Mohon tunggu...
Amelia Sutanto
Amelia Sutanto Mohon Tunggu... Mahasiswa - MahasiswaFakultas Hukum Universitas Gadjah Mada

Do It

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Satu September

27 September 2022   19:48 Diperbarui: 27 September 2022   20:00 46 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Satu September

Satu September yang layu penuh kelabu
Ketika seorang guru masuk dan berbincang
Bahwa dari sekarang kita harus punya ancang-ancang
Agar esok tidak pincang
Agar hari depan tidak terancam

Satu September yang layu bagai waktu
Ketika ia datang dan menasehati
Memberi jalan agar kita tidak mati
Mati karena menabrak tembok kehidupan
Mati karena kehabisan jalan
Mati karena terseok di persimpangan masa depan

Satu September yang layu layaknya hal tabu
Yang memandang penuh kuyu
Dengan topeng berlapis-lapis
Sedang hati menangis pilu
Dengan tangan mengais-ngais
Walau tak ada satupun tembok yang terkikis

Satu September, oh satu september!
Batin ini menjerit pilu
Termakan sembilu dari hulu
Yang menghujam bersamaan pada satu waktu

Katakan padaku Satu September
Bagaimana bisa aku berjalan
Sedang kaki terpasung semalaman
Sedang mentari yang dinanti tak juga terbit
Sedang masa depan telah lari terbirit-birit

Katakan padaku Satu September
Jalan apa yang kau punya
Agar semua tak lagi terlihat fana
Agar semua menjadi nyata
Agar teraih semua mimpi dalam jiwa

Katakan padaku Satu September
Bagaimana caranya
Mencabik jiwa yang tak berdaya

By: A T

-Hidup adalah hidup, tetap harus dijalani walau seakan membunuh diri sendiri-

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan