Mohon tunggu...
Ani Siti Rohani
Ani Siti Rohani Mohon Tunggu... Buruh - Perempuan penikmat sunyi

Life is never flat

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Nana

1 Mei 2019   04:57 Diperbarui: 1 Mei 2019   05:14 121
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber Ilustrasi : Pixabay.com

"Kamu kan tahu Nana itu enggak suka kalau ketemu sama saya," jawab Pak Nasir. Tangannya sibuk memainkan handphone-nya. Ia mencari kontak nomor handphone anaknya. Kemudian meneleponnya.

"Cepat pulang sekarang! Ayah enggak mau tahu alasan apa pun. Pokoknya kamu pulang sekarang," ucap Pak Nasir mengakhiri pembicaraannya di telepon dengan Nana setelah berdebat cukup lama. Ibu Erna hanya diam tak memberi komentar apa pun mendengar suaminya yang terlihat kesal. Ia tak ingin membuat suaminya bertambah kesal jika ia ikut campur.

Sunyi. Di rumah itu dulu ada kebahagiaan. Suara Nana yang berteriak bahagia ketika menyambut ayahnya datang. Senyum Bu Erna saat melihat suaminya pulang dengan membawa beberapa oleh-oleh untuknya. Tapi kini, kebahagiaan itu seolah pergi. Keceriaan itu telah berubah menjadi kesunyian yang menyakitkan setiap hati para penghuni rumah. Nana yang dulu selalu membatalkan semua acara demi menyambut kepulangan ayahnya justru terbalik menjadi selalu ingin pergi setiap kali ayahnya pulang. Bu Erna yang dulu selalu menghujani banyak pertanyaan setiap kali suaminya pulang, kini bahkan seperti enggan melontarkan satu pertanyaan pun padanya.

                                              ***

Suara mobil datang membangunkan Pak Nasir yang beberapa menit yang lalu tertidur di sofa. Nana pulang. Rupanya dia tak pergi terlalu jauh dari sekitar rumah sehingga hanya membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit untuk sampai di rumah setelah sebelumnya Pak Nasir meneleponnya.

"Assalamu'alaikum," ucap Nana dengan suara ketus. Raut wajah tak sukanya tampak begitu jelas.

"Wa'alaikumsalam," balas Pak Nasir sambil menerima uluran tangan anak gadisnya.

Suasana tampak kaku. Yang datang hanya diam. Pun tak mau sedikit saja menatap wajah ayahnya. Ada dendam dalam hatinya. Dendam yang membuat keceriaannya hilang sekian tahun ini.

"Nana, kamu sudah pulang?" suara lembut Bu Erna sedikit mencairkan suasana. Nana mencium tangan ibunya yang baru saja keluar dari aktivitasnya. Mereka kemudian duduk di sofa. Seperti biasa, Nana selalu lebih suka di samping ibunya ketika ayahnya datang.

"Kamu kenapa setiap kali ayah pulang selalu saja menghindar? Mau sampai kapan terus seperti itu?" tanya Pak Nasir kemudian.

"Tanya saja sama diri ayah sendiri," jawab Nana memeluk lengan ibunya. Khawatir ayahnya akan marah besar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun