Mohon tunggu...
Anis Hidayatie
Anis Hidayatie Mohon Tunggu... Penulis, guru

aniesday18@gmail.com. Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Mari tebar cinta dengan kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Ketika Bangau Sedang Istirahat

27 September 2020   07:18 Diperbarui: 27 September 2020   07:25 116 39 10 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ketika Bangau Sedang Istirahat
hardiprasetyoslusi's.blog.word press

" Kau jahad Zal, Mengapa kau tinggalkan aku?"

Nisa tercenung di bibir perahu yang membawanya menyusuri sungai Tambak Rejo, Kraton Pasuruan. Sekumpulan bangau diantara rimbun hutan Mangrove muara sungai Welang, menyeruakkan lagi kenangan beberapa masa silam.

Sebagai pencari kupang Nisa terbiasa mengarungi sungai sendiri. Membawa jaring menuju muara yang berbatasan dengan selat Madura. Tak ada yang menemani. Ya, sejak ayahnya sakit stroke dan ibunya bekerja sebagai buruh pabrik kulit di sebelah desa, Nisa menjadi pencari kupang sendiri.

Mulai usia 4 tahun, dia sering diajak bapaknya berburu Kupang di sungai Welang ini. Sungai yang menjadi sahabat  kehidupan Nisa. Tak ada ketakutan apapun ketika dia harus menyusuri sungai itu setiap hari. Penghuni satwanya, buaya, ular, monyet, semua seolah menyapa ramah kala perahunya membelah sungai.

Tentang satwa ini satu jenis yang membuatnya selalu berhasil menarik penglihatannya. Burung Bangau, kepak sayapnya, kaki jenjangnya, polahnya ketika terbang, bahkan ketika memadu cinta, membuatnya betah berlama -lama menyaksikan kehidupan mereka. 

Burung ini pula yang telah menorehkan banyak kenangan dalam kehidupan cinta seorang Nisa. Perempuan desa, pencari kupang yang hanya lulusan SMP saja tapi pernah menjalin cinta dengan lelaki mahasiswa bernama Zal, asal daratan Andalas, Bengkulu, Curup tepatnya.

Zal, dia datang ke desa itu sebagai salah satu peserta KKN, Kuliah Kerja Nyata salah satu perguruan tinggi ternama di Surabaya. Lokasi kos Zal yang berdekatan dengan rumah Nisa membuat mereka sering bersua.

Nisa tidak cantik, paparan alam pada kulitnya tak memungkinkan Nisa tampil cantik seperti perempuan lain teman KKN Zal. Namun senyum Nisa begitu memikat mata Zal. Keperkasaannya kala memegang kendali perahu membuat Zal ingin selalu berdekatan dengan perawan desa itu. Dengan alasan ingin survey, riset ke lokasi muara dia sering meminta Nisa mengantarkan pergi naik perahu ke lokasi hutan mangrove yang memang rimbun tumbuh di sepanjang lokasi sungai menuju laut lepas.

Berdua, Nisa dan Zal melakukan itu berdua sambil mengantarkan Nisa mencari kupang. Zal meneliti tumbuhan Mangrove, Nisa mencari kupang. Saling bantu, saling menemani. Kedekatan ini berbuah kehangatan. Ketertarikan Zal pada sosok Nisa di awal bertambah besar, tumbuh menjadi rasa ingin selalu bersama.

Nisa sebetulnya merasakan hal yang sama, namun dia takut menampakkan. Rasa jengah seringkali menghampiri ketika mata Zal menatap lekat sosoknya yang sedang mengemudikan perahu. Seolah ditelanjangi, mata Zal tajam menghunjam ulu hati.

Hutan Mangrove kelokan pertama sungai Welang menjadi saksi sebuah pernyataan. Rasa suka Zal pada Nisa diungkapkan jelas dengan sebuah kalimat singkat, padat dan klise.

" Aku mencintaimu Nis."

Seketika senyap mengiringi suasana cengkerama mereka yang awalnya ramai dengan obrolan.

Perahu yang menjadi tumpangan mereka berhenti bergoyang. Nisa menambatkan tali di perahunya pada sebuah pohon mangrove  terbesar. Mereka berdua berhadapan di atas perahu kini. Zal hanya menatap tajam wajah Nisa yang tertunduk.

Tak ada gerakan, meski Zal sungguh ingin memegang dagu perempuan desa yang manis itu. Karena Zal tahu kalau itu dilakukan, bakal membuat Nisa kaget. Zal tak ingin mengagetkan Nisa dengan hasratnya. Menyentuh berarti membuat Nisa harus melanggar aturan yang selama ini dipegang teguh. Ya, Nisa perempuan taat yang tak mau menyentuh lelaki, bahkan bersalaman saja dia tak mau.

Nisa berdesir, ingin katakan hal yang sama. Tapi sisi batinnya menolak. Lelaki di depannya baru beberapa hari di kenal. Tak diketahui asal-usulnya, pendidikannya tinggi, bagaimana bisa jatuh cinta pada dirinya. Perempuan desa, tidak cantik pula. Hanya lulus SMP, ingin melanjutkan SMA terkendala biaya, hingga menginjak usia 19, keinginan melanjutkan pendidikan selalu dipendam, terlupakan.

Ketakutan dipermainkan membuat Nisa tak berani mengiyakan. Maka dia gelengkan kepalanya sambil tertunduk mendengar ungkapan Zal, lelaki di hadapannya.
"Kenapa Nis? Kau tak mencintaiku?"

"Maaf, aku tidak tahu."

Perlahan posisi duduk Zal mulai berpindah lebih mendekat pada Nisa. Ingin sekali Zal mengangkat wajah itu, mencari jawaban di dua bola mata Nisa yang dia yakin ada cinta itu.

Namun ditahan, dia hanya berkata, "Aku tahu kau mencintaiku, detak jantungmu kudengar mengatakan, kau juga mencintaiku."

" Sudahlah, kita bicara yang lain saja. Itu ada Bangau, katamu sedang ingin mempelajari mereka." Nisa mengalihkan perhatian seraya telunjuknya mengarah pada gerombolan bangau yang sedang bertengger di beberapa dahan mangrove.

 Zal mengikuti arah telunjuk Nisa, betul ada banyak bangau di sana, sedang istirahat rupanya. Terlihat tenang berdiri di atas ranting atau dahan. Satu kegiatan yang membuat matanya tertahan. Diantara bangau itu ada yang mengangkat satu kaki. Zal menanyakan ini pada Nisa.

"Mengapa Bangau itu ada yang mengangkat satu kaki?" Zal mengarahkan telunjuknya pada beberapa bangau yang berdiri dengan satu kaki.

" Karena lebih mudah terbang dari tempatnya berpijak dengan satu kaki. Itu yang aku tahu, bisa langsung terbang."

" Owh begitu ya, kupikir tadi karena istirahat saja."

"Kalau istirahat malah dua kaki."

"Oh ya, kayak kita dong."

"He em, lihat tuh yang berpijak dengan dua kaki, mereka diam mematung, yang satu kaki, ancang-ancang mau pergi !"

"Aih, iya juga. Kau memang pengamat yang baik. Lantas bagaimana dengan kita?" Zal mulai mengalihkan pembicaraan.

"Kita, ada apa dengan kita?"

"Kau mau menerimaku kan?"

"Maaf, aku tidak berani menjawab sekarang."

"Lantas kapan?"

"Entahlah, tapi yang pasti aku akan mengingatmu ketika melihat Burung Bangau sedang istirahat."

"Kau mengingatku, berarti kau mencintaiku."

"Tidak bisa begitu Zal. Ada banyak yang kupikirkan tentangmu, aku harus berdiskusi dengan hatiku."

"Apalagi yang kau pikirkan?"

"Banyak!"

"Katakan diantaranya."

"Tidak sekarang, mungkin besok atau lusa akan kuutarakan."

"Baiklah, aku akan sabar menanti jawabanmu. Sementara itu sambil menunggu, kau harus mau menemaniku ke tempat ini setiap hari, melihat Bangau yang sedang istirahat. Supaya kau ingat padaku."

"Iya.
" Jawaban lirih Nisa pada Zal mengakhiri percakapan panjang keduanya.

Zal tak henti menatap Nisa yang cekatan membawa perahu itu kembali pulang ke kampung. Dia ingin ambil alih sebetulnya, tapi Nisa melarang. Kuatir oleng katanya. Nanti pelan - pelan akan diajari, mulai dari memegang dayung, naik perahu, pengaturan posisi duduk, hingga menjalankan dengan mesin atau manual.

Perahu  yang dikemudikan Nisa perlahan mulai digerakkan menjauhi hutan mangrove itu. Menanti esok dan esok untuk sebuah jawaban Zal pada Nisa.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
27 September 2020