-ciri orang yang didengar adikmu Ayu?"

"Yang mana?"

"Yang memerintahkan untuk menghentikan bapakmu!"

Aku mencoba mengingat kembali untuk memastikan apa yang aku sampaikan tak dikurangi atau bahkan dilebihkan.

"Orang itu bersuara parau dengan getaran seperti ada duri yang merobek pita suaranya," sahutku.

"Lalu?"

"Orang lain yang berbincang dengannya menyebut lelaki itu dengan sebutan Romo,"
Sersan Rustam menutup kedua pipinya dengan kedua telapak tangan, lalu tak lama radio yang digantung dipinggangnya berbunyi berisik dengan suara desis yang tak beraturan.

"Sersan Rustam monitor?" suara dari radio itu gemerisik.

"Ya..monitor," jawabnya

"Jam sepuluh harap lukir kelokasi lain, tidak jadi ke Randu dampit. Harap kawal kasus pencurian tadi malam di desa Sambong..ganti!" suara perintah dari seberang sana tetap tak jelas namun bisa dimengerti.

"Roger..dimonitor, perintah siapa, ganti?"

"Jalankan perintah..ini perintah Romo!"

"Siap di copy...siap meluncur,"

Radio itu tetap berisik hingga sersan Rustam menurunkan volume lewat tombol bulat yang bisa diputar kekanan maupun kekiri.

"Maaf mas Fatur Pak kapolsek memerintahkan saya  ke desa Sambong segera. Besok saya akan datang ke rumah mas Fatur," polisi itu memutar tubuhnya lalu berjalan menyeberangi jalan yang mulai melepas debu-debunya. 

"ROMO?" aku bergumam pendek. Debu jalanan tertiup angin, melingkar-lingkar membentuk cendawan.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x