Anthony Dio Martin
Anthony Dio Martin WISE (Writer, Inspirator, Speaker, Entepreneur), ICF Certified Coach, Psychotherapist, Trainer

Anthony Dio Martin, WISE (writer, inspirator, speaker dan entepreneur) dan juga ICF certified executive coach, yang dijuluki "The Best EQ Trainer Indonesia". Beliau penulis 16 buku dan lebih dari 25 CDAudio. Salah satu bukunya menerima penghargaan MURI. Beliau pernah memandu beberapa program motivasi di TV kabel, saat ini punya siaran rutin program radio “Smart Emotion” di SmartFM. Facebook: anthonydiomartinhrexcellency IG: anthonydiomartin Kontak & info: 021-3518505 atau 3862521 atau email: info@hrexcellency.com

Selanjutnya

Tutup

Karir Artikel Utama

Gaji Tak Naik-naik, Resign Ah!

23 Mei 2018   07:34 Diperbarui: 23 Mei 2018   21:41 3224 9 2
Gaji Tak Naik-naik, Resign Ah!
Sumber ilustrasi: nyislaw.com

Ini kasus klise. Seorang karyawan yang sudah kerja tiga tahun berkeluh kesah, "Gajiku nggak naik-naik. Resign aja ya Pak Martin?"

"Sebentar! Kamu yakin?" tanyaku.

Aku teringat dengan Socrates yang pernah mengatakan, sebelum mengatakan sesuatu, tanyakanlah 3 hal: apakah itu benar? Apa itu perlu? Apakah itu memberikan manfaat? Maka, saya pun mengajukan tiga pertanyaan yang perlu juga dijawab oleh si karyawan itu.

Pertama, apakah dia yakin setelah itu akan dapat kerjaan?

Dua, apakah dia yakin bukan karena kesalahan dia sehingga gajinya tidak pernah dinaikkan?

Ketiga, apakah dia yakin selain gaji dia tidak mendapatkan manfaat yang lain?

Mengapa perlu menjawab ketiga pertanyaan tersebut. Mari saya jelaskan dari sudut pandang seorang konselor karir ketika memberikan nasihat kepada mereka yang kepingin cepat-cepat resign dari pekerjaannya.

Photo by energepic.com from Pexels
Photo by energepic.com from Pexels
Tiga pertimbangan penting
Pertama, adakah pekerjaan lain setelah resign? Terkadang, seseorang begitu terburu-buru untuk resign dari tempatnya bekerja hanya karena suatu masalah. Entah soal gaji, atau pun masalah hubungan. Lantas, mereka kemudian buru-buru berhenti. Persoalannya, setelah resign, pasar tenaga kerja tidak menyerap tenaganya. Akhirnya, dia pun lama menganggur. 

Banyak yang lantas berpikir, dia akan bisa meminta untuk kembali bekerja di tempat lama. Umumnya, usaha balik ke tempat lama biasanya tidak berhasil. Masalahnya, posisinya sudah diisi orang lain. Atau, perusahaan sudah telanjur sakit hati kepadanya.

Kedua, apakah bukan kesalahan dia, ketika gajinya nggak naik-naik?

Di sinilah, banyak karyawan yang merasa geer. Dia berpikir dirinya telah memberikan banyak kontribusi.

Soal kenaikan, ukurannya bukan dari perspektif karyawan saja tapi juga dari sudut pandang pimpinan, alias manajemen. 

Seringkali karyawan secara subjektif berpikir ia telah berkontribusi dan kerja banyak. Tetapi, manajemen merasa apa yang dikontribusikan adalah sesuai dengan posisinya. Jadi, kalau dia mau naik gaji, perlu effort (usaha) yang lebih besar. Di sinilah tidak ketemunya.

Ketiga, apakah tidak ada manfaat lain selain gaji. Terkadang, banyak perusahaan yang tidak menaikkan gaji karena alasan sederhana. Gaji adalah angka yang fixed (tetap), sehingga nantinya akan jadi beban tahunan. Sehingga, bayaran diberikan dalam bentuk sesuatu yang variabel sifatnya. Bentuknya entah insentif, ataupun tunjangan yang lainnya. Ataupun, dalam bentuk kesempatan belajar, dll. 

Nah, terkadang kalau pertimbangannya hanya gaji melulu, orang bisa salah. Saya teringat dengan seorang karyawan yang rela bekerja di tempat yang jauh, dengan gaji lebih tinggi. Tapi, dia tidak mempertimbangkan ongkos perjalanan plus waktunya yang hilang di jalan.

Tips yang perlu jadi pertimbangan pula
Mulai sekarang, kalau mau resign pastikan Anda sudah tahu mau pergi ke mana. Faktanya, jauh lebih susah mendapatkan pekerjaan saat Anda dalam posisi resign daripada Anda masih punya pekerjaan saat ini.

Entah mengapa, saya merasa aura orang yang bekerja dengan yang tidak bekerja, kondisinya berbeda. Yang bekerja, biasanya lebih pede. Lebih yakin. 

Sehingga ketika menjawab, juga lebih meyakinkan, makanya biasanya lebih mudah ditawarin kerja saat Anda sedang punya kerjaan. Lagipula, jangan pernah resign hanya karena alasan yang emosional. Misalkan, hanya karena merasa kesal karena gaji tak pernah naik-naik. Resign karena alasan emosional, kadang berakhir dengan penyesalan.

Mungkin ada baiknya pula, sebelum Anda buru-buru resign karena merasa gaji tak pernah baik, cobalah bicarakan. Siapa tahu ada pertimbangan lain. Kadang, mungkin di tahun berikutnya ada pertimbangan dari atasan untuk menaikkan gaji Andfa. Cobalah ditanyakan.

Tapi, bisakah kita resign karena memang gaji tak pernah dinaikkan? Boleh saja. Tapi, itu kalau Anda yakin Anda telah bekerja dengan sangat maksimal. Sementara itu, Anda juga bandingkan kalau di tempat lain, orang yang setara dengan Anda gajinya jauh lebih tinggi.

Tapi, saya sangat yakin, kalau Anda kontribusinya banyak dan Anda merasa gajinya kekecilan. Tatkala, Anda membicarakan ini dengan atasan Anda, dia pasti akan mempertimbangkan. Namun, kalau tidak maka, artinya menurut dia kinerja Anda masih kurang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2