Mohon tunggu...
Ananta Damarjati
Ananta Damarjati Mohon Tunggu... Wartawan -

Wartawan partikelir | Alumni Ponpes Kedunglo, Kediri |

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Masih Meludah Sembarangan, Siapkah Kita Jadi Tuan Rumah yang Baik?

8 Agustus 2018   00:00 Diperbarui: 9 Agustus 2018   20:21 1413
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Barangkali meludah memang menyenangkan. Semasa bocah, saya sering diajak lomba jauh-jauhan meludah. Seorang kawan kerap mendapat benefit dari memenangkan lomba ini, ia bocah paling tua di antara kami dan bisa meludah sejauh tiga meter. 

Ia mengatakan kalau dirinya punya semacam amalan agar ludah bisa meluncur jauh. Di sekolah kami belajar soal fisika gaya tolak, tetapi kami selalu percaya bahwa amalannya dia memang mujarab.

Banyak kita masih menganggap meludah tidak melanggar apapun. Ia lumrah sebagai kebiasaan dan---malah---baik bagi kesehatan kalau kita sedang sakit flu. Padahal, jika orang yang meludah terinfeksi EV71 alias enterovirus 71, maka virus itu akan menyebar melalui air liurnya.

Berikut adalah kutipan penting dari ahli: Virus EV71 yang menyebabkan penyakit mulut, kaki dan tangan ini sangat menular. Virus ini disebarkan melalui kontak langsung dengan lendir, air liur atau kotoran orang yang terinfeksi virus ini. Balita paling rentan terkena virus ini karena sistem kekebalan tubuh mereka yang masih lemah.

Penyakit ini awalnya ditandai dengan demam, kulit melepuh, bisul-bisul di mulut, dan bintil-bintil merah pada kulit. Pada kasus yang gawat, EV71 bisa menimbulkan kerusakan otak, jantung dan paru-paru. 

Tentu saja tidak aduhai jika semasa Asian Games berlangsung, skenario tak terduga terjadi dan kita mendengar berita "Perempuan Cantik Thailand positif virus EV71 setelah terkontak ludah di trotoar GBK".

Berita garing seperti itu tentu bukan hanya tidak lucu, tetapi juga membuat kita bingung taruh muka di hadapan komunitas internasional. Sebab konon, daripada tempeleng, ludah lebih bisa membunuh dan atau meniadakan eksistensi manusia. Diludahi akan terasa lebih sakit daripada ditempeleng sampai jontor. Pemain bola bisa terkena kartu merah kalau meludahi muka pemain lain.

Bukan cuma di bola, sutradara film tidak akan menampilkan adegan meludah bila tidak sangat kontekstual. Mereka pun tahu, seseorang bisa dianggap tak punya "etika" kalau meludah tak tahu tempat. Ya, ludah bukan sembarang lendir, ia terikat oleh etika. 

Kita bisa sebentar mencari, bahwasanya kata "etika" dekat dengan tradisi pemikiran Aristoteles ---diambil dari Nicomachean Ethics. Etika kata dia, adalah refleksi tentang standar atau norma yang menentukan baik buruk, benar salah perilaku, tindakan dan keputusan seseorang.

Pada akhirnya etika dipandang sebagai seni hidup yang mengarahkan ke kebahagiaan dan kebijaksanaan. Apakah meludah di ruang publik menambah kebijaksanaan? Apakah ludah kita membuat orang lain bahagia?

Ludah warga Jakarta mungkin bukan perkara besar di hadapan Asian Games 2018. Ia tidak ada hubungannya dengan pembahasan yang lebih substansial, katakanlah semisal, soal prestasi atlet atau target medali emas. Tapi, ludah bisa jadi kerikil dalam kaos kaki.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun