Anggie D. Widowati
Anggie D. Widowati

Penulis Novel: Ibuku(Tidak)Gila, Laras, Langit Merah Jakarta | Psikolog | Mantan Wartawan Jawa Pos, | http://www.anggiedwidowati.com | @anggiedwidowati | Literasi Bintaro (Founder)

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Antariksa Nan Menawan

12 Januari 2018   04:46 Diperbarui: 12 Januari 2018   06:04 796 0 0

SERIAL SUZANNA FAMILI

Seseorang muncul di depanku ketika aku sedang berbenah untuk pulang. Kantor sudah sepi, tinggal beberapa redaktur kota menungu dead line. Suara keyboard komputer masih terdengar dari beberapa sudut ruangan. Aku menengadah melihat wajah itu. Setengah kaget, setengah tak percaya. Laki-laki itu, Antariksa.

Aku menjadi gugup, jujur dadaku berdentuman. Tetapi wajah itu sama sekali tak menakutkan. Tersenyum dengan deretan gigi rapi dan putih. Laki-laki itu terlihat lebih gemuk, dan kulitnya sedikit gelap. Bayangan dirinya masih mengambang di sinar matanya, laki-laki yang membenci masa lalu.

"Apa kabar?" sapanya ramah.
Beberapa buku yang sedang kupeluk di dadaku berjatuhan. Masih ada trauma dalam diriku . Itulah sifat burukku, ketika ada kesalahan yang kulakukan pada seseorang, aku tak akan bisa melupakan kesalahan itu seumur hidupku. Dan aku selalu kesulitan untuk memaafkan diriku sendiri.

"Ba baaaik," kataku gagap.

Lalu aku berdiri di hadapannya. Dan aku tatap laki-laki yang membenci masa lalu itu dengan segenap jiwaku. Aku menguatkan diriku sendiri, karena aku sedang berhadapan dengan laki-laki yang aku cintai, setidaknya pernah aku cintai.


"Kemana aja?"


Basa basi yang sangat basi. Hanya kata-kata itu yang kutemukan di kepalaku saat ini. Kata-kata itu memang sering kuucapkan bila bertemu seseorang yang sudah lama menghilang. Mungkin karena sudah mengendap, jadi terlintas begitu saja.


Riksa tersenyum. Senyum yang selalu aku rindukan, tetapi bila muncul, selalu aku benamkan kembali dari ingatankau. Hari kemarin aku telah berjanji untuk tidak mengusik ketenanganku dengan menghadirkan laki-laki ini di kepalaku.


"Kemana aja?" ulangku.


Kurasa Riksa juga mengalami kegugupan yang sama. Biar pun tersenyum, aku bisa merasakan laki-laki di hadapanku ini, sedang mengusir kegalauannya. Aku tahu, aku adalah bagian dari masa lalu, yang tidak terlalu lalu, dan tak bisa dibenamkannya.


"Aku merindukanmu," ujarnya kemudian.


"Oh shit..." gumanku dalam hati.


Aku tersenyum dengan debaran jantung yang menggebu. Cinta telah merubah si pemberani menjadi  seorang penakut. Aku hanya bisa tersenyum. Padahal hatiku luar biasa bahagia. Bahagia yang diliputi ketakutan, karena yang ada didepanku adalah pria yang hatinya rapuh.


"Terima kasih," kataku cepat.


Aku menyilakan Riksa duduk, setelah aku menyeret salah satu bangku dari meja sebelah yang sudah kosong.


"Owh, tak perlu Suzan, biar aku saja," diambil alihnya bangku itu.


Oh, semakin kentara betapa gugupmya aku. Riksa bekas karyawan di sini, tentu saja dia tak asing dengan situasi di kantor ini. Kenapa aku begitu kerepotan dan ingin memperlakukannya seperti orang asing. Perasaan kacau dalam jiwaku menjadikan aku salah tingkah.


"Yuk, minum kopi," ujarnya.


"Tapi aku tak punya banyak waktu," jawabku.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4