Musik

Perjalanan Jurnalisme Musik, Wadah bagi Para Fans Musik yang Tercerahkan

8 Oktober 2018   16:50 Diperbarui: 8 Oktober 2018   17:54 325 0 0
Perjalanan Jurnalisme Musik, Wadah bagi Para Fans Musik yang Tercerahkan
www.grid.id

JURNALISME MUSIK

Jurnalis Musik melaporkan berita musik, wawancara musisi, meninjau album dan konser dan menulis karya kritik musik. Rata-rata Jurnalis Musik akan melibatkan banyak waktu yang akan dihabiskan di belakang computer untuk meneliti dan menulis cerita yang didapat ketika meliput acara apapun yang berhubungan dengan seni musik.

Jurnalis Musik juga terkadang menghadiri pesta rilis dan konser rekaman dari suatu artis solo maupun group dari berbagai aliran musik. Mereka dipekerjakan oleh media cetak, online, dan media siaran. Mereka bekerja dengan Editor, Fotografer Musik, Humas, Jurnalis lainnya, dan kadang-kadang, Artis Rekaman  maupun pemusik itu sendiri.

Jurnalisme menyediakan informasi yang akurat dan terpercaya bagi masyarakat agar dengan informasi yang dibuat mampu berperan membangun sebuah masyarakat yang bebas.  Sejak kapan istilah jurnalisme musik digunakan dan dipakai secara umum memang tidak dapat diketahui secara pasti. Apalagi di Indonesia. Namun, fenomena untuk orang-orang yang menulis musik -- sebelum istilah jurnalisme musik digunakan -- memang sudah berkembang sejak tahun 1960-an di Amerika dan Inggris sana. Akar dari jurnalisme musik atau kerap juga disebut jurnalisme rock (rock journalism) dimulai pada tahun 1960-an melalui munculnya penerbitan-penerbitan musik dan budaya populer seperti Rolling Stone, NME, Melody Maker, dan Creem. Rolling Stone yang terbit tahun 1967 oleh Jann Wenner dan Ralph Gleason menjadi tonggak penting perkembangan jurnalisme musik.

Pada awalnya jurnalis musik adalah fans musik itu sendiri atau kerap disebut "fans yang tercerahkan (enlightened fans)" (Gudmondsson et al. 2002). Jika melihat tokoh-tokoh jurnalis musik pada masa itu seperti Lester Bangs, Nick Kent, Robert Christgau, atau Simon Reynolds merupakan orang-orang yang memiliki passion terhadap musik.

Tak ada institusi resmi yang mempelajari jurnalisme musik -- kecuali, saat ini beberapa perguruan tinggi di Inggris dan Amerika sudah menjadikan jurnalisme musik sebagai disiplin ilmu sendiri. Seperti halnya ilmu jurnalistik, jurnalisme musik tentu memiliki tugas untuk menyediakan informasi faktual mengenai musik dan tetek bengeknya.

Gambaran seperti apa seorang jurnalis musik bekerja ditampilkan dalam film Almost Famous yang diangkat dari pengalaman pribadi sang sutradara semasa remaja, Cameron Crowe; mewawancarai band, mengikuti tur panjang, dan melihat berkembangnya budaya sex, drugs, and rock'n'roll.

Media yang fenomenal dalam sejarah musik Indonesia adalah Aktuil. Hampir selama tiga belas tahun Aktuil menulis peristiwa-peristiwa dan perkembangan musik, m serta berupaya membentuk opini masyarakat pecinta musik Tanah Air. Memang pada masa selepas kemerdekaan corong media yang menampilkan musik lebih didominasi oleh RRI dan TVRI. Namun, kedua media tersebut lebih tepat sebagai "media promosi" dibandingkan "produk jurnalistik" itu sendiri.

Aktuil bukan media atau majalah yang pertama kali menampilkan musik sebagai konten utamanya. Sebelum Aktuil, tahun 1963 di Yogyakarta majalah Discorina terbit. Jauh sebelum itu, tahun 1957, tercatat pernah terbit majalah Musika (Solihun, 2004).

Surat kabar pada masa itu juga menyediakan ruang untuk tulisan-tulisan musik, seperti surat kabar Pos Utara dengan pojok musiknya "Salah Sambung" asuhan Ronny Deo, Aneka Minggu dengan pojok musiknya "Nada Sumbang" asuhan Zatako, Sinar Pembangunan dengan kolom "Close Up" asuhan Sariko, Sinar Harapan dengan kolom "Lingkaran Musik" yang diasuh oleh Tjang Abbas.yang muncul tiap Sabtu pada tahun 1962 sampai dengan 1970. Surat kabar sampai tahun 1970-an belum menempatkan musik sebagai tulisan yang rutin. Film dan teater lebih mendapat tempat (Mulyadi, 2009).

 Aktuil didirikan oleh Denny Sabri, mantan kontributor Diskorina. Denny Sabri mengajak Toto Raharjo, pemilik percetakan di Bandung,untuk menerbitkan suatu majalah musik yang dinamakan Aktuil dan terbit pada 1967. Selain nama Denny Sabri dan Toto Raharjo, nama lain yang terlibat dalam pendirian majalah Aktuil antara lain Bob Avianto, Bernad Jujanto, Deddy Suardi, dan Remy Sylado. 

Pada perkembangan selanjutnya tiras Aktuil mencapai 100 ribu eksemplar dan begitu digemari anak muda pada masa itu. Opininya didengar anak muda, dan mampu menampilkan informasi yang berbeda karena kemampuannya dalam menyajikan wawancara atau reportase langsung dengan sejumlah musisi di luar negeri.

Tulisan di majalah Aktuil yang menarik adalah liputan pementasan-pementasan musik rock di berbagai kota di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Malang, Solo, dan Yogyakarta. Aktuil melaporkan persiapan pementasan, profil kelompok musik, tingkah laku musisi, liputan pementasan, dan tingkah laku penonton. 

Aktuil juga secara detil melaporkan bagaimana jalannya pertunjukan misalnya Ucok AKA dan Godbless yang membawa peti mati ke panggung, Micky Jaguar menyembelih kelinci dan meminum darahnya, serta Rawe Rontek yang menancapkan paku dan peniti terbakar ke tubuh vokalis dan musisinya. 

Selain Aktuil, beberapa majalah yang sering menulis musik di Indonesia pada periode 1950-1980 adalah Selecta, Monalisa, Diskorina, Variasi, Top, Junior, Violetta, dan Soneta.

 Tahun 1970-an dan 1980-an muncul majalah hiburan yang menuliskan musik secara rutin misalnya majalah HAI, Gadis, Mode, Vista, FMTV, kemudian tabloid Monitor, Citra, dan Bintang (Mulyadi, 2009). Karakteristik majalah-majalah yang menyajikan musik sebagai sajian utamanya menampilkan informasi berupa profil artis/musikus, kegiatan-kegiatan pementasan, resensi album, tangga lagu, hingga memuat poster album dan tayangan acara radio dan televisi.

Jika berbicara jurnalisme musik, nama Rolling Stone jelas tak bisa dilepaskan. Majalah musik yang pertama terbit pada 1967 ini bisa dibilang meletakkan standar baru dalam dunia jurnalisme musik. Seperti yang pernah dibilang oleh penulis musik Gene Sculatti: dalam semalam, Rolling Stone membuat jurnalisme musik jadi lebih profesional.

Liputan Rolling Stone banyak dipuji. Ia memperlakukan musik tidak sekadar sebagai hiburan atau bisnis semata. Tapi juga ada kisah hidup, dongeng, omong kosong para bintang rock. 

Dengan kata lain: mereka meletakkan musisi sebagai manusia yang punya banyak kisah menarik untuk diulik. Begitu pula wawancaranya yang padat berisi. Rolling Stone datang ke Indonesia pada 2005.

 PT a&e Media memboyongnya. Indonesia menjadi negara pertama di Asia yang menghadirkan Rolling Stone. Selain di Indonesia, Rolling Stone di Asia hanya terbit di Jepang (2007), India (2008), dan Cina (2006) ---yang berhenti terbit dalam waktu setahun. Edisi pertama RSI terbit pada Mei 2005, dengan gambar sampul . Ia juga membahas tentang Linkin Park, Metallica, Britney Spears, hingga Slank.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2