Mohon tunggu...
Anna Damayanti
Anna Damayanti Mohon Tunggu... -

I am nobody, just like you ... ;)

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen | Last Memories - Dancing with Michael, in love [13]

6 November 2017   11:59 Diperbarui: 6 November 2017   12:08 608
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Lorong itu belum lembab, dingin dan gelap. Tak seorang pun berani melewatinya, jika diujungnya tidak nampak sebuah cahaya yang menerangi sebuah ruangan.

"Tok.. tok.. tok.." tampak seseorang mengetuk pintu itu dan dibukakan oleh seorang wanita yang berada di dalamnya.

Tak berapa lama keduanya berada dalam ruangan tersebut yang pengunjung tersebut telah keluar lagi dari ruangan tersebut.

Dengan tergopoh-gopoh pengunjung itu segera pergi dari tempat tersebut.

"Keira.. Siapa barusan yang datang ?" tanya sebuah suara yang keluar dari balik kamar yang ada di ujung ruangan tersebut.

"Hmmh.. tadi hanya pos yang mengantarkan paket, Michael." Jawab Keira sambil menyembunyikan paket yang ada di tangan kanannya ke balik punggungnya.

"Keira.. kamu harus berbohong dengan lebih baik. Tak ada pos yang mengantar paketnya malam-malam begini." Jawab Michael sambil memegang tangan Keira yang disembunyikannya di balik punggungnya.

"Apa ini Keira ?" tanya Michael dengan penuh rasa penasaran.

"Jangan dibuka, Michael." Jawab Keira setengah memohon.

"Keira setelah semua yang kita lalui dan janji pertunangan ini apakah artinya sebuah paket ini hingga kamu mau merahasiakannya dari aku ?" tanya Michael sambil tersenyum.

"Baiklah Michael. Tadi Sandy mengantarkan benda ini kemari. Aku pun belum membukanya. Dia bilang seseorang pantas menerimanya." Kata Keira sambil memberikan paket itu kepada Michael.

"Hmm... baiklah kita buka." Sedikit demi sedikit dibukanya bungkus yang melekat pada bungkusan tersebut.

Dan... hampir saja Michael melemparkan bungkusan yang ada didalam tangannya.

Bungkusan itu berisi jari kelingking seorang wanita yang terawat rapi dengan kuteks merah di kukunya.

"Keira..!! Apa-apaan ini mengapa Sandy memberikan potongan jari ini kepada kamu ?" tanya Michael dengan marah.

"Entahlah Michael. Dia bilang ada yang sudah bersalah padanya dan inilah hukumannya." Jawab Keira.

"Apa yang harus kita lakukan ? " tanya Michael. "Kalau saja Sandy bukan adikmu sudah aku laporkan ke polisi saja. Aku tidak mau terlibat. Engkau saja yang urus semua ini." Lanjut Michael sambil memberikan bungkusan itu kepada Keira.

"Keira, ingatkan adikmu kita ada disini bukan untuk membuat keonaran tapi untuk menolong saudara-saudara kita yang lain." Kata Michael dengan matanya yang menyala-menyala beranjak kemerahan.

Keira yang mengetahui kemarahan Michael berusaha menenangkan tunangannya itu dan berjanji akan menegur Sandy adiknya yang sepertinya memang sudah bertindak keterlaluan hari itu.

"Tapi Michael, Sandy bilang wanita ini sudah berdosa dan mencemarkan janji mereka." Jawab Keira membela adiknya.

"Keira. Berdosa ataupun tidak. Bersalah ataupun tidak. Bukan hak kita untuk menghukumnya apalagi sampai menyakiti maupun membunuhnya. Tak ada satupun ciptaan Tuhan yang pantas untuk disakiti maupun dibunuh. Kalau pun mereka bersalah biarlah Tuhan yang menghukumnya. Kewajiban kita adalah menuntun mereka supaya menyadari kesalahannya dan bukan bertindak sebagai hakim yang menjatuhkan hukuman. Camkan itu Keira. Dan didiklah adikmu dengan lebih baik. Sepertinya semua ilmu kepandaian yang diturunkan oleh leluhurmu sudah disalah pakaikan olehnya."

"Kriing...:" Terdengar ponsel Michael bordering dan Michael terlibat percakapan yang cukup serius di ponsel tersebut.

Setelah beberapa saat menerima telepon, Michael terduduk dengan lesu di sofa yang ada di tengah ruangan tersebut.

"Keira.. adikmu telah membunuh mantan kekasihnya. Virli ditemukan tewas dengan satu jarinya hilang." Diusapnya wajahnya dengan tangannya. Kegalauan Michael telah sampai kepada puncaknya mendengar kejadian tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun