Mohon tunggu...
Ali Anshori
Ali Anshori Mohon Tunggu... Ali anshori

Bekerja apa saja yang penting halal. Hobi olahraga dan menulis tentunya

Selanjutnya

Tutup

Kandidat Pilihan

Ingat, Pilpres Bukan Ajang Adu Jotos

26 Agustus 2018   22:40 Diperbarui: 26 Agustus 2018   22:55 507 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ingat, Pilpres Bukan Ajang Adu Jotos
(dok. pribadi)

Belum pilpres sudah ribut. Pada saat pilpres juga ribut. Begitu selesai pilpres masih saja ribut. Jadi maunya apa? Memang mau kalau Indonesia ini dibagi dua. Biar adil. Nanti Jokowi ngurus Indonesia A Prabowo ngurus Indonesia B. Kalau sudah dibagi dua ternyata masih juga ribut bikin ring tinju yang banyak nanti silakan kelahi sepuas-sepuasnya di situ.

Saya jadi heran, baru jadi pendukung saja sudah sombong tak ketulungan kalian ini. Pendukung Jokowi bilang Prabowo ini itu gak bisa gini dan gitu. Pendukung Prabowo juga bilang Jokowi ini itu tak pernah begini dan begitu. La kalau mereka ini jelek semua terus yang baik siapa?

Kalau kedua-duanya tidak ada yang baik lantas kenapa kalian mati-matian mendukung. Apa kamu saja yang jadi presiden biar negara ini aman dan tentram, makmur dan sejahtera.

Mbok ya o jadi pendukung itu santai-santai saja.  Gak usah over dosis. Kalaupun mau berikan dukungan silakan sampaikan prestasi-prestasi dan kelebihan capres yang kalian dukung. Visi misi kedepan dia seperti apa. Cara mengentaskan kemiskinan bagaimana. Untuk membangun insfrastruktur dengan cara apa.

Saya yakin kalau kayak gini caranya capres kita akan kelihatan baik semua akan kelihatan kehebatannya. Itu baru pendukung yang benar. Pendukung garis lurus. Bukan pendukung garis bengkok. Jadi siapapun nanti yang terpilih kalian akan tetap legowo. Karena yang menang adalah yang terbaik. Bukan presiden terburuk seperti yang kita sangkakan selama ini.

Kalau boleh jujur mengangkat citra baik capres yang kita dukung, justru akan berdampak positif terhadap pihak lain yang berbeda dukungan. Karena jika salah satunya menang mereka akan tetap melihat bahwa calon terpilih juga baik. Sebaliknya jika kalian selalu melihat kejelekan capres lawan.

Hal inipun akan berdampak negatif pada capres yang kita jagokan.  Karena setelah selesai pilpres sang lawan politik akan senantiasa memberikan serangan. Ingat serangan bukan kritikan. Kalau serangan itu modelnya selalu cari keburukan. Kalau kritikan itu menyampaikan pendapat karena dianggap kurang pro rakyat. Kritik disertai solusi. Kalau serangan ya maunya dimatikan.

Mulai dari A sampai Z segala persoalannya akan diumbar ke permukaan. Mulai dari latar belakang keluarganya, kebiasaannya, hobinya, pergaulannya, kebijakannya, masa lalunya dan lain sebagainya. Jadinya ya begini, nyaris seorang presiden yang telah dipilih oleh rakyatnya sendiri tidak mempunyai sisi positif sama sekali di mata orang yang tidak mendukung sebelumnya.

Bukankah cara demikian (pemilihan langsung) yang dulu dikehendaki oleh masyarakat supaya tidak ada politik dinasti dan nepotisme. Tapi setelah dilakukan nyatanya masyarakat masih juga ribut. Mending yang diributkan masalah besar. Ini cuma urusan sepele. Urusan anak kecil. Aneh kan.

Akibatnya ya begini. Sekarang sulit membedakan orang pintar dan orang bodoh. Sulit juga membedakan pejabat kritis dan rakyat jelata. Karena yang dikomentari hanya seputar itu-itu saja. Yang membela pemerintah juga seperti itu. Seolah-olah yang dilakukan pemerintah sudah bener semua.

Ah sudahlah... saya lebih baik diam... diam2 saja lihat status kalian yang ribut soal presiden. Saya hanya orang biasa yang tetap harus bekerja keras untuk menghidupi keluarga saya. Siapapun itu presidennya. Saya tetap orang biasa. Tidak seperti kalian yang hebat dan mungkin akan mendapatkan keuntungan dengan tindakan yang kalian pilih.

VIDEO PILIHAN