Mohon tunggu...
Eka Ayu Prihartini
Eka Ayu Prihartini Mohon Tunggu... Hai, perkenalkan saya Eka. Selamat datang di Blog saya dan selamat menikmati tulisan yang saya buat.

Masih pemula dalam blog, mari berikan saran dan kritik yang membangun. Salam Kenal dan Salam Literasi

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Arah Perekonomian Indonesia, dan Respon BI di Tengah Pandemi Covid-19 yang Tidak Kunjung Usai

1 April 2020   19:51 Diperbarui: 1 April 2020   20:16 389 0 0 Mohon Tunggu...

Fenomena penyebaran pandemi Covid-19 hingga saat ini tidak kunjung usai, dengan jumlah pasien kasus corona di dunia hingga mencapai 861.113 kasus per hari ini yang bertambah hampir 72.000 dari hari sebelumnya. 

Dan dari sekian 861.113 kasus yang positif terinfeksi wabah virus corona atau Covid-19, sebanyak 42.385 di antaranya meninggal dunia dan 178.560 telah dinyatakan sembuh. Bermula dari Kota Wuhan, Tiongkok, Cina hingga menyebar ke negara-negara lainnya mulai dari negara berkembang hingga negara maju. 

Dampak yang dihasilkan dari virus corona tidak hanya meresahkan pada keselamatan nyawa manusia, disamping itu membawa dampak lainnya yang berimbas ke berbagai aspek yang seakan-akan saling mengikat menjadi satu kesatuan yaitu perekonomian.

Terguncangnya perekonomian global akibat pandemi Covid-19, dampaknya turut dirasakan secara regional. Sehingga menempatkan banyak negara di dunia menghadapi trade-off antara keselamatan nyawa (kesehatan) masyarakatnya ataukah menyelamatkan kondisi perekonomiannya terlebih dahulu yang turut berisiko terancam juga. 

Akan tetapi, ketika kita mengandaikan kombinasi antara ekonomi dan keselamatan nyawa masyarakat (kesehatan) kedalam kurva possibility production frontier (PPF) mungkin pada kondisi normal bisa mengorbankan sepersekian persen dari salah satunya untuk mendapatkan jumlah yang lebih besar diantara ekonomi atau kesehatan. 

Tetapi karena terdapat faktor pengganggu pada kondisi saat ini yaitu pandemi Covid-19 tidak memungkinkan bagi negara atau pemerintah hanya memilih untuk mengutamakan salah satu diantara keduanya. Sehingga pemerintah berada pada posisi yang sulit untuk memilih.

Negara yang turut terkena dampak dari virus corona yaitu Indonesia. Menyebarnya virus corona atau Covid-19 berdampak secara signifikan terhadap perekonomian Indonesia, dimana aktivitas perekonomian dalam lingkup nasional  maupun internasional menjadi terganggu sehingga perekonomian kian melemah. 

Melemahnya perekonomian turut berdampak pula pada kurs (nilai mata uang) rupiah yang semakin terdepresiasi. Per hari ini saja kurs rupiah melemah hingga level Rp 16.403 per Dolar Amerika Serikat, penyebabnya tidak lain karena potensi perlambatan ekonomi dan fokusnya semua negara untuk menangani virus corona atau Covid-19.

Bagaimana tidak berpotensi terjadi perlambatan ekonomi, melihat kondisi yang tengah mengkhawatirkan seperti saat ini. Dimana Covid-19 mengancam keselamatan nyawa (kesehatan) masyarakat, sehingga mau tidak mau pemerintah harus memutuskan kebijakan yang dapat memitigasi penyebaran Covid-19 seperti yang banyak dilakukan oleh negara lain yaitu lockdown dan social distancing. 

Walaupun Indonesia saat ini masih belum menerapkan kebijakan lockdown sepenuhnya tetapi lebih kearah karantina wilayah. Dari kebijakan tersebut berdampak pada aktivitas ekonomi yang tidak dapat berjalan normal sebagaimana mestinya, dimana permintaan dan penawaran berpotensi bergerak menurun dikarenakan para pelaku ekonomi mau tidak mau harus menerapkan social distancing demi keselamatan bersama. 

Dari keterpaksaan kondisi ini pula yang mengharuskan setiap orang menerapkan social distancing tentunya akan berimbas pula ke berbagai sektor yang turut menjadi penopang dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia seperti sektor transportasi, sektor wisata, sektor perdagangan ekspor dan impor, sektor industri, dan sektor-sektor lainnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN