Lihat ke Halaman Asli

Para Penunggang Angin

Diperbarui: 7 Januari 2017   22:30

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kita bukan lagi menggenggam telepon genggam tetapi digenggam telepon genggam. Apakah menjadi sama ketika kita tak lagi menggenggam informasi tetapi digenggam informasi? Mereka mencengkeram kita!

Sayangku,  

Apa kabarmu. Apakah engkau sedang menatap senja yang tak jingga itu? Seperti katamu, senja yang tak jingga adalah senja juga, yang akan matang menjadi malam. Suka atau tak suka. Sialnya kita adalah pecinta warna. Tetapi izinkan aku bertanya, kita pecinta warna atau pecinta cahaya yang terpantul ke mata kita, apapun warna pantulannya?

Ah, pasti kita akan berdebat panjang soal itu. “Pendapat pecinta senja akan berbeda dengan penyembah walang sangit,” katamu. Ya, kita akan berdebat panjang soal itu. Kita bisa duduk 9 jam tanpa beranjak dan dirimu dengan sabar meladeni kekeraskepalaanku. Apakah kamu bosan?

Tidak ada kebenaran mutlak, semua kebenaran adalah separuh kebenaran. Mereka yang coba memperlakukan sebagai kebenaran mutlak itulah sebagai syaitan. Kebenaran selalu memberi ruang perdebatan, begitukah? Ah, kan aku hanya mengutip Alfred Noth Whitehead, filsuf dan ahli matematika dari Inggris itu,  agar setidaknya aku menang sesaat berdebat, eh bediskusi denganmu. Kautahu, aku hanya ingin terlihat pintar di depanmu. Lebih dari itu, aku hanya ingin menikmati waktuku bersamamu.

Sayangku,
Kita tidak lagi berdebat tentang siapa syetan itu, bukan? Kita sedang berbicara tentang kebenaran (tepatnya fakta) dari informasi yang membanjir saat ini. Seperti kalimat awalku, apakah kita pecinta warna atau pecinta cahaya yang dipantulkan warna? Begitu kita menyalakan HP dan engkau selalu mengucapkan “Selamat pagi, My Sunset”, maka informasi itu segera menghantam ruang kita dari berbagai penjuru.

Kita seolah akan menjadi Flintstone ketika sesaat saja tak tahu Om Telolet atau Fitsa Hats. Sampai pada detik ketika engkau mengirimkan sebuah pesan, aku lelah, My Sunset. Kapankah kita bisa merasakan pagi yang tanpa gegas dan senyap? Kita bukan lagi menggenggam telepon genggam tetapi digenggam telepon genggam. Apakah menjadi sama ketika kita tak lagi menggenggam informasi tetapi digenggam informasi? Mereka mencengkeram kita!

Sayangku,
Negeri ini memang sungguh riuh. Sementara kita seperti manusia gua yang tiba-tiba terpapar cahaya ribuan candela. Sama-sama menjadi silau bahkan buta dan kita perlu berjalan meraba-raba dan siap terjerembab ke dalam jurang asing itu.

Entah sejak kapan negeri yang memang mengapung di atas cincin api ini mengubah hati warganya menjadi api. Kita gampang membenci dan memaki sebaliknya juga gampang mencinta sekaligus memuja setengah gila. Sialnya, yang kita puja adalah politikus yang bisa berubah menjadi musang setiap saat. Sadarkah kita?

Kebencian dan cinta yang tak kalah butanya itu, siapakah yang diuntungkan? Siapakah para penunggang angin itu?

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline