Mohon tunggu...
Ari Indarto
Ari Indarto Mohon Tunggu... Guru - Guru Kolese

Peristiwa | Cerita | Makna

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

PR Itu Bukan Monster

28 Oktober 2022   22:04 Diperbarui: 28 Oktober 2022   22:08 170
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sekarang matahari, semakin tinggi.
Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala.
Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
Kita ini dididik untuk memihak yang mana?
Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini
akan menjadi alat pembebasan,
ataukah alat penindasan? (Rendra, Sajak Pertemuan Mahasiswa)

Pekerjaan rumah atau PR yang sering kali kita dengar dalam lingkup pendidikan khas di Indonesia sebenarnya adalah tugas yang berhubungan dengan pelajaran tertentu yang diberikan oleh guru dan akan dikumpulkan dalam pertemuan berikutnya oleh guru.

PR digunakan oleh guru agar seluruh proses pembelajaran yang ditargetkan bisa selesai tepat waktu.

Waktu pembelajaran terbatas sementara materi bertumpuk-tumpuk, menjadi alasan untuk menjadikan PR sebagai satu-satunya cara jitu guru menyelesaikan kurikulum. PR menjadi satu-satu cara untuk menyelesaikan seluruh tagihan seperti yang diharapkan pemerintah. 

Bisa dibayangkan jika sebuah kelas ada 10 bidang studi. Jika semua guru  memberikan PR, maka ada sekian ratus tugas yang harus diselesaikan oleh seorang murid agar ia tidak malu di depan kelas.

Tidak jarang jika PR tadinya dianggap sebagai salah satu cara menumbuhkan minat belajar siswa, membantu siswa untuk mampu mengerjakan ulangan-ulangan yang diberikan guru, pada akhirnya menjadi beban.

Apalagi rasa tidak mau tahu guru hadir dalam proses pembelajaran. Guru ini memberikan PR dan besok harus selesai. Guru itu memberikan PR dan lusa harus dikumpulkan.

Guru lain memberikan PR dan dikumpulkan secara online. Jika kondisi ini masih terjadi, rasanya memang PR bukan menjadi alat pengembangan karakter melainkan sebuah bentuk hukuman dari guru, bahkan sekolah. Siswa terus merasa sebagai pesakitan. 

Bertumpuk-tumpuk Tugas Menunggu

Guru dan PR sepertinya dua hal yang tidak bisa terpisahkan. Bahkan,  tidak ada guru tidak ada PR  rasa-rasanya hanya cerita semu. Tidak jarang bahkan mungkin sering terjadi, suatu hari tidak ada guru di kelas tapi tugas kelas dan PR sudah menunggu seperti selalu merindu kepada para siswa. Tidak salah, PR seolah menjadi masalah seperti halnya pengantin baru yang dimadu.

Ketika terdengar berita nun jauh di sana, bahwa siswa akan terbebas dari PR. Lalu, sesungguhnya apakah ada yang salah dengan PR. Benarkah PR dianggap semacam monster yang menakutkan, menindas siswa, menumpulkan prestasi siswa, menghukum karakter siswa, bahkan membuat kegembiraan anak-anak terenggut, sehingga PR harus dikurung dalam lubang yang paling dalam sekalipun. Apakah benar PR menindas siswa hingga tertekan dan tak merasakan kegembiraan di masa anak-anak?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun