Mohon tunggu...
Abdi Marang Gusti Alhaq
Abdi Marang Gusti Alhaq Mohon Tunggu...

Pria bernama lengkap Abdi Marang Gusti Alhaq ini memiliki hobi menari. Menari dengan jari tangan dan menari dengan kaki. Menari dengan jari tangan ia lakukan dalam hal menulis. Sedangkan dengan kaki ia lakukan dalam hal bermain bola. Aktif menulis di http://amgah.blogspot.com, tetapi tidak aktif bermain di timnas Indonesia. Amgah sedang mengejar cita-citanya di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Pengejarannya dimulai pada tahun 2012 bulan Agustus mendatang. \r\n\r\nemail: amgah01@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Jadilah Seperti Ban

3 Agustus 2012   20:03 Diperbarui: 25 Juni 2015   02:16 0 2 3 Mohon Tunggu...

3 Agustus 2012. Pukul 23 lewat 23 aku menulis ini, sebuah rangkaian kata tentang ban.

Hari itu -- hari jumat – aku merasakan di mobilku ada yang ganjil.

Menyetirku menjadi was-was dan resah.

Cerita ini bukan tentang setan atau hantu. Ini tentang sebuah ban, banku kempes ternyata.

Dari ban yang kempes aku berpikir, Jadilah seperti ban.

Mengendalikan tekanan agar dapat berjalan. Menjaga agar tekanan tidak terlalu tinggi atau terlalu redah.

Jika tekanan ban terlalu tinggi, ban pecah dan rusak

Tapi, bukankah Tuhan telah berpesan bahwa Tuhan tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Jadi... Aku harus percaya bahwa tekanan banku tidak pernah terlalu tinggi. Tekanan banku selalu cukup.

Tekanan ban juga tidak boleh terlalu rendah. Jika tekanan rendah berarti bannya kempes, seperti yang aku alami semalam.

Jika ban kempes, ban berputar sambil merintih melintasi jalanan ibukota yang sangar. Merintih karena tak mampu menahan beban mobilku, mau pun beban bel klakson orang belakang.

Jadi... Tekanan yang rendah membuat ban tertatih-tatih ya... Mau berjalan dengan mantap jadi susah. Banku tak lagi bulat, ada sudut yang rusak. Semua karena kehilangan tekanan.

Hm terus.. Bagaimana agar banku dapat berjalan sempurna? Menjadi gagah dan bulat lagi.

Otakku berputar dan memilih satu poros “Tempat pengisian Nitrogen.”

Di sana aku melihat tulisan “Tekanan Ban.”

Sambil melapor pada petugas bahwa banku kempes, aku menanyakan beberapa hal yang sepertinya tidak penting.

“Mas, mas gak ngantuk mas?”

“Ah, enggak kok dek.”

“Itu mas lagi ngukur apa? Kok ada psi, psi-nya?”

“Itu dek, kalau orang sopan sebelum melewati orang di hadapannya. Orang itu bilang, psi pak, psi.”

“Itu bukannya permisi ya mas?”

“Oh ya kurang lebih gitu dek.”

“Mas, itu tekanan ban kan ya. Ban emang gak stres dikasih tekanan terus?”

“Tanya aja sama ban-nya dek. Udah nih, udah selesai semua.”

Setelah menyelesaikan transaksi, aku kembali melaju. Nampaknya si mas terlihat sedikit kesal, entah kenapa, mungkin sudah ngantuk.

Wah ajaibnya banku sekarang sudah kembali bulat. Berputar gagah melintasi jalanan malam, tak ada sudut yang renta. Semua berkat tekanan.

Jadi... banku harus diberi tekanan baru agar kembali melaju sempurna.

Dari sebuah ban kempes aku belajar kebaikan Tuhan yang kadang terlupakan.

Subhanallah.

Sumber Gambar: tyresglasgow.co.uk

KONTEN MENARIK LAINNYA
x