Mohon tunggu...
Andi Saddam Khusein
Andi Saddam Khusein Mohon Tunggu... Sahabat semua

Editor Pojokbekasi.com Blog pribadi saya http://andisaddam.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Viral Donasi Kuliah di Turki dan Soal Universitas Terbuka

10 November 2019   10:36 Diperbarui: 10 November 2019   10:45 0 0 0 Mohon Tunggu...
Viral Donasi Kuliah di Turki dan Soal Universitas Terbuka
Mahasiswa Universitas Terbuka | Jaket almamater UT berwarna kuning. (Foto: ut.ac.id)

Belakangan ini publik tengah diramaikan dengan penggalangan dana untuk seorang anak asal Jawa Timur yang ingin kuliah di Turki melalui jalur mandiri.Kalau tidak salah, penggagas donasi pada sebuah laman crowdfunding mematok angka Rp50 juta disertai dengan rincian biaya berkuliah dan hidup untuk satu tahun. Reaksi netizen yang 'mahabenar' pun menyeruak.

Berdasarkan pengamatan saya atas reaksi netizen, ada tiga hal yang mereka permasalahkan. Pertama, soal anak itu yang berkali-kali gagal lolos masuk perguruan tinggi negeri (PTN) atau bisa dibilang tak begitu berprestasi secara akademik; kedua, peringkat dunia universitas itu yang jauh dibandingkan banyak universitas di Indonesia; dan ketiga, biaya yang besar.

Mungkin ceritanya akan berbeda jika anak itu diterima oleh perguruan tinggi nomor 1 di Turki melalui jalur beasiswa dan dia kebingungan tiket pesawat serta biaya hidup di sana. 

Banyak netizen yang menganjurkan agar anak itu berkuliah saja di kampus swasta dalam negeri. Nah, mungkin ini saat yang tepat bagi saya untuk memperkenalkan Universitas Terbuka (UT) kepada khalayak. Banyak masyarakat yang belum tahu tentang UT, kalaupun tahu biasanya informasi tak lengkap atau cenderung bias.

Singkat kata, kalau ingin kuliah di PTN, tak pakai seleksi masuk, biaya murah, dan bisa sambil kerja, UT-lah solusi yang paling tepat. Izinkan saya mengupasnya satu per satu:

1. Universitas Terbuka adalah perguruan tinggi negeri

Yap! UT adalah PTN ke-45 di Indonesia. Resmi berdiri pada 4 September 1984. Pak Harto, presiden kedua RI, yang meresmikan UT saat itu.

Saat ini UT punya 4 fakultas, yakni Fakultas Ekonomi (Fekon); Fakultas Hukum Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FHISIP); Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA); dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) baik untuk jenjang sarjana atau diploma.


2. Tak ada seleksi masuk di UT

Benar sekali. Tak ada seleksi masuk. Singkat cerita, kita otololos menjadi mahasiswa PTN.

UT, sesuai namanya, menerapkan sistem terbuka. Apa artinya? Artinya tak ada pembatasan usia, tahun ijazah. Asalkan sudah lulus SMA atau sederajat, maka kita bisa berkuliah di sini.

Bagaimana cara mendafar di UT? Alurnya sederhana, cukup datang ke UPBJJ (daftar lokasi UPBJJ) atau kantor cabang (setiap kota ada) membayar Rp100 ribu dan kita akan mendapat dua buku bernama katalog.

Pertama, katalog (PDF) sistem penyelenggaraan. Di buku ini kita akan mengetahui seluruh aturan dan mekanisme berkuliah di UT. Kedua, katalog kurikulum semua fakultas. Ini berguna bagi kita yang akan memutuskan untuk memilih fakultas mana dan mata kuliah yang mana (apabila memilih sistem nonpaket).

Pada sistem nonpaket (non-SIPAS) kita bebas memilih mata kuliah yang mana dulu, dan berapa mata kuliah per semester. Bagi yang sibuk dan tak ingin lulus dalam jangka waktu normal, ini pilihan yang tepat. Dalam satu semester kita bisa memilih ini.

Sistem ini akan kami bahas lebih lanjut pada tulisan mendatang, ya.

3. Biaya murah

Berapa sih biaya per semester kuliah di UT? Banyak yang bertanya seperti itu. Sebenarnya hal ini sudah ada pada katalog UT.

Tiap sistem paket dan fakultas memiliki biaya yang berbeda. Misal kita ambil sistem paket semester (sipas) plus, biayanya hanya Rp2.400.000 per semester. Itu sudah termasuk biaya UAS, biaya modul (bahan ajar), biaya kuliah pekanan dengan dosen (di UT disebut TTM), dan lainnya.

Kalau kita ambil kuliah online penuh (tak ada tatap muka, di UT disebut sipas non-TTM), biayanya hanya Rp1.300.000 per semester.

Kalau mau ambil sistem nonpaket? Biaya cuma Rp36.000 per SKS untuk prodi matematika. Jika satu semester  ingin mengambil 21 SKS, maka tinggal kalikan saja.

4. Bisa sambil kerja

Yap! Pekerja lapangan seperti saya, dengan jadwal dan waktu kerja tak tentu, cocok kuliah di UT. Apalagi pegawai kantoran yang jadwal dan waktu kerjanya sudah tetap, tentu lebih mudah.

Kalau orang bilang di UT itu UAS saja, tak benar lah. Ada kegiatan belajar-mengajar secara daring (online) ada delapan pekan atau dua bulan.

Selama itu tiap hari kita mesti berdiskusi mengenai materi tertentu, mengisi soal, dan mendapat tugas dari tutor. Nilai tutor itu akan membantu nilai UAS kita.

Kalau ingin ada kegiatan perkuliahan sebagaimana mestinya, kita bisa ambil TTM dengan kepanjangan tutorial tatap muka alias kegiatan perkuliahan seperti biasa.

Pada TTM kita diajari dosen secara langsung. Jadwal TTM berkisar pada hari Sabtu dan Minggu selama 8 pekan. Kalau kita ambil paket Sipas Plus dan Sipas Penuh, biaya per semester sudah termasuk biaya TTM.

Tapi kalau kita ambil paket Nonsipas dan Sipas non-TTM, maka kita mesti bayar Rp150.000 per mata kuliah.

TTM ini cocok bagi mahasiswa UT yang baru lulus SMA dan masih menginginkan atmosfer kegiatan belajar tatap muka. Bagi saya dengan gap years 10 tahun, saya lebih senang belajar sendiri dengan mengupas bahan ajar.

Jadi, sebenarnya banyak pilihan untuk berkuliah kok. Tapi, jangan kubur impianmu untuk berkuliah di luar negeri. Masih ada jenjang S-2, dan S-3. 

Lebih baik kita berkuliah S-1 dulu, lalu memiliki penghasilan sendiri, dan berkuliah di luar negeri dengan biaya sendiri. Kalaupun uangnya tak cukup, jalur beasiswa bisa jadi pilihan.

Semoga pembaca dapat memetik manfaat dari tulisan ini. Terima kasih.