Mohon tunggu...
ALF
ALF Mohon Tunggu... Lainnya - ~

~

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Menyadari dan Tahu Diri

24 Oktober 2022   15:48 Diperbarui: 24 Oktober 2022   16:00 43
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kondisiku sedang tak baik-baik saja, sejak lama sebetulnya.
Ku coba mencari tahu sendiri, mengatasi sendiri, ada juga cukup bantuan dari sahabat dan keluarga.
Sebetulnya tak banyak mereka tahu permasalahanku.
Karena memang aku juga yang memilih untuk tak memberitahu.

Jurusan kuliahku, seperti tempat berobat jalan bagiku dan juga beberapa temanku.
Itu bukan menurutku pada awalnya, tapi menurut dosen-dosen yang meledeki kami.
Tapi akhirnya kami setuju, betul juga.

Materi-materi yang disampaikan oleh dosen kami, membuat kami menyadari diri kami.
"Wah, aku sekali itu..."
"Hahaha, aku banget..."
'Ih kok bisa sih aku banget loh itu...'
Itulah beberapa respon kami pada saat itu.

Beberapa waktu lalu, aku merasa kewalahan dengan diriku.  
Sering hadir keadaan gelap.
Aku mencoba berbagai cara untuk mengatasinya.
Seringkali berhasil, terang datang lagi.

Namun, berbagai penyakit juga datang menghampiri.
Wah ini sudah bahaya menurutku, dari psikis sudah sampai mempengaruhi ke fisik.

Butuh waktu lama untuk aku memberanikan diri.
Meminta bantuan.
Bantuan profesional.
Pekerjaanku berkaitan dengan mereka.
Tentu aku tak mau dibantu dengan yang kukenal.
Aku takut akan mempengaruhi banyak hal nantinya.
Objektivitas masih dibutuhkan di pekerjaanku.
Sejujurnya aku malu, jika aku bercerita permasalahanku dengan mereka yang kukenal.
Aku tak mau.

Akhirnya aku diberi petunjuk.
Sang Maha Pengasih dan Penyayang memudahkan semuanya, memberikan jalannya.

Tak butuh waktu lama untuk aku sampai disana.
Bertemu dengan profesi yang kucita-citakan.
Biasanya aku hanya bekerja dengan mereka, menampilkan kelebihanku, sekarang aku menampilkan kelemahanku.
Masih ada rasa malu, pertahanan diriku pun sangat muncul saat proses itu.
Sampai akhirnya...
"Sebelum dimulai, bolehkah isi dulu formulir ini..."
Saya baca dan isi halaman demi halaman.
Lalu bertemu pada halaman yang berisi:
Nama Pelaku: ...
Apa ini? Ini saya harus isi juga? Namanya?
"Iya betul teh harus diisi"
Seketika air mata saya tumpah, sesak didada, tak bisa berkata apa-apa, tangan gemetar.
"Teh tak apa kalau belum siap, nanti saja".
Aku memaksakan diri. Mencoba menuliskan namanya, dengan bergetar. Harus nama lengkap? Kataku.
"Tak apa kalo mau inisial juga boleh".
Akhirnya beberapa nama kutuliskan.
Tak sampai hati rasanya, untuk menuliskan nama orang terdekat dihidupku, dengan judul pelaku...

Menit demi menit berlalu.
Cerita demi cerita ku sampaikan.
Tentu belum semuanya, dan belum seutuhnya.
Lapisan ini masih banyak dan dalam.
Butuh waktu, untukku memberanikan dan mempersiapkan diri.
Tapi ku sudah bangga dengan diriku, menyadari dan tau diri.
Ku juga senang, mendapat banyak masukan.
Mendiskusikan solusi-solusi yang harus kulakukan.
Walaupun tak mudah memang.
Sangat tak mudah.
Puluhan tahun kegelapan itu bersarang didiriku, pasti butuh waktu dan usaha yang banyak juga untuk membuatnya terang.
Pelan-pelan.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun