Lihat ke Halaman Asli

Ikhwanul Halim

TERVERIFIKASI

Penyair Majenun

Pada Putih Mata Mereka

Diperbarui: 24 Januari 2023   22:58

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

https://www.republika.co.id/berita/rhcqtm484/bandara-kualanamu-akan-buka-tujuh-rute-ke-asia-selatan-akhir-2022

Pintu terbuka dan kami masuk ke dalam gerbong kereta yang akan membawa kami ke tujuan akhir. Kami duduk di kursi vinil, paha berbalut denim bersentuhan, tangan di sisi kami bertemu.

Aku mengatakan kepadanya bahwa semuanya akan baik-baik saja, dan akan menjadi lebih mudah, karena meskipun tidak, apa lagi yang bisa kukatakan?

Dia menganggukkan kepalanya dan bersandar di bahuku. Napasnya yang pendek mengembus tengkukku.

Aku menatap peta rute yang terpampang di dinding kereta yang putih kotor. Garis biru lingkaran dan perhentian, kata dan nama stasiun, ke sini dan kemudian ke kini.

Aku melihat ke bawah ke kepalanya yang sedang beristirahat dan mempelajari pembuluh darah ungu halus yang muncul dari pelipisnya. Segitiga yang menyebar di sepanjang telinganya dan di bawah garis rambutnya.

Aku memikirkan darah yang mengalir melalui pembuluh vena yang akan mendorongnya sampai akhir hari ini, sampai besok dan ke tempat baru.

Di seberang kami, sebuah keluarga yang khidmat duduk bertengger di atas barang bawaan mereka. Jari-jari mereka bagai terikat di pegangan koper plastik.

Aku membayangkan kehidupan dan nasib mereka di luar pintu kereta. Dan tentang kami dalam gelembung di dunia, hidup kami terjerat bersama.

Dia meremas tanganku, denyut kecil penegasan, kepakan terakhir. Aku tida balas meremas, membiarkan tangannya yang lelah terlepas dari tanganku ke celah di antara pinggul kami. Dia berbisik di telingaku.

"Kenapa kamu tidak membalas genggamanku?"

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline