Arnold Adoe
Arnold Adoe Tukang Kayu

Menulis untuk berbagi... Email : arnoldadoe@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Blaise Matuidi, Italia dan Rasisme di Sepak Bola

9 Januari 2018   10:22 Diperbarui: 9 Januari 2018   18:30 1710 3 2
Blaise Matuidi, Italia dan Rasisme di Sepak Bola
Blaise Matuidi, korban terbaru rasis di Italia I Gbr : thelocal

"Sepak bola ialah cara untuk menyebarkan kesetaraan, gairah, dan inspirasi. Itulah mengapa saya bermain sepak bola," -  Blaise Matuidi.

Minggu, 7 Januari 2018.  Gelandang Juventus asal Prancis, Blasie Matuidi berdiri terpaku. Gerak tubuhnya memohon bantuan wasit Giampaolo Calvarese agar segera bereaksi terhadap teriakan rasis yang dialaminya di Sardegna Arena, Cagliari. Calvarese hanya meminta Matuidi untuk terus bermain. 

Matuidi tetap berdiri diam, hingga rekannya Dybala dan Benatia menghibur dan memintanya untuk meneruskan pertandingan. Menarik napas dalam terlebih dahulu, Matuidi akhirnya terus bermain, lebih garang.

"Hari ini saya mengalami rasisme selama pertandingan berlangsung. Orang-orang lemah mencoba mengintimidasi dengan kebencian. Saya bukan pembenci, dan hanya bisa menyesali mereka yang memberi contoh buruk," ujar Matuidi seusai pertandingan.

"Sepak bola ialah cara untuk menyebarkan kesetaraan, gairah, dan inspirasi. Itulah mengapa saya bermain sepak bola,"  tambah Matuidi.

Apa yang dialami oleh Matuidi memang menyakitkan. Apalagi Matuidi sudah mengalaminya untuk kedua kali. Di pertandingan di Verona bulan Desember 2017, Matuidi mendapat nyanyian rasis, Verona akhirnya didenda sebesar 20 ribu oleh Komisi Liga Italia.

Meski Matuidi berusaha dewasa dengan "memahami'  tindakan itu, tetapi tindakan rasis di sepak bola Italia memang sudah berada di level yang tidak ditolerir. Sudah banyak pemain yang mengalami dan meneriakan tindakan rasis yang dialami oleh mereka di tanah Italia.

Pada akhir April, 2016, Sulley Muntari, gelandang asal Ghana yang bermain di Pescara mengalami tindakan yang serupa. Kali ini Muntari bereaksi keras, sesudah wasit tidak bereaksi akan nyanyian rasisme yang dialaminya. Muntari walk out, dan dikartu  merah.

Jauh sebelumnya, pada Maret 2013, ketika AC Milan berhadapan dengan Pro Patria dalam laga persahabatan,  Kevin Prince Boateng,  menendang bola  ke arah tribun, dimana dia mendengar suara aneh yang dinyanyikan setiap kali dia menggiring bola. "Setiap kali menyentuh bola, saya bisa mendengar nyanyian yang diarahkan langsung kepada saya. Itu seperti suara 'buh buh' yang Anda lontarkan kepada binatang," kata Boateng.

Akhirnya Boateng memilih untuk pindah ke Bundesliga, dengan alasan tidak tahan dengan tindakan rasis yang dialami di Italia.

Kampanye dengan slogan "Let's Kick Racism Out of Football" telah didengungkan sejak 1993 lalu, ternyata terus menjadi PR besar yang harus dikerjakan terus menerus khususnya di Italia.

Ada apa dengan Italia, sehingga rasisme terus tumbuh di sana? Sebuah artikel dari The Guardian, berjudul Why is Italia still so Racist? sedikit banyak berusaha memberikan dua alasan di balik rasisme di Italia.  Pertama, Italia adalah negara yang provinsial, terdiri dari banyak provinsi. Mereka berakar pada kekuatan lokal berdasarkan asal provinsi mereka sendiri.

Sisi postifnya adalah budaya dapat terpelihara dengan baik dalam jangka waktu yang lama sebagai sebuah tradisi, namun di sisi lain, penolakan terhadap orang luar, ras berbeda diibaratkan seperti memperlakukan alien yang datang dari planet lain, lebih buruk dari memperlakukan seorang musuh.

Lelucon-lelucon yang berbicara tentang kelemahan orang luar, dianggap sebagai lelucon yang normal bagi seantero negeri. Contohnya, ketika PM Italia waktu lalu, Silvio Berlusconi mengatakan Presiden Amerika Serikat berkulit hitam karena terlalu banyak berjemur. Puncaknya adalah ketika Menteri pertama mereka yang berkulit hitam, Ccile Kyenge dilempari pisang pada Juli 2013.

Alasan kedua adalah adanya warisan fasisme dari Benito Mussolini yang terpelihara hingga sekarang. Rasa keamanan yang terancam dengan datangnya orang dari luar. Bukan itu saja karena fasisme juga dekat paham  selalu merendahkan orang lain. Merasa yang paling hebat daripada ras, atau golongan lain.

Jika ini terus terjadi, maka yang paling buruk adalah Italia tidak akan bisa menerima perbedaan. Perubahan dan perbedaan dianggap sebagai sebuah ancaman atau paling tidak sebuah pelecehan terhadap budaya sendiri.

Namun opini ini menjadi sesuatu yang bisa diperdebatkan. Banyak pihak yang terus membela bahwa Italia tidak seperti itu. Bagaimana bisa negara ini dianggap sebagai lumbung rasisme ketika renaisans yang bernafaskan humanisme, sains dan seni sebagai periode besar yang mengakhiri abad kegelapan lahir di tanah Leonardo Da Vinci dilahirkan?

Italia sejatinya adalah sumber dari keramahan dan keindahan. Tempat dimana gedung opera indah seperti La Scala opera house di Milan San Carlo di Naples, La Fenice Theatre di Venesia, dan arena Romawi di Verona berdiri megah mengiringi suara indah Luciano Pavarotti dan Andrea Bocelli bergaung menyuarakan kesetaraan dan perdamaian.

Hal ini hendak mengatakan bahwa ketika rasisme itu dilakukan oleh sejumlah orang mereka bukan bagian dari peradaban Italia, khususnya ketika keindahan dan keramahan itu tumbuh menjadi bagian sebagai seorang Italiano.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2