Lihat ke Halaman Asli

Agama, Kekerasan, dan Semangat Perdamaian

Diperbarui: 24 Juni 2015   23:28

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Sidik Nugroho*)

"Demokrasi itu bukan hanya tak haram, tapi wajib dalam Islam. Menegakkan demokrasi itu salah satu prinsip Islam, yakni syuro."

~ Abdurrahman Wahid

Saat ini, manakala kekerasan atas nama agama makin sering terjadi, publik membutuhkan suara-suara yang lantang untuk dijadikan panutan. Film Innocence of Muslims yang menyulut berbagai reaksi anarkis di berbagai penjuru dunia, juga Indonesia, menantang kita untuk memikirkan kembali apa itu demokrasi, toleransi, juga perdamaian.

Publik mungkin merindukan sosok Abdurrahman Wahid, mantan presiden dan guru bangsa yang suka bicara ceplas-ceplos itu. Pada tanggal 30 Desember 2009, pukul 18.45, sosok yang akrab disapa Gus Dur itu menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Pada tanggal 29 September 2012, genaplah 1000 hari beliau meninggalkan dunia yang fana ini.

Gus Dur memiliki pandangan yang luas tentang kebangsaan. Beberapa pandangan dan kiprahnya memicu kontroversi. Contohnya, ia pernah menyarankan mengganti ucapan "assalamualaikum" dengan "selamat pagi", "selamat siang" atau "selamat malam". Ia pernah membuka Malam Puisi Yesus Kristus di sebuah gereja. Ia pernah hadir dalam National Prayer Conference pada bulan Mei tahun 2003 dan didoakan seorang pendeta bernama Cindy Jacobs.

Gus Dur bahkan sempat melakukan kunjungan ke negara Israel saat menjadi presiden. Gus Dur juga mencabut Inpres (Instruksi Presiden) nomor 14 tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina yang juga melarang perayaan Imlek. Sebagai gantinya ia mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19 tahun 2001 pada tanggal 9 April 2001 yang menyatakan Imlek sebagai hari raya masyarakat Konghucu.

Romo Benny Susteyo, salah seorang sahabat Gus Dur, pada saat acara Dialog Muda Membangun Karakter Bangsa: Refleksi Pemikiran dan Aksi Abdurrahman Wahid, Nurcholis Madjid, Moeslim Abdurahman pada 15 Agustus 2012 menyatakan bahwa Gus Dur melihat agama tidak hanya sebagai teks yang kaku. "Agama selama ini hanya dilihat sebagai suatu yang kering sehingga memberatkan, bukan malah membebaskan. Gus Dur melihat, agama harus diaktualisasikan ke dalam konteks sehingga tidak kaku dan kita mendapat kebebasan dari perasaan damai yang dicapai," katanya.

Pandangan Gus Dur tentang agama dipengaruhi oleh tokoh-tokoh yang punya reputasi internasional. Dalam sebuah tulisannya di Tempo, 21 Mei 1983, Gus Dur mengisahkan perjuangan Uskup Agung Helder Camara yang menerima Hadiah Niwano Yayasan Perdamaian Niwano di Jepang.

Gus Dur menyatakan bahwa perjuangan Uskup Helder yang adalah seorang Katolik juga dipengaruhi oleh Mahatma Gandhi, seorang Hindu dan Martin Luther King, Jr., seorang Protestan. Ia menyatakan, "... keteguhan mereka untuk berjuang secara militan tanpa kekerasan adalah sesuatu yang secara universal dapat dilakukan kalangan manapun... Bukankah dengan saling pengertian mendasar antaragama seperti itu, masing-masing agama akan memperkaya diri dalam mencari bekal perjuangan menegakkan moralitas, keadilan, dan kasih sayang?"

Tantangan bagi Dunia Pendidikan

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline