Mohon tunggu...
anita putri
anita putri Mohon Tunggu... Musisi - swasta

seorang yang sangat menyukai musik

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kita Terlalu Jauh Melangkah

21 Mei 2022   09:55 Diperbarui: 21 Mei 2022   10:05 159
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Anda masih ingat peristiwa Rengasdengklok Dengklok? Satu peristiwa yang terjadi sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus. 

Singkat cerita dari kisah ini adalah Soekarno- Hatta ( dan Guntur anak pertama Soekarno) dibawa mendadak ke Rengas Dengklok yaitu satu daerah di kabupaten Karawan karena keduanya merasa tidak bisa memproklamirkan kemerdekaan secepat mungkin karena merasa harus berunding dengan PPKI.

Para pemuda yang saat itu melihat minggu itu sebagai minggu tepat untuk memproklamirkan kemerdekaan kemudian nekad membawa ketiganya ke daerah itu. Mereka sempat beristirahat di rumah seorang Tionghoa di daerah karawang.

Setelah terlibat diskusi dengan para pemuda Soekarno dan Hatta kemudian kembali ke Jakarta dan setuju untuk segera memproklamirkan kemerdekaan RI tanpa pengaruh Jepang yang saat itu sudah kalah dari Sekutu.

 Dengan berbagai resiko mereka bersiap pada dua alternatif, pertama proklamasi dilakukan di lapangan IKADA  (lapangan Gambir) atau di kediaman Soekarno di jl Pegangsaan Timur Jakarta. 

Hanya saja kabar soal proklamasi di IKADA sudah tersebar di kalangan militer Jepang (yang waktu itu masih ada) sehingga dialihkan ke kediaman Soekarno.

Apa yang saya ingin katakan dari cerita ini? Bahwa keadakaan kita seperti ini (merdeka dari penjajah dan hidup layak sebagai bangsa merdeka) adalah hasil kerja keras para tokoh kalangan tua dan politikus waktu itu (soekarno Hatta dan beberapa orang lain) dan juga pemuda yaitu Soekarni, Adam malik dan lain sebagainya. 

Juga beberapa kontribusi para warga yang punya nasionalisme tinggi seperti Ahmad Soebarja dan pemilik rumah di Karawang serta para pemuda dari beberapa wilayah yang peduli dengan masa depan Indonesia.

Setelah beberapa puluh tahun berjalan, kita sepertinya lupa bahwa kemerdekaan yang kita raih dengan amat mahal itu merupakan kontribusi dari banyak komponen masyarakat dan bukan satu atau dua orang saja. Kita seperti terlalu jauh melangkah dengan segala ujaran kebencian dan lupa bahwa bersatunya kita sebagai bangsa itu dengan keadaan yang berbeda-beda. 

Perbedaan kita itu jauh melampaui perbedaan di Malaysia, di Filipina, di Cina sekalipun sehingga seharusnya kita tidak mempersoalkan perbedaan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun