Mohon tunggu...
Amirudin Mahmud
Amirudin Mahmud Mohon Tunggu... Guru - Pendidik dan pemerhati sosial-politik

Penulis Buku "Guru Tak Boleh Sejahtera" Bekerja di SDN Unggulan Srengseng I Indramayu Blog. http://amirudinmahmud.blogspot.com/

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Pelajaran di Balik Erupsi

9 Desember 2021   11:47 Diperbarui: 9 Desember 2021   12:00 111 8 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Indonesia kembali berduka. Gunung Semeru kembali erupsi. Erupsi adalah proses keluarnya lava dan gas dari gunung berapi. Prosres keluarnya material terbagi menjadi dua ketegori yaitu letusan dan nonletusan. Erupsi letusan adalah erupsi yang disertai dengan tekanan tinggi yang membuat material terlontar ke angkasa. Biasaya diiringi ledakan dahsyat yang menyebabkan kerusakan lebih luas. Sementara erupsi nonletusan biasanya magma keluar dalam bentuk lelehan. Erupsi tipe ini juga sangat berbahaya karena lelehan lava bisa meluncur dengan kecpatan tinggi. Lava memiliki suhu tak kurang dari 648 derajat celcius. Bisa menghancurkan kehidupan dan pemukiman.

Erupsi gunung yang terletak di kabupaten Lumajang  Jawa Timur tersebut telah memakan korban. Puluhan orang meninggal dunia, ratusan orang luka-luka dan ribuan orang mengungsi meninggalkan rumah guna menghindari ancaman dan bahaya. Angka korban terus bergerak seiring evakuasi yang dilakukan petugas gabungan dan sejumlah relawan.  Seperti diketahui gunung Semeru erupsi sejak Sabtu sore 4 Desember 2021.

Di sebuah warung, seorang ibu menjerit histeris ketika menyaksikan berita erupsi gunung tertinggi di pulau Jawa tersebut. Dia tak kuasa menahan tangis. Suaminya menegur, kenapa menangis? Sang suami menganggapnya lebay, berlebihan. Saya tersenyum menyaksikannya. Sebenarnya andai bisa saya juga ingin menangis membayangkan apa yang akan dialami masyarakat yang hidup dibawah gununung dengan ketinggian 3.767 meter tersebut.

Tidak ada yang salah saat orang gampang menangis. Dalam banyak kesempatan dan peristiwa Nabi Muhammad SAW pun menangis. Ketika mendengarkan lantunan Al Quran yang dibacakan para sahabat perlahan-lahan air mata berkumpul di sudut mata beliau. Istrinya Aisyah kerapkali menyaksikan rasullullah SAW menangis di tengah salat malam yang dilakukan. Aisyah melaporkan beliau menangis sampai jenggotnya basah oleh air matanya. Kepada Abu Dzar, Nabi SAW pernah bersabda jika engkau mampu menangis, maka menangislah. Jika tidak rasakanlah di dalam hatimu kesedihan. Berusahalah menangis, karena hati yang keras jauh dari Allah.

Berusaha menangis itu disebut tabaki. Tabaki sangat dianjurkan dalam ajaran agama. Menangis dan berusah menangis (tabaki) dapat melembutkan hati. Allah SWT pernah menggambarkan orang baik dengan menyebut bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah Yang Maha Pengasih, mereka rebah bersujud dan menangis (QS 17:109).

Menangis jangan dipandang sebagai sikap pesimis, cengeng,  putus asa, lemah dan ketidakberdayaan. Sebaliknya menangis adalah kelembutan hati dan wujud kasih sayang terhadap segalai tragedi kemanusian. Dan perlu pula dicatat menangis itu secara psikologis menyehatkan. Secara mental banyak manfaat yang diperoleh dari menagis. Diantaranya mengurangi stress, meningkatkan mood, melegakan perasaan, dan membunuh bakteri. Menangis nyatanya dapat membersihkan mata dari kotoran.

Menurut pakar komunikasi Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Halaman Terakhir, selain mengungkapkan kelembutan hati tangisan juga menunjukkan kasih sayang pada sesama manusia, keterlibatan dalam tragedi kemanusian, dan kepekaan kepada penderitaan orang lain. Ketika Nabi SAW ditegur karena menangisi kematian putranya, Ibrahim beliau bersabda "Tangisan ini tangisan kasih sayang".

Dalam kasus tangisan ibu  warung kopi di atas, saya melihatnya sebagai tanda awal kepedulian. Dalam KBI peduli adalah sebuah nilai dasar dan sikap memperhatikan dan bertindak proaktif terhadap kondisi atau keadaan di sekitar kita. Peduli adalah sebuah sikap keberpihakan kita untuk melibatkan diri dalam persoalan, keadaan atau kondisi yang terjadi di sekitar kita.

Dalam masyarakat kepedulian memang sudah mulai menipis. Menjadi sesuatu yang mulai langkah. Banyak orang yang acuh tak acuh dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Hal ini disebabkan banyak hal, diantaranya kehidupan yang cenderung egois, sendiri-sendiri. Terlebih ketika mereka merasa cukup dalam banyak hal. Juga disebabkan prilaku hedonisme. Hedonisme adalah pandangan atau pendapat yang meyakini kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama hidup manusia.

Jika mengkaji peradaban masyarakat Indonesia sejatinya mereka memilki kepedulian yang sangat tinggi. Gotong royong, saling membantu merupakan budaya Indonesia. Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang rukun, murah senyum, senang membantu orang lain yang membutuhkan. Sila-sila dalam Pancasila juga mencerminkan hal-hal semua. Tak heran jika sekarang banyak penggalangan dana baik secara langsung maupun secara online guna membantu saudara mereka yang terdampak di kabupaten Lumajang. Di samping itu relawan  sudah berdatangan ke lokasi dengan membawa berbagai bantuan.

Memetik pelajaran

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan