Mohon tunggu...
Alin You
Alin You Mohon Tunggu... Insinyur - Penyuka fiksi, khususnya cerpen dan novel.

PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) • Penulis Amatir • Penyuka Fiksi • Penikmat Kuliner • Red Lover Forever • Pecinta Kucing

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

[Cerita Untuk Anak] Menjadi YouTuber

19 Januari 2020   22:15 Diperbarui: 20 Januari 2020   05:39 301
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: nusantaratv.com

"Ma, Tante Milly itu keren ya?" ujar Salwa, saat menikmati makan siangnya di meja makan, usai pulang sekolah.

Mama yang sedang memeriksa buku tugas Salwa kontan menghentikan kegiatannya, kemudian menatap putri semata wayangnya itu dan bertanya, "Keren kenapa emangnya, Sayang?"

"Ya, keren aja, Ma. Kerjaannya itu jalan-jalan, bikin video, terus di-upload deh ke YouTube." Bocah berusia sebelas tahun itu tampak sangat mengagumi sang tante yang terlihat keren di matanya.

Mama yang mendengar celoteh Salwa hanya tersenyum kecut. Sungguh dia tak pernah menyangka kalau putri kecilnya itu telah mengerti istilah upload dan YouTube. Padahal selama ini jatah Salwa menyentuh gawai sudah sangat dibatasi. Itupun hanya sebatas chatingan di WA (Whats App) bersama teman-teman sekelasnya. Dan Mama juga tak pernah cerita kepada Salwa tentang profesi Milly--adik bungsunya--sebagai YouTuber.

"Memang Salwa tahu dari mana kalo kerjaan Tante Milly itu jalan-jalan dan bikin video?"

"Ya, tahu lah, Ma. Kan Salwa pernah nonton videonya di YouTube."

Ya, Tuhan. Mama hanya mampu menghirup nafasnya dalam-dalam.

"Ma, nanti kalo Salwa udah gede, Salwa mau kayak Tante Milly aja deh. Teman-teman sekolah Salwa juga banyak yang bilang kalo channel YouTube Tante Milly itu top abis, Ma. Video-videonya keren. Gaya Tante Milly juga modis, kekinian. Pokoknya, Tante Milly itu idolaku banget deh, Ma," cerocos anak kelas 5 SD itu sambil beberapa kali mengacungkan kedua jempol tangannya. 

Oh. Kali ini Mama benar-benar tak bisa berkomentar apa-apa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun