Mohon tunggu...
alfeus Jebabun
alfeus Jebabun Mohon Tunggu... Pengacara - Pengacara

Alfeus Jebabun, Advokat (Pengacara), memiliki keahlian dalam bidang Hukum Administrasi Negara. Alfeus bisa dihubungi melalui email alfeus.jebabun@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Apes (Bagian Kedua)

26 September 2020   10:39 Diperbarui: 26 September 2020   10:45 52
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Jam tiga sore. Matahari sudah mulai condong ke barat ketika empat orang berpakaian polisi tiba di kebun Apes. Dua orang bersenjata lengkap, dua orang lainnya tidak terlihat memegang senjata. Saat mereka tiba, Apes sedang asik menyiangi rumput yang tumbuh di sekitar tanaman jagung yang berusia tiga mingggu. Apes tidak melawan saat ketika seorang polisi memperlihat surat perintah penangkapannya. Dia ditangkap karena dituduh melakukan tindak pidana penyerobotan lahan milik orang lain. "Anda melanggar Pasal 385 KUHP," kata polisi.

Sandi, anak Apes, tidak rela melihat ayahnya digiring polisi. Dia merasa ayahnya tidak bersalah. Selama ini, tanah yang mereka garap adalah tanah warisan orang tua Apes, dan digarap secara terus menerus tanpa ada gangguan dari orang lain. Sandi hendak menghunus golok menyerang aparat. Dia berlari ke arah polisi dengan mengayunkan golok ke udara. Namun, belum juga sampai lima langkah, Sandi terjerembab. Tulang keringnya kena timah panas.

Apes ditangkap dan digiring ke mobil berwarna hitam dengan tangan diborgol. Sandi juga juga diangkut dan dibawa ke rumah sakit. Apes tidak banyak bicara. Dia hanya bisa sesenggukan, tidak tau mau berbicara apa-apa. Tubuh tinggi tapi kurusnya pasrah saja ketika polisi menggiringnya masuk ke mobil.

Mengapa Apes ditahan, padahal katanya tanah yang digarapnya bukan tanah orang, tetapi tanahnya sendiri yang didapat dari orang tuanya? Ceritanya begini, kawan. Saya mendapat cerita lengkap ini setelah saya sebagai pengacaranya melakukan wawancara opa Apes.

Suatu sore, sekitar tiga puluh menit menjelang azan magrib, seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap bertamu ke rumah opa Apes. Opa Apes tidak mengenal sama sekali orang itu. Namun, demi sopan santun -- dan memang demikianlah adat kita orang berbudaya timur- opa Apes menerima tamu itu dengan keramahan yang tidak mengada-ada. Dia menyediakan kopi tubruk hitam. Singkong rebus yang tadinya disediakan oleh istrinya untuk bersantai bersama keluarga, disajikan di atas meja.

Tamu itu memperkenal diri bernama Modar. Awalnya hanya ngobrol ngalur ngidul saja. Tetapi lama-kelamaan, Modar secara terang-terangan menyampaikan niatnya. Rupanya, dia sedang membutuhkan lahan yang besar untuk berbisnis. Sebelum dia ke rumah opa Apes, secara diam-diam sebenarnya dia sudah mengamati lokasi yang cocok untuk bisnisnya. Dia juga sudah melakukan penyelidikan awal, menanyakan pemilik lahan yang sudah dilihatnya. Sampailah dia mendapatkan informasi bahwa lahan berbukit seluas sekitar lima hektar itu milik opa Apes. Jadi dia datang untuk menanyakan apakah opa Apes tidak berniat menjual tanahnya.

Tanah itu memang sangat strategis, kawan. Letaknya tidak jauh dari pusat kota. Sangat bagus untuk dijadikan kawasan elit. Sebagian tanah di sekitar tanah opa Apes itu telah dijadikan tempat pembuangan sampah. Sebagian masyarakat di situ juga sudah melepaskan haknya. Ada yang mendapat ganti rugi, ada pula yang menyerahkannya secara ikhlas karena termakan propaganda tanah untuk kepentingan umum.

Opa Apes rupanya tidak berniat menjual tanah itu. Sebab, lahan itu satu-satunya sumber penghidupan keluarganya yang merupakan petani. Sejak kakek dari kakeknya sampai dengan anaknya selalu menggarap tanah itu. Mereka tidak pernah menjual tanah itu kepada orang lain. Opa Apes menolak mentah-mentah tawaran dari Modar. Padahal, tidak maen-maen tawarannya. Lima puluh milyar, kawan. Lima puluh milyar. Namun, opa Apes tidak bergeming. Ia tidak tergiur dengan jumlah uang yang sangat banyak itu. Baginya, tanah bukan hanya sumber penghasilan untuk mempertahankan hidup. Opa Apes memandang tanahnya sebagai liebenstraum. Ruang hidupnya. Uang bermiliaran rupiah akan habis dalam sekejap, tetapi tanah tidak akan ada habisnya.

Modar pulang dengan tangan hampa malam itu.

Keesokannya, saat matahari baru mulai merekah, Modar datang lagi menawarkan hal yang sama. Opa Apes tetap tidak bergeming. Namun, bukan Modar Namanya kalau patah arang. Dia bisa modar benaran kalau sampai tanah itu tidak jatuh ke tangannya. Hari berikutnya dia datang lagi bersama dua orang berpakaian safari hitam. Kali ini, Modar menaikkan tawaran. Dia menyunggingkan bibir tebalnya saat menyebutkan angka: enam puluh milyar. Dalam hatinya dia merasa puas, karena tidak mungkin si tua renta kurus ini menolak uang sebanyak itu. Sebab katanya, Apes serta anak cucunya bekerja sepanjang hayat pun, bahkan menabung tanpa belanja apa pun, tidak akan pernah bisa mendapatkan uang enam puluh milyar. Modar optimis tawaran tidak ditolak.

Senyum Modar sirna seketika saat Opa Apes hanya menggelengkan kepala melihat tumpukan uang miliaran rupiah itu. Muka Modar merona. Dia tidak menyangkan Apes berani menolak tawarannya. Pagi itu, Modar pulang dengan tangan hampa lagi. Tetapi, pikirannya berkecamuk memikirkan strategi yang akan ditempuhnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun