Mohon tunggu...
Arief Budimanw
Arief Budimanw Mohon Tunggu... Konsultan - surveyor

rumah di jakarta..

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Mana yang Kamu Pilih: Pemimpin Marah-marah, Pemimpin Menangis, atau Pemimpin Ngumpet?

2 Juli 2020   00:16 Diperbarui: 2 Juli 2020   00:16 261
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Suasana pantai Ancol yang sebentar lagi akan berubah, foto dokumen pribadi

Ketika sebuah rencana tidak berjalan baik kita pasti kecewa, dan kemudian memakai rencana  B. Dan ketika rencana B gagal  kita pasti mulai dengan rencana C. Dan ketika gagal lagi , kita pasti akan menggunakan rencana lain, namun ketika semua usaha kerja keras menghasilkan kegagalan lagi apa yang harus dilakukan? 

Minta tolong bukan, namun  ketika orang-orang yang diharapkan membantu malah menyalahkan dirinya, kenapa begitu? Kenapa  tidak begini? Ditambah lagi ketika orang-orang yang ditolongin bukannya berterima kasih malah nyinyir menghinanya, maka safety off, kunci pengaman lepas. Semua perasaan yang ditahan selama ini akhirnya tumpah.

Ketika walikota Surabaya Risma bersujud dan menangis di depan para dokter terlihat jelas bagaimana seorang ibu yang sudah berusaha sekuat tenaga melindungi warganya, anaknya , namun gagal dalam menghadang covid19. Segala daya dan upaya dikerahkan namun semua terbentur oleh kerasnya penolakan para dokter di rumah sakit. 

Semua rencananya berantakan karena mobil dan peralatan yang sudah dia siapkan malah diambil dan dipindahkan ke kota lain. Sujudnya bu Risma adalah sebuah keputusasaan dan pengharapan kepada para pengambil keputusan diatasnya. Para dokter dan gubernur sebagai pengambil keputusan akhir ternyata lebih kuat daripada seorang walikota. Nelangsa itu kata yang paling pas untuk perasaan sang walikota saat itu.

Kemudian di level yang lebih tinggi, seorang presiden suatu negara besar. Di awal pandemi menyerang  depok  langsung bergerak , gugus tugas dibentuk. Uang trilyunan disiapkan. Keputusan-keputusan penting dibuat,  kemudian semuanya  langsung cepat. Angka positif covid19 bergerak naik secara konstan. Namun apa yang terlihat hasilnya setelah 3 bulan. Dari yang biasanya hanya puluhan perhari menjadi ribuan perhari positif covid19.  

Uang  yang disediakan  seakan tidak berarti. Setelah dicek ternyata  baru dipakai dibawah 10 persen. Lah jadi selama ini para menteri dan tim gugus tugas bekerja seperti biasa.  Rasa krisis tidak ada. Akhirnya pecahlah semua dalam suatu rapat. Wajar marah. Uang segunung tidak digunakan maksimal. Ibarat perang, menghadapi serbuan musuh bersenjata senapan mesin dilawan  dengan batu dan pisau dapur. Peluru dilawan dengan pisau. 

Dan akhirnya hanya diam didalam benteng, menunggu mati. Uang yang bisa ditukar dengan peralatan perang yang mumpuni hanya digunakan untuk membeli beras dan mie instan sebagai persediaan selama bertahan dari kepungan musuh. Padahal musuh sudah menyusup jauh ke tempat tidur kita.

Kota ibukota  Jakarta saat ini stabil, banjir secara berkala berkunjung mengetuk pintu-pintu rumah mereka yang tinggal di bantaran sungai tidak peduli lagi wabah atau tidak. Kasus covid19 bertambah dengan lancar, angkanya stabil dalam ratusan tiap harinya.  CFD yang tidak jelas gunanya saat pandemi diselenggarakan agar warga Jakarta senang.  Jika angka covid19 semakin tinggi  tenang saja,  pusat pasti tidak akan tinggal diam. 

Bantuan sosial dari pusat toh sudah lancar diberikan pada yang berhak. Para ketua RT sudah diberikan hak untuk mengatur jika ada masalah. Semuanya aman terkendali.   Jikapun ada  rongrongan demo di depan gedung DPR itu urusan polisi dan demo yang menuntut PPDB  diulang  karena menggunakan umur sebagai patokan , semua langsung diserahkan pada yang buat masalah, kepala  Disdik DKI Jakarta, karena dia yang mengeluarkan SK nomor 501 tahun 2020, biar dia yang tanggung jawab. 

Jangan tanya dimana gubernurnya , dia sedang sibuk kerja. Mana buktinya? Lihat saja tuh ke laut .  Pembangunan sudah bergerak sampai jauh ke tengah laut, keputusan sudah ditandatangan sehingga  jangan kaget kalo tiba-tiba  Ancol berlipat-lipat luasnya. Kalau suasana sudah pas  nanti  pasti akan konferensi pers.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun