Lihat ke Halaman Asli

Rudy Wiryadi

Apapun yang terjadi

Pakar Ilmu Komunikasi UGM Sebut Protes Bos MNC Group Siaran Analog Dimatikan Timbulkan Paradoks

Diperbarui: 7 November 2022   11:12

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Menonton TV Analog (banjarmasinpost.co.id)


Mungkin karena kurang sosialisasi, dilansir dari JPM (Jawa Pos Multimedia) TV, sejumlah warga Desa Ketos, Kabupaten Serang, Banten merasa terkejut karena pada 3 Nopember 2022 yang lalu mereka tiba-tiba kehilangan tontonan siaran TV Analog mereka.

Namun berkat gaung migrasi dari TV Analog ke TV Digital seperti yang banyak didengungkan dan penjelasan dari mereka yang mengerti, mereka akhirnya sadar bahwa pemerintah sudah mulai menyuntik mati TV Analog dan mulai Digital per 3 Nopember 2022.

Mereka pun sadar jika ingin digital, maka mereka harus membeli STB (Set Top Box) untuk menangkap siaran TV Digital tersebut.

Warga desa adalah warga yang tidak mampu untuk membeli STB yang berharga antara Rp 190-Rp 220 ribu itu, oleh karenanya mereka berharap pemerintah memberikan secara gratis STB tersebut.

Warga Desa Ketos tersebut belum mempunyai STB dan belum dibagikan secara gratis oleh pemerintah seperti yang sudah dilakukan kepada masyarakat lainnya.

Dilihat dari kenikmatan menonton TV Digital itu maka kemajuan teknologi ini selain gambarnya bagus, suara jernih, juga banyak pilihan programnya.

Namun seperti apa yang dikatakan oleh Profesor Hermin Indah Wahyuni, Pakar Komunikasi dan Guru Besar UGM (Universitas Gadjah Mada), suntik mati TV Analog akan menghemat pita frekuensi, meningkatnya kecepatan internet 5G, dan memperluas penangkapan sinyal di wilayah blank spot.

Wanita yang juga menjabat Dekan FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) UGM itu angkat bicara menanggapi protes yang diungkapkan oleh bos MNC Hary Tanoesoedibjo.

Melalui media sosial nya Hary Tanoesoedibjo menyatakan keheranannya mengapa harus ASO (Analog Switch Off) dan beralih ke TV Digital.

Menurutnya, hal itu akan memberatkan rakyat yang tidak mampu karena mereka harus membeli STB.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline