andry natawijaya
andry natawijaya apa yang kutulis, tetap tertulis

yang enteng-enteng aja...

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

"Breaking The Fourth Wall"

13 Januari 2018   16:05 Diperbarui: 13 Januari 2018   16:08 311 0 0
"Breaking The Fourth Wall"
Sumber foto: catherinebruns.com

Persaingan industri  yang masif dan dinamis, setiap pesaing berupaya menawarkan produk dan jasa yang saling mengumbar keunggulan dan kelebihan, tetapi sebetulnya relatif sama. 

Ketika pesaing menunjukkan perkembangan namun organisasi yang kita kelola malah melempem, pertumbuhan bisnis stagnan, meningkatnya biaya operasional, menurunnya pendapatan, kondisi seperti itu memang membingungkan. 

Diperlukan adanya gebrakan dari stakeholderguna memperbaiki kinerja organisasi yang berujung kepada membaiknya kinerja bisnis, bukan hanya menggebrak meja dan bukan juga sekadar beretorika.

Masalahnya adalah bagaimana menjalin suatu mekanisme kerja yang terkoordinasi dan disertai dengan komunikasi yang mengalir antar lini dan unit kerja.  

Tidak dapat dipungkiri faktor ego dan kepentingan sepihak atau segelintir pihak di dalam organisasi kerap menjadi batu sandungan bagi perkembangan organisasi itu sendiri.

Terkadang dalam satu organisasi terbagi menjadi beberapa kubu, ada kubu A yang merupakan orang-orang bawaan salah satu petinggi, ada lagi kubu B yang merupakan orang-orang kepercayaan pemilik, bisa juga ada kubu C yang merupakan orang-orang lama yang kebingungan dan mulai terlupakan, dan masih banyak kubu. 

Semuanya tersekat dalam dinding kotak masing-masing kubu, dinding di belakang adalah pihak yang menjadi pijakan atau orang kuat di kubu tersebut, dinding kanan dan kiri merupakan batas rekan-rekan di kubu tersebut, dan dinding di depan merupakan batas antara kubu tersebut dengan kubu lain. Dengan kondisi seperti ini jangan mengharapkan terciptanya budaya organisasi yang baik.

Saya tertarik untuk menganalogikan kondisi dari setiap kubu tersebut seperti halnya panggung teater tradisional  yang terdiri dari dinding belakang sebagai latar belakang pertunjukan, lalu dinding sebelah kiri dan kanan sebagai tempat para pemain keluar masuk sesuai dengan bagian dari pertunjukan. 

Semua pemain dalam teater tentunya berkomunikasi dengan pemain lainnya sesuai lakon pertunjukan. Mereka berinteraksi sesuai dengan perannya, cukup di situ. 

Namun sesungguhnya pertunjukan tersebut tidak akan terselenggara jika tanpa adanya penonton, nah ternyata ada dinding ke empat yaitu di depan para pemain tersebut, dinding yang tidak terlihat dan menjadi pembatas antara pemain dan penonton. 

Ketika para pemain teater tersebut menyadari bahwa eksistensi di panggung hanya merupakan peran fiksi dan kemudian mereka berinteraksi dengan penonton, mereka dikatakan telah merobohkan dinding ke empat.

Analogi tersebut sangat menarik dan sesungguhnya merupakan sindiran bagi para pihak yang katanya profesional namun memiliki sikap dan pola pikir kekubuan. Idealnya apa yang dilakukan dan yang dikerjakan secara profesional tujuannya adalah untuk kemajuan organisasi. 

Jika masih berpikir secara keberpihakan, lebih baik hengkang dan mendirikan bendera sendiri, sekalian saja para pengikutnya diajak pula. 

Bersaing secara sehat demi prestasi merupakan hal yang wajar, tetapi jika persaingan hanya mengakibatkan melempemnya kinerja organisasi, hal tersebut bagi saya adalah tindakan bodoh, karena dengan buruknya kinerja organisasi berarti juga mendeskripsikan buruknya kinerja stakeholder. Lantas apa yang mau dibanggakan? Paling hanya menggembar-gemborkan masa lalu, rasanya sudah kadaluarsa.

Merobohkan dinding ke empat sekaligus menembus batas yang selama ini menjadi sekat pemisah, kemudian berinteraksi dengan unit lain menjalin komunikasi dan kerjasama yang baik. 

Merancang rencana bisnis yang terintegrasi dengan tolok ukur yang juga searah disertai pula dengan visi misi yang sama. Berbeda pandangan dalam organisasi merupakan hal yang lumrah, tetapi hal perlu diingat, tujuan utama yang menjadi sasaran adalah kepentingan organisasi. 

Ketika komunikasi dan koordinasi terjalin dengan arah yang jelas, semuanya mengalir dan kompak, terciptanyalah yang dinamakan dengan sinergi (dalam bahasa Inggris disebut synergy, saya suka menyebutnya dengan kepanjangan synchronize energy).

Sinergi merupakan komponen utama untuk terciptanya budaya organisasi yang baik, yang kompak  dan yang dapat menjadi landasan bagi semua pihak di organisasi tersebut. 

Namun untuk menembus dan merobohkan dinding ke empat pada awalnya pasti sulit, karena ini memang mengubah perilaku. Jika ada opini yang mengatakan bahwa guna merombak budaya organisasi membutuhkan role model dari para pemimpinnya, itu saya rasa betul juga, tetapi jika kita hanya menunggu dan ternyata yang diharapkan menjadi role model itu tidak kunjung memberikan teladan, saya rasa tidak betul juga. 

Sebaiknya upaya merobohkan dinding ke empat itu dimulai dari diri kita sendiri. Menjadi seorang profesional dan memberikan kontribusi yang baik antar unit serta antar individu, setidaknya membantu dalam ruang lingkup tugas dan tanggung jawab. 

Tidak perlu banyak berkoar soal kompetensi diri sendiri apalagi menjatuhkan pihak lain, lakukan yang terbaik, jadi rekan yang berguna, saya rasa itu adalah langkah yang cukup membantu.

Dalam permainan sepakbola, untuk mencapai kemenangan diperlukan kerjasama tim yang baik, tetapi untuk mendatangkan kekalahan cukup disebabkan oleh kesalahan dari salah satu pemain. 

Demikian pula dalam organisasi, untuk mencapai tujuan yang diharapkan, target bisnis yang harus dipenuhi, membutuhkan kerjasama dari semua lini organisasi, sedangkan jika ingin merusaknya sangat mudah bisa dilakukan oleh satu orang saja. Merusak lebih mudah daripada membangun.

Ketika organisasi berkembang dan pencapaian target bisnis berhasil dipenuhi, kinerja organisasi menjadi baik, tentunya peran dan kontribusi dari semua pihak patut diapreasiasi. 

Bukankah itu merupakan hal yang membanggakan? Together as one, seperti halnya lagu dari band Stryper, lebih baik kita secara bersama-sama menjadi satu kesatuan. Memang tidak pernah ada suatu organisasi yang sempurna, jika kita selalu mengaharapkan adanya organisasi yang semuanya sesuai dengan yang kita inginkan, itu namanya halusinasi. 

Organisasi dengan segala kekurangannya dapat diperbaiki dan memang perlu dibangun. Setiap tahap perbaikan yang telah tercapai pun pasti masih memiliki banyak kekurangan, dan itu merupakan tantangan bagi kita untuk menunjukkan kemampuan bahwa kita bisa meningkatkan kapasitas organisasi sekaligus mengaktualisasikan diri, tetapi ingat jika berhasil jangan menjadi sombong.

***

Menghadapi konflik dan intrik organisasi dengan budaya kekubuan merupakan pengalaman yang melelahkan dan menjemukan. Memang manusia sering lupa diri dan lupa ingatan. Dirinya telah ada di tempat lain namun ingatannya entah ada di tempat yang mana.

Di mana pun kita berada, memang lebih baik kita dapat beriteraksi dengan lingkungan sekitar. Selalu merobohkan dinding ke empat, karena pada dasarnya manusia merupakan mahluk sosial.

"Now is the time that we stand together as one..." Seperti yang dilantukan Stryper, bersatulah. Robohkan dinding ke empat!