Mohon tunggu...
Arief Bakhtiar D.
Arief Bakhtiar D. Mohon Tunggu... pelajar/mahasiswa -

Twitter: @AriefBakhtiarD │ Instagram: @AriefBakhtiarD │ Goodreads: AriefBakhtiarD

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Narasi

17 Mei 2016   11:09 Diperbarui: 17 Mei 2016   11:27 23
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

SEPERTI puisi atau slogan, cerita adalah bagian dari komunikasi dan aksi. Atau yang paling mengerikan, ia bisa ambil peran dalam balas dendam dan pembunuhan.

Dalam Quran yang populer adalah kisah Habil & Qabil. Dalam Kitab Hakim-Hakim, kita membaca Samson & Delilah.

Samson, dengan otot kuat dan kokoh, dengan badan gempal, dengan rambut panjang yang tak pernah dipotong sejak lahir, bukanlah tandingan bagi siapa pun. Diceritakan bahwa ia bisa mencabik-cabik singa jantan muda tanpa senjata dengan mudah. Ia bisa membongkar pintu gerbang Gaza yang besar, dan membawanya mendaki  ke bukit Tell al-Muntar. Saya, kita, tak pernah tahu asal-usulnya. Tapi ia hidup di Gaza, dan dalam suatu risalah disebut-sebut tokoh pembebas bangsanya dari penindasan orang-orang Filistin.

Orang-orang Filistin—ya, orang-orang itulah, yang saat ini dipercaya sebagai orang-orang Palestina, yang dianggap sebagai penindas para keturunan Yakub. Dalam kitab itu, Samson dan segala kekuatannya adalah bahaya besar para elit Filistin. Maka kita kemudian tahu cinta Samson kepada Delilah, seorang gadis Filistin yang diutus menjebak Samson. Pada suatu kesempatan, seperti galibnya lelaki yang takluk dan sepenuhnya percaya di tangan wanita, Samson berbicara mengenai kekuatannya, rahasia terbesarnya, seperti tertulis dalam Kitab Hakim-Hakim Bab 16: “Rambutku tak pernah dicukur karena aku seorang nazir Yahweh, aku dikuduskan bagi Yahweh sejak masih dalam kandungan ibu. Maka, apabila rambutku dicukur, aku akan kehilangan kekuatanku dan akan menjadi lemah seperti orang lain.”

Dari pengetahuan itu Delilah segera melakukan aksi: ia meminta Samson tidur di pangkuannya, dan tak teramat lama setelah Samson tertidur, seseorang memotong tujuh helai rambutnya.

Demikianlah orang-orang Filistin menjebak Samson, memenjara, mencungkil mata, dan menaruhnya di suatu gedung di antara dua tiang raksasa. Ia menjadi tontonan, bahan tertawaan. Ia barangkali tak percaya lagi cinta. Tapi dalam tragedi itu Samson tak ingin menjadi korban seorang diri. Dengan bantuan seorang anak ia menyentuh tiang raksasa. Dan betapa muskil untuk meruntuhkan gedung, tapi Yahweh memberkati Samson buat terakhir kali: tiang itu digoyangnya keras-keras dan gedung itu runtuh. Samson memang mati, tapi riwayatnya terhenti bersama orang-orang Filistin yang ada di dalam gedung—sesuatu yang untuk itulah ia hidup: menghancurkan penindasan bangsa Filistin.

Mungkin dengan cerita itu pandangan orang-orang Yahudi saat ini terbentuk, saat kita melihat radikalisme dan ekstrimisme di Palestina. Saya tak tahu benar keterkaitan darah orang-orang Filistin dalam cerita Samson dan orang-orang yang kini hidup di Jalur Gaza, atau Tepi Barat, atau Yerusalem. Tapi keterpautan, dalam kitab itu dan kisahnya dengan masa kini, bisa jadi pada mulanya masalah tafsir. Tafsir sang aku adalah perspektif, atau lebih tepatnya seleksi, terhadap “realitas”.

Sejarah menyusun peta waktu, membacakan hidup dan dunia pada manusia. Tapi kapasitas manusia, melalui kisah, alam, benda-benda, puisi, sudah sejak lama tidak mustahil untuk melahirkan penindasan. Kisah jadi hidup, jadi semangat untuk berbicara, berdaya, dan bertindak lebih banyak. Di situ ada kekuatan yang saling mempengaruhi bersama, seperti telah saya sebut di atas, seleksi sang aku terhadap “realitas”. Di sinilah kita dapat sepakat ada “narasi” dalam definisi Lukács saat ia bicara mengenai sastra: obyek jadi hidup sepanjang terpaut dengan kenyataan.

Kekuatan “berdaya” dari kisah itu, atau sastra sebagai bagian umumnya, yang agaknya membantu kita menjelaskan kekhususan ketakutan Mao pada drama. Seperti kita tahu, Mao membatasi, sebagaimana dalam hal tata kesadaran dan tingkah laku rakyat Cina, praktek-praktek seni dan sastra. Di awal-awal Revolusi Kebudayaan, bulan April 1963, Mao resmi melarang semua drama hantu. Genre hantu ini punya ciri yang khas: ia biasanya mengingatkan akan cerita-cerita “pembalasan dendam oleh roh-roh korban terhadap orang yang membunuh mereka”. Hantu-hantu penuntut balas itu yang mungkin dibayangkan Mao sebagai “musuh kelas” yang dibunuh karena perintahnya. Para dramawan pun disebut “pejabat borjuis reaksioner”—kategori baru “musuh kelas”.

Sebelum itu, dalam diri Marx—yang dikagumi diantaranya oleh Mao sejak menjadi pustawakan, dan pikirannya menjadi salah satu kekuatan paling penting di abad 20─ada pengaruh-pengaruh dari lakon Prometheus Dibelenggu karya Aeschylus. Di tahun 1841, saat itu ia 23 tahun, Marx mengutipnya dengan cukup serius dalam naskah disertasi doktoralnya. Kita tahu mitologi itu: Prometheus, makhluk setengah manusia setengah dewa, mencuri api dari Zeus, yang disebutnya “Bapa”, di Olympus. Api itu diberikan kepada manusia. Dan Prometheus pun dibelenggu di batu karang, dihukum dengan elang besar yang merenggut dan mencabik-cabik hatinya, yang selalu tumbuh kembali, berulang kali.

Dalam lakon itu Marx percaya Prometheus adalah simbol “martir paling mulia dalam sejarah filsafat”, memperoleh keyakinannya akan posisi manusia sebagai pusat dan pembangun dunia, “individu-individu yang hidup”.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun