Mohon tunggu...
Apriliansyah
Apriliansyah Mohon Tunggu... Penulis

Jurnalis dan pecinta fotografi

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Ketika Malam Memelukmu Kembali

26 Juli 2020   02:43 Diperbarui: 26 Juli 2020   08:52 44 4 0 Mohon Tunggu...

  

Sekuat-kuatnya mempertahankan sesuatu yang belum menjadi milik kita pasti akan berakhir dengan kehilangan. Demikianlah luka kembali terasa oleh sebuah kepergian ketika aku sedang mencintai perempuan dengan seutuhnya dan sepenuhnya.Aku meyakini sesuatu yang telah pergi kemudian kembali tidak akan pernah sama. Karena rasa tidak pernah berdiri sendiri pasti bertumpu pada sebaris kenangan. Selama lelaki pandai besi dengan rambut terurai hingga ke punggung tersebut terus merayu malammu, maka dirimu tetap menjadi abu-abu untukku.

Padahal, aku telah mencoba untuk menjadi cahaya namun keadaan terpaksa menjadikan aku hanya sebatas bayang-bayang.

Bila hanya menjadi debu, mengapa selama ini aku berani melawan angin, walaupun akhirnya terbang dan terbuang darimu.

Kau tetap memilih malam, sehingga aku mengembalikanmu dengan air mata . Padahal telah beratus kali aku katakan saat ini malam tidak memberikan apa-apa. Sebab ketika malam merangkak pagi, harapan hanya seumpama kunang-kunang indah bercahaya namun sejenak. Atau seperti seekor kupu-kupu kehilangan sayapnya tertatih untuk terbang.

Malam hanya menjadi ruang kosong. Lihatlah ketika adzan subuh menggema. Wajah-wajah layu mulai terlihat bersanding dengan merah gincu yang luntur disapu lengan baju. Sangat nisbi sekali.

"Tidak, setidaknya kamu harus tau aku ini siapa dan di mana tempat kamu pertama kali mengenalku dulu," ucapnya ketus.

"Sudahlah, jangan dibahas, aku sudah biasa memelihara sakit hati," jawabku menenangkan.

Aku memanggilnya, Selly, namun rekan-rekan  di tempat kerjanya memanggil dia dengan nama Cindy. Perempuan yang memiliki dua tahi lalat di sudut mulutnya. Menandakan dia perhatian  dan penyayang bukan judes atau sebaliknya.

Selly bagiku adalah perempuan berpayung kenangan. Terpaan badai kehidupan telah dilaluinya. Kehilangan dua permata dalam hidupnya pun menjadikan dia pribadi yang tidak mengenal kata menyerah. Namun ia pintar mememelihara kenangan. Kenangan yang sebenarnya cukup memilukan jika diceritakan.

Sekian tahun, ia mengarungi kehidupan dengan sendiri. Siang menjadi malam, malam menjadi siang. Ia besar dalam asuhan rembulan.

"Kamu terlalu egois, kalau seperti ini caramu mencintaiku salah, kamu terlalu curiga memikirkan apa yang tidak pernah aku lalukan. Itu sama saja menyiksa dirimu sendiri," ujarnya.

Ia menasihatiku, sebab dua pekan terakhir ini aku selalu curiga berlebihan kepadanya terkadang emosiku naik turun.

"Aku bukan mengekang tapi tolong mengerti dan hargailah aku. Aku menjalani hubungan dengan hati dan rasa cinta," kataku.

"Aku tahu rasa cinta kamu, rasa sayang kamu ke aku, perhatian kamu tapi tolonglah mengerti aku dan percaya kepadaku kalau tidak ada rasa saling percaya untuk apa menjalani hubungan selama ini artinya kamu tidak juga paham dengan pribadiku," balasnya.

Malam itu, kami bertengkar hebat, ia memintaku untuk mengerti apa yang menjadi kemauannya. Tapi aku masih belum bisa menerima. Dan mungkin berat untuk menerimanya.

"Jadi mau kamu apa sih dan bagaimana dengan hubungan ini. Ayo jawab aku mau dengar sekarang juga," pintanya.

"Kamu egois. Aku lelah jika seperti ini terus, setiap hari bertengkar persoalannya itu-itu saja. Mending mikir soal masa depan, begini - begini harusnya," tambahnya.

Matanya berkaca-kaca, napasnya naik turun. Selly menangis disekanya air mata yang jatuh namun tetap mengalir deras.

"Aku sudah memperjuangkan dan mengorbankan semuanya tapi mesti seperti inikah caramu membalasnya. Kamu lihat apa yang menjadi cita-cita aku dengan kamu selama ini. Kamu adalah harapan aku kamu masa depanku," jawabku.

"Tapi setidaknya kalau belum bisa memenuhi semuanya kamu jangan mengekangku, mantan ku dulu tidak seperti ini biarpun dia keras dan pecemburu," balasnya.

Ia tetap mengajakku untuk memahami apa yang menjadi maksud dan tujuannya sehingga bisa kembali kepada pelukan malam.

"Sudahlah tidak ada yang bisa mengerti perasaanku membuat aku agar tenang sedikit saja tidak bisa stress aku seperti jadi meriang mau demam," keluhnya.

Aku sebenarnya memahami apa yang menjadi kemauannya. logikaku memang menerima tetapi hatiku belum. Sulit memang, karena laki-lakinya mana yang merelakan jika orang yang paling disayangi harus kembali mengulang masa lalunya.

Aku meyakinkan dia untuk mengerti, bagiku mencintai dan jatuh cinta tidaklah mudah. Aku sudah akrab dengan sakit hati dan kecewa. Memeluk janji palsu lantas pergi ditinggal ke pelaminan, pilu bukan ? Maka ketahuilah ketika aku sedang jatuh cinta maka aku sedang benar-benar jatuh kepadamu.

"Aku senang mendengarmu untuk tidak kembali ke malam, aku menguatkan "azzam" mu itu. Sehingya aku kerja Bantingtulang, kepala jadi kaki, kaki jadi kepala rasanya berbunga-bunga hatiku, tapi mengapa pilihan mu berubah saat ini," ucapku.

Aku kembali melanjutkan pembicaraan.

"Tetapi jika pilihanmu memang seperti ini, aku belajar untuk membuang egoku dan menerima kemauanmu, Oke aku sudah komitmen jadi tidak ada yang perlu dibahas lagi, aku terima" tambahku.

Raut wajahnya masih belum menunjukkan tanda percaya. Ia juga mungkin sadar tidak mudah bagiku untuk menerimanya kembali kepada malam.

"Kamu ikhlas, tapi kamu tetap sayang kan sama aku. Jangan khawatir aku akan menjaga hatiku untukmu percayalah," lirihnya.

Tibalah pada suatu malam, ia memoles tepung bedak, menggores alis matanya dengan celak hitam, dipolesnya pula merah gincu di kedua bibirnya. Rambutnya dia luruskan berkali-berkali. Ia bersiap diri.

Aku hanya terdiam saja, melihat pemandangan yang mematahkan segala harapan dan asaku. Aku mencoba menguatkan diri dan memilih pergi, mencari tempat terbaik untuk menangis.

Menjelang subuh, ia memanggilku sembari berlari, tangan kanannya menggenggam sekuntum bunga mawar yang dikemas romantis dalam plastik bening.

"Ini mawar untukmu, maaf lama menungguku keluar pulang," katanya.

"Apa-apaan ini, buang saja buat apa jangan dibawa," pintaku.

"Tidak, mawar ini sengaja aku bawa pulang, agar ia tidak menghiasi orang lain, tapi tetap menghiasi hari-harimu," balasnya.

"Mawar penghias malam," ucapku.

"Bukan, ini mawar penghias masa depan kita, karena aku tidak akan menukar pelukanmu dengan pelukan malam, selamanya aku janji, ini yang terakhir." jawabnya manja.






VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x