Lihat ke Halaman Asli

Mahasiswa Itu Kaum Intelektual, Katanya

Diperbarui: 24 Juni 2015   16:33

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Gadget. Sumber ilustrasi: PEXELS/ThisIsEngineering

saya masih ingat dengan ungkapan bahwa mahasiswa itu adalah kaum intelektual. saya juga masih ingat kalau saya ini dulu mahasiswa. tapi toh saya juga bukan orang intelektual yang pintar bin cerdas.

saya tidak sedang membicarakan diri sendiri, tapi hanya ingin bercermin saja. sejujurnya bukan hanya saya saja yang harus bercermin, tapi mahasiswa yang lain juga harus bercermin. karena jujur saja, menurut pendapat saya, mahasiswa itu bukan lagi kaum intelektual.

kenapa saya bisa ambil kesimpulan begitu. mari kita lihat berita di televisi berita, baik itu di channel televisi merah atau di channel biru televisi. hampir setiap hari kita disuguhkan berita ada mahasiswa yang tawuran dan rusuh antar kampus. itu sih tingkat maksimalnya. tapi kalau tingkat minimalnya, ya mereka berdiri di atas mobil pick up dan berteriak-teriak pakai toa.

kadang-kadang saya bosan melihat siaran berita seperti itu. karena menurut pendapat saya, mahasiswa itu masih dibutuhkan sebagai kaum intelektual. untuk apa mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun mengantongi kartu mahasiswa, hanya untuk mendapat pengakuan di dunia pergerakan mahasiswa.

iya sih, dunia pergerakan mahasiswa itu penting. mungkin bisa dibilang itu sebagai ajang untuk mengaplikasikan diri dan ajang mengekspresikan darah muda yang sedang mendidih. tapi, apa tidak ada hal yang lebih penting dilakukan?

saya masih ingat ketika mantan wakil presiden jusuf kalla datang menengok korban banjir bandang di waduk situ gintung. disana ada mahasiswa yang berteriak-teriak menentang kehadiran wakil presiden. kata mahasiswa itu, kehadiran wakil presiden untuk meninjau itu tidak penting. yang lebih penting pemerintah harus bergerak cepat dan tanggap untuk menangani bencana dan merehabilitasi korban.

saya jadi bertanya-tanya sendiri, jangan-jangan mahasiswa itu juga tidak punya kerjaan selain orasi. bukankah daripada berorasi di depan wakil presiden dengan membawa toa, mereka lebih bermanfaat mengangkat cangkul bersama masyarakat membersihkan sisa banjir bandang. atau setidaknya mereka bisa membuka posko peduli situ gintung.

kembali lagi ke masalah mahasiswa yang katanya kaum intelektual. saya tidak tahu pasti ada berapa banyak mahasiswa yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. saya juga tidak tahu pasti berapa persen dari lulusan perguruan tinggi itu yang menjadi pengusaha, wiraswastawan, karyawan, atau sejenisnya. tapi rasanya tidak banyak.

saya tahu betul banyak mahasiswa yang dengan bangganya bercerita meraih IPK cum laude saat mereka yudisium dan wisuda. saya hanya bisa tersenyum satire saat mereka bercerita punya IPK cum laude, karena jujur saja IPK saya tidak bagus-bagus banget. malah bisa dibilang pas-pasan.

tapi di kemudian hari saya bisa tertawa di atas penderitaan orang lain, karena saya yang IPK-nya pas-pasan ini bisa dapat kerja di tempat yang saya senangi, dan saya nyaman dengan pekerjaan itu. sedangkan teman saya yang IPK-nya cum laude itu, hampir setahun menganggur karena lamaran kerjanya tidak kunjung diterima. mulai dari instansi swasta, pemerintah, BUMN, kompak menolak lamaran kerjanya.

belakangan dalam sebuah obrolan, dia mengaku sudah beberapa kali melamar menjadi PNS di beberapa lembaga pemerintah dengan modal IPK cum laude, tapi tak kunjung lulus. dia juga mengaku sudah beberapa kali melamar ke bank BUMN dan bank swasta supaya bisa diterima menjadi teller, tapi tidak juga diterima.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline