Andre Rezza Syah Putra
Andre Rezza Syah Putra content-copy writer

Peraih cinta sepanjang masa dari orang tuanya. andrerezzasp@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Muda Artikel Utama

Berhentilah Menghakimi "Mahasiswa Abadi"

1 Januari 2018   03:13 Diperbarui: 2 Januari 2018   04:23 2385 7 7
Berhentilah Menghakimi "Mahasiswa Abadi"
Ilustrasi: Shutterstock.com

Entah dimulai sejak kapan, mahasiswa yang telat lulus dari waktu normal disebut "Mahasiswa Abadi". Predikat telat lulus pun ditetapkan dari waktu normal untuk mengambil seluruh SKS yang harus ditempuh. 

Waktu normal untuk mahasiswa S-1 selama 4 tahun, dan untuk mahasiwa Diploma III selama 3 tahun. Namun, istilah Mahasiswa Abadi ini lebih sering mengikat pada para calon sarjana yang gagal menyelesaikan studi selama delapan semester. Pantaskah mereka dihakimi dengan sebutan jahat itu?

Standar waktu kelulusan memang sangat berdasar. Untuk seluruh SKS yang harus ditempuh agar bisa disebut sarjana memang telah terukur. 

Namun, jika bersedia menilik lebih dalam apa saja problema yang dihadapi seorang mahasiswa maka akan ditemukan banyak penyebab mengapa adanya Mahasiswa Abadi. 

Untuk alasan malas kuliah, bermasalah di dalam kelas, atau karena kenakalan pribadi tentu saja sudah tidak perlu dijelaskan. Namun, mahasiswa yang gagal lulus dalam waktu normal tidak semuanya nakal dan malas kuliah.

Menemukan Passion

Berbagai hal bisa membuat seseorang tidak mendapatkan jalan yang lancar untuk segera wisuda. Yang paling sering terjadi adalah ketika seorang mahasiswa menemukan passion

Saat berada dimasa perkuliahan, banyak mahasiswa yang akhirnya menemukan apa yang membuat dirinya senang, nyaman, atau bisa berkembang. Contohnya saja terjun dalam dunia bisnis. 

Apakah salah seorang mahasiswa sudah langsung terjun dalam bisnis? Jika dikatakan salah dan alasannya karena harus merampungkan studinya dibangku kuliah, maka pendapat ini terlalu egois dan memojokkan. 

Kesempatan berkembang dalam dunia bisnis tentu tidak dijumpai disembarang waktu. Jika mengesampingkan bisnis yang diyakini mampu berkembang sukses dan memilih kuliah maka dikemudian hari bisa jadi kesempatan itu tidak lagi ditemui. Memang apa salahnya lebih dulu berpenghasilan daripada lebih dulu bergelar sarjana?

Fokus Kuliah vs Membantu Keluarga

Lalu, terdapat juga keadaan yang memaksa mahasiswa untuk tidak bisa fokus kuliah. Biasanya, keadaan yang paling sering menjadi latar belakang adalah soal keadaan ekonomi. Seorang anak yang sudah dianggap dewasa, sudah sepantasnya membantu orang tua. 

Bagi para orang tua yang kaya atau serba berkecukupan, pastinya tidak akan repot untuk membiayai anaknya kuliah dan melengkapi segala kebutuhan. 

Lantas bagaimana jadinya pada seorang mahasiswa yang terlahir dari keluarga tidak mampu? Kuliah sambil bekerja menjadi pilihan yang tidak bisa dihindari. Bahkan, tidak sedikit pula mahasiwa yang menjadi tulang punggung keluarganya atau penyokong keuangan keluarga.

Orang tua dari para mahasiswa umumnya telah memasuki usia senja. Berbagai hal menimpa seorang mahasiswa dan memberi tekanan yang tergolong berat untuk anak muda. Misalnya orang tua yang jatuh sakit, bisnis orang tua hancur, atau bahkan kehilangan orang tua yang selama ini menjadi sumber motivasi untuk segera wisuda. 

Jika tidak bisa membantu banyak, banyak-banyaklah mendoakan. Jika enggan mendoakan, cukup ringankan beban mereka dengan berhenti menghakimi para "Mahasiswa Abadi".

Masih pantaskah selalu menghakimi mahasiswa yang tak bisa lulus tepat waktu? Selami terlebih dahulu apa yang menjadi penyebab seorang mahasiswa gagal menyelesaikan studi dalam jumlah semeter yang normal. 

Tidak semua mahasiswa sengaja membuat dirinya gagal lulus tepat waktu. Tidak semua mahasiswa pula kebal dalam ejekan dunia soal Mahasiswa Abadi. Justru, ejekan yang bisa jadi bernada candaan justru bisa membuat terjadinya demotivasi dan rasa percaya diri yang menurun. 

Segera menyelesaikan studi tidak selalu menjadi prioritas utama seorang mahasiswa. Selain kedua latar belakang tadi, masih banyak hal-hal lainnya yang bisa membuat seorang mahasiswa tidak bisa menyelesaikan studi secara tepat waktu. 

Banyak hal yang bisa jadi lebih perlu didahulukan dibandingkan hanya sekadar menghindari sanksi sosial berupa ejekan dan sindiran.