Mohon tunggu...
Ari Budiyanti
Ari Budiyanti Mohon Tunggu... Membaca, menulis, mendongeng, dan berkebun menjadi kegiatan-kegiatan menarik yang tak henti-hentinya mengisi hari-hari saya. Mari terus menginspirasi sesama dalam karya kita. Salam literasi.

Suka: membaca, mengoleksi buku, menanam bunga, menulis puisi dan kisah lain, mendongeng, dan mengajar.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Rahasia Hati (Rahasia Cintaku Selamanya)

2 November 2019   06:00 Diperbarui: 2 November 2019   16:39 0 17 4 Mohon Tunggu...
Rahasia Hati (Rahasia Cintaku Selamanya)
Photo by Ari. Keindahan Zinnia yang penuh rahasia

Dia, menulis puisi cinta lagi. Apakah dia sedang jatuh hati pada seseorang lagi? Mengapa mudah sekali baginya jatuh hati? Dulu masih sering dia kisahkan padaku, tentang segala rasa cintanya. Apakah dia tak pernah merasa, kalau aku mengaguminya sejak lama. Aku sungguh memendam rasa padanya. Benar, dia tak akan pernah tahu. Sikapku yang dingin, cenderung tidak berusaha menyapanya. Membiarkan kisah perjalanan persahabatan kami tergantung cara dia mengajakku bersikap. 

Tak bisa kupungkiri, ada rasa sungkan terkadang setiap dia bercerita kisah cintanya padaku. Aku kesal, marah pun sebal. Namun dia tak merasa. Aku selalu menjawab setiap dia bercerita. Hanya alakadarnya jawabanku. Kadang aku pikir apa dia tak punya teman lain untuk berkisah rasa yang dia miliki. Mengapa selalu dia ceritakan semua padaku.

Aku berusaha menepis semua rasa kecewaku, cemburuku, rinduku dan semua cintaku padanya. Hampir 10 tahun tak bersua. Namun aku masih memantau hidupnya melalui media sosial. Jarak kami terpisah sangat jauh. Dalam rentangan dua benua yang berbeda. Sangat jauh. Namun mengapa tak pernah bisa hatiku mencintai yang lainnya. Hanya dia saja  selama bertahun -tahun, sejak masa pertama aku mengenalnya di kampus. Saat kami terlibat aneka kegiatan kampus bersama. Aku selalu mengaguminya. Aku hanya bisa menjadi salah satu teman saja baginya.

Dia sangat baik hati pada semua teman, pun kepadaku. Dia juga murah hati, suka memperhatikan dan mempedulikam orang lain. Meski aku tahu pasti, dia juga banyak kebutuhan lainnya tapi dia tak bisa mengingkari hatinya yang selalu ingin membantu sesama. Itulah yang menumbuhkan benih-benih cintaku padanya. 

Namun tahun-tahun berlalu, aku masih berteman dengannya. Aku masih berdiskusi dengannya aneka tema. Sampai aku jengah dan bosan mendengar curahan hatinya tentang kisah cintanya. Tentang pria yang singgah di hatinya. Meski dia berulang kali patah hati sebelum dia menyatukan cintanya. Aneh buatku. Patah hati berulang kali pada rasa yang dia rasa sendiri. Kadang kupikir apa ini karma baginya karena terus mengabaikanku. Ah masa begitu. 

Apa itu cinta sehingga bisa menetap lama di hatiku. Tak sedikit wanita-wanita lain yang kukenal. Mereka pintar, cantik, baik dan juga tertarik padaku. Namun seberapapun aku berusaha menyukai wanita lain tak pernah berhasil. Sekalipun, tak pernah beranjak rasaku padanya. Dia seolah telah mengurungku dalam pesona hatinya.

Tahukah? Dia tidak pernah lupa mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Dia tak lupa memberiku ucapan selamat di hari raya yang kurayakan sesuai keyakinanku dan keluargaku. Sungguh semua itu semakin seolah menjerat semua rasa dan perhatianku padanya semata. 

Pernah aku marah padanya sekali dan aku menyesali kini. Sesopan mungkin aku katakan padanya untuk berhenti menceritakan berbagai kisah cintanya. Aku hanya memberikan alsama klise, itu berbahaya bila terlalu terbuka di media sosial. Secara kami tak pernah bersua sudah sangat lama. Jalinan persahabatan kami hanya melalui pesan singkat di media sosial. Meskipun itu private hanya bagi kami berdua. Namun siapa yang bisa jamin, semua bisa dengan mudah mungiin dibaca pihak lain. Aku hanya tak mau membahayakan dia saja. 

Namun alasan utamanya aku cemburu. Sudah lelah aku menjadi seorang yang selalu menjadi tempat dia berbagai perasaannya namun ternyata tak pernah padaku rasanya tercurah dana ku marah. Sungguh aku cemburu. Semua tersimpan rapi rasa itu dalam kalbu. 

"Maaf Vira. Apakah tidak sebaiknya kisahmu kau ceritakan saja pada temanmu yang ada dekat di sana. Bicara secara langsung. Tidak melalu pesan di media sosial begini. Terlalu berbahaya untukmu."

Aku mencoba memilih bahasa sehalus mungkin. Dan dia langsung minta maaf padaku. Merasa menyesal selama ini dia merasa menggangguku dengan semua kisahnya. Dan bisa membahayakanku juga dengan membaca pesan-pesan darinya. "Angga, maaf ya." Tak lagi kubalas pesannya. Dan itu menjadi awal mula berakhirnya semua kisahnya. Semua kisah hidupnya tak pernah muncul lagi sebagai pesan-pesan pribadi antara aku dan dia. Sedih, sedikit terasa. Namun ku alihkan semua rasaku pada tugas pekerjaanku di sini. Bertahun-tahun aku bekerja di benua yang lain. Tak pernah aku dengan sengaja menyempatkan waktu menemuinya jika aku pulang ke benuaku. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x