Annisa F Rangkuti
Annisa F Rangkuti profesional

Penikmat hidup, tulisan, dan karya fotografi. https://www.annisarangkuti.com/

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Ketika Komedian Bicara Tahajjud

6 Mei 2018   23:03 Diperbarui: 7 Mei 2018   05:41 750 7 6
Ketika Komedian Bicara Tahajjud
dok. AFR

ADA yang kenal mas mas yang sedang menggendong anak kecil ini? 

Saya ketemu si mas-mas ini waktu sarapan di salah satu hotel di Jogja. Tempat sarapannya semacam lounge, tidak ramai, cuma ada mas-mas ini dan anak perempuannya. Plus seorang pelayan pria. 

"Baru bangun, ya? Haha.." sapanya pada anak saya, Arsya, waktu kami baru sampai di sana. Sejak baru datang, Arsya berdiri saja di pintu masuk sambil bengong. Mungkin itu yang menarik perhatiannya. Saya cuma tersenyum sambil bergegas berkeliling melihat-lihat hidangan. Arsya saya tinggalkan sejenak masih dengan muka bantalnya. 

Jam sudah setengah sepuluh. Saya mengambil beberapa potong roti, buah dan minuman. Tak banyak pilihan karena restoran mini-mirip lounge bandara itu tak menyediakan banyak menu seperti restoran di bawah. Ini cuma tempat buat tamu hotel yang ingin privasi, bercita-cita ingin diet dan yang terpenting agar selama menyantap hidangan, anaknya tak lari kemana-mana. Hahaha.. 

Mas-mas ini lagi-lagi menyapa Arsya. Saya belum ngeh hingga saatnya saya menuju ke meja di sebelahnya dan mulai mengamatinya lebih cermat. 

"Eh, Mas Kelik, ya?" Saya bertanya setelah menaruh hidangan sarapan. 

"Iya, Bu," jawabnya sambil senyam-senyum. Lalu obrolan mengalir begitu saja dengan bermacam-macam topik. Orangnya hangat. Sesekali diselip seloroh dengan pelayan pria yang sebelum kami datang tampaknya sudah terlibat pembicaraan akrab dengan Mas Kelik. Mulai dari soal "Darimana, Bu?", anak, tempat makan enak di Jogja, hingga profesinya sebagai presenter dan komedian yang kini lebih sering menerima job off air. Ternyata dia dan istrinya yang penyanyi baru saja mengisi acara salah satu bank BUMN di hotel tempat kami menginap. Anak perempuannya, Kenes, sudah kelas 3 SD (kalau tidak salah ingat). 

Beberapa kali dia ke ruang smoking area yang ada di tempat itu. 

"Nakalnya saya cuma ini, Bu," katanya sambil menunjukkan rokok yang terselip di jarinya, sebelum masuk smoking area

"Saya usahakan merokok cuma di smoking area. Nggak langsung di depan anak," katanya setelah duduk kembali di sofa. Diapun bercerita tentang kecintaan dan kedekatannya pada anak satu-satunya itu. Saya cuma manggut-manggut sambil sesekali mengawasi Arsya yang mulai keliling-keliling meja dan kursi di dalam ruangan. Satu topik yang paling menarik perhatian saya adalah soal ibadah tahajjud yang diakuinya berusaha rutin dia lakukan. Tiba-tiba saya jadi tersentil. 

"Saat tahajjud itu, Allah terasa sangat dekat, Bu. Saya sering bangun tahajjud. Habis tahajjud ya tidur bentar, baru bangun lagi pas Subuhnya. Sampe sampe tim saya ngira saya ga tidur tidur. Hahaha.." Topik berbau religi itu tampak sejalan dengan sikapnya. Soal keluarganya, soal rizkinya, soal tujuan hidupnya. 

kelik3-5aef25cfcf01b4614c0a0149.jpg
kelik3-5aef25cfcf01b4614c0a0149.jpg
Saya mendengarkan sambil sesekali menimpali obrolannya. Roti croissant di tangan Arsya belum habis juga, sementara Kenes asyik bolak balik mengambil makanan. Sudah hampir jam sepuluh. Terakhir, Kenes mengambil piring dan menaruh beberapa kue dan roti di atasnya. Mau dibawa ke kamar. Itulah keistimewaan sarapan di restoran mini ini. Makanan boleh dibawa ke kamar. Saya sendiri membawa bubur ayam dan beberapa potong kue di kotak makan Arsya. Bubur ayamnya untuk Arsya makan di kamar dan kue-kuenya buat camilan di jalan.

Obrolan pun berakhir. Sebelum kembali ke kamar, saya meminta berfoto bersama Mas Kelik dan anak perempuannya. Dia menyambut hangat. Malah langsung menggendong Arsya. Yang digendong entah kenapa mau-mau saja. Biasanya dengan orang yang baru dikenal, dia takkan mau. Bersalaman saja pun jarang mau. Tapi ini lain. Malah ngelendot manja. Ya ampun. 

Mas Kelik membaca kesungkanan saya. 

"Nggak apa-apa, Bu. Mungkin dia tahu kalau saya suka anak-anak," katanya ramah. 

Sesi foto selesai dengan beberapa kali shoot. Arsya tak mau lepas dari gendongannya. Akhirnya Mas Kelik mengajak kami ke kamarnya, bertemu istrinya. Arsya dibawanya masuk ke kamar, menemui Mama Kenes. Sementara saya sungkan sungkan berdiri menunggu di ruang tamunya. Kamarnya semacam kamar suite. Di lantai paling atas, satu lantai dengan restoran mini. Banyak barang, kostum panggung. 

Arsya tetap tak mau lepas. Ya ampun. Mas Kelik hanya tertawa dan tersenyum saja sejak tadi. Sementara yang digendong masih dengan posisi wenak. Akhirnya kami diantar ke kamar, bersama Kenes. Di situlah Arsya dengan rela hati kembali keharibaan sang bunda. Entah karena terkesan atau bagaimana, sebelum kembali ke kamarnya, dia memberikan saja nomor kontaknya. 

"Hubungi saja saya kalau perlu info-info kuliner atau apapun di Jogja," katanya. Yang saya kira cuma basa-basi. Tapi ternyata dia tampak senang sekali saat saya mengirimkan foto-fotonya bersama Arsya ini. Dia pun membalas dengan foto-foto bersama istrinya saat mengisi acara di malam sebelumnya. Terakhir, dia memberikan nomor kontak istrinya, Mbak Endah Saraswaty. 

"Kalau ada acara di Medan kabari saja, Bu." Yang saya sambut dengan "In syaa Allah, Mas. Tinggal nyiapin honornya. Gede pasti." emoticon nyengir. Lalu disambut dengan Ha-ha-ha dan potongan honor sana sini karena langsung berhubungan dengan dirinya, bukan manajer. 

dokumen pribadi (AFR)
dokumen pribadi (AFR)
Meski ada menyinggung soal job, tapi saya rasa tak banyak entertainer komedian macam Mas Kelik. Entah, ya. Mungkin karena baru kali ini saya bertemu dan mengobrol layaknya teman dengan seorang entertainer yang pada zamannya sering wara wiri di TV. Dulu pernah ketemu Tukul, di bandara Soetta, sebelum dia jadi presenter komedian papan atas. Dengan entertainer/artis lain, cukup banyak. Hanya saja bertemu sekilas di bandara, mall atau restoran. 

Yang jelas, berkenalan dan mengobrol langsung dengan orang-orang baru itu menyenangkan. Terlepas dari dia terkenal atau tidak, pasti ada hikmah atau inspirasi -meski secuil- yang bisa disematkan di hati. Sesuai nama panggungnya, Mas Kelik yang hangat dan ramah ini tampaknya memang benar-benar Pelipur Lara.

***

Semua foto adalah dokumentasi pribadi (AFR).