Mohon tunggu...
Aminuddin Malewa
Aminuddin Malewa Mohon Tunggu... Mencoba jelajah budaya dan menelusuri literasi

Penikmat narasi

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Artikel Utama

Mana Lebih Berbahaya, Koruptor atau Corona?

5 April 2020   15:29 Diperbarui: 7 April 2020   07:50 401 9 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mana Lebih Berbahaya, Koruptor atau Corona?
ilustrasi KPK menangkap koruptor. (sumber: KOMPAS)

Mengikuti pemberitaan seputar Corona dan ancamannya di ruang publik, mulai dari cara mengantisipasi, cara menangani sampai siapa yang harus berbuat apa, maka nampaklah bahwa publik belumlah sampai pada kesepakatan utuh tentang seperti apa sebenarnya ancaman dari si virus.

Istana punya bahasa dan gaya sendiri, publik punya ekspektasi sendiri dan selalu ada sisi metaforis yang membuat kata dan harapan terkadang bersimpang jalan di marka tanda tanya besar. 

Kecepatan tanda tanya berbiak dalam benak berkelindan dengan peningkatan jumlah kasus yang saban sore dihidangkan kepada kita. Dan dari sebelah sang penyampai warta, terbitlah petunjuk penanganan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang ternyata isinya adalah petunjuk agar melihat petunjuk pada aturan lain. Hadeuh....!

Corona ternyata membuat kita kalang-kabut. Jenazah pun tertolak melintas hanya karena sang mayat diurus dan diantar dengan protap. Kepala daerah dan pemerintah larut dalam sawala (debat, berbantah) tanpa suara namun terdengar nyata. 

Ketika jumlah kasus merangkak naik, kematian terus bertambah, iringan jenazah demi jenazah pun menyapa gerbang kampung dan pemukiman mohon perkenan lewat menuju lahat membawa stigma aib yang dilekatkan tanpa rasa. Iringan jenazah ternyata juga diringi bantah berbantah dari dan dalam istana sendiri. Duh!

Jasad renik tak berwajah itu menyeramkan dan tergambar dari kepanikan, kecemasan dan bahkan kegagapan. Namun pada sisi lain di negeri ini ada juga yang menganggapnya hanya sekadar isu, atau paling tidak ancamannya belum sebanding dengan ancaman kematian di dalam rumah, kelaparan karena karantina atau isolasi mandiri. 

Bayang-bayang rasa kesepian dan kekosongan berhari raya tanpa suasana mudik dan kesempatan silaturahmi dengan keluarga dan jiran tetangga lebih menakutkan ketimbang berdiam di kota yang sejatinya bukan mereka yang punya.

Ketika kita dedah siapa saja mereka, maka terungkaplah bahwa ancaman apalagi sekadar himbauan hanya akan bermakna sebatas tingkat kepentingan untuk mempertahankan diri.

Pemudik yang berlatar pekerja sektor informal di perkotaan lebih terancam eksistensinya kalau tetap bertahan di kota yang sudah menerapkan bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan bentuk pembatasan sosial lainnya.

Bagi mereka sebaik-baik tempat adalah rumah di kampung yang selalu menyambut hangat dan karenanya memberi rasa aman. Ancaman Covid-19 hanya soal takdir bagi mereka.

Pengancam haruslah dilawan, dibendung, dibatasi peluang geraknya agar tidak menambah kekalutan. Bukan hanya pengancam, pembawa ancaman pun harus dibatasi agar tidak menjadi penyebar. Karantina, kuncitara (lockdown), isolasi adalah bentuk-bentuk ungkapan untuk menjelaskan cara membatasi gerak sesuatu yang akan mengancam kita.

Tahukah anda bentuk pembatasan fisik yang paling sempurna? Penjara!

Negara sering menghaluskannya dengan istilah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Istilah terakhir untuk menunjukkan bahwa ada upaya untuk menetralisir ancaman melalui langkah tertentu dalam jangka yang telah diatur sehingga pada saatnya kelak, berakhirnya pembatasan fisik berarti sempurnanya proses memasyaratkan kembali si pengancam masyarakat.

Dengan latar pemikiran sederhana di atas, bagaimana membaca meme di media sosial yang salah satunya kira-kira berbunyi begini.

"Gara-gara Corona, 
Kita yang bebas disuruh diam di rumah dan tidak boleh keluyuran 
Lah, mereka yang dipenjara malah dilepaskan?
Bebas gara-gara Corona"

Tentu kita dapat menjelaskan bahwa makna bebas bagi kita yang tidak sedang dipenjara dan arti bebas bagi mereka yang tadinya dipenjara adalah hal yang berbeda.

Bebasnya narapidana tidak berarti mereka akan bebas keluyuran, karena seketika mereka keluar dari penjara, himbauan atau perintah untuk berdiam di rumah pun berlaku bagi mereka. Keluar dari tembok penjara lalu pindah ke batas pekarangan rumah.

Pemaknaannya akan berbeda kalau yang dibebaskan dari penjara adalah juga termasuk para koruptor. Meski hal ini dibantah oleh pejabat terkait.

Namun mencuatnya isu ini di media memberi sinyal adanya keinginan pihak-pihak tertentu untuk melakukannya dengan beragam alasan, kemanusiaan misalnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN