Mohon tunggu...
Alfa Riezie
Alfa Riezie Mohon Tunggu... Jurnalis - Pengarang yang suka ihi uhu

Muhammad Alfariezie, nama yang memiliki arti sebagai Kesatria Paling Mulia. Semua itu sudah ada yang mengatur. Siapakah dan di manakah sesuatu itu? Di dalam perasaan dan pikiran.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Dua Hitam Putih Mata Lelaki Beranjak Dewasa

11 Juni 2021   02:23 Diperbarui: 11 Juni 2021   02:29 220
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik



Kuntilanak yang tertawa keras dan yang kakinya berayun-ayun dari atas pohon beringin besar pernah aku mendengar dan melihat. Gunderuwo berbulu hitam tebal yang matanya merah dan hanya diam, pernah menghalangiku untuk keluar dari dalam rumah yang lama tidak memiliki penghuni. Tuyul-tuyul dan pocong yang meneteskan liur di dalam gentong penjualan makanan pun pernak aku memandang.

Kejadian itu bermula ketika aku pulang dari rumah kakek yang malam itu, saat bulan begitu bulat dan bersinar, dia mengembuskan napasnya. Sebelum mengembuskan napasnya dan saat dia berjuang melawan maut. Sungguh, dia memegang tanganku dan memandang tepat ke arah dua hitam putih mata lelaki yang baru beranjak dewasa ini.

Waktu itu, meski keadaan sedang genting. Ibuku, tanteku, pamanku dan adik dari kakekku pun menangis. Tapi aku tidak. Aku memikirkan maksud dari pandangan dan genggangam kakek untukku.

Maksud itu kutemui ketika aku pulang untuk mengambil pakaian. Aku cucu pertamanya maka nenek ingin aku ikut memandikan kakek.

Jalan dari rumah kakek ke rumah orang tuaku tidak begitu jauh. Tapi, mesti melewati kebun-kebun pisang dan kebun-kebun tangkil berbatang besar dan rindang.

Konon, tidak ada yang berani melewati jalan itu sendirian. Tentu saja ketika malam. Karena kerap terdengar suara benda jatuh dari atas pohon. Dan ada juga yang bercerita, ada pohon pisang jelmaan pocong bermata hitam, berwajah mutung, dan berpakaian lusuh penuh tanah merah. Bahkan, pocong itu terbilang jahil. Kata masyarakat sekitar, pocong itu kerap menunjukkan wujud asli secara tiba-tiba.

Kampung kami sempat geger karena penemuan petani. Petani tersebut menemukan satu orang pengendara ojek yang asalnya bukan dari kampung sekitar kebun itu. Petani itu menemukannya tergeletak di atas rumput yang berembun.  Ketika dibangunkan, ternyata dia bukan pemuda yang mabuk. Tapi, ternyata dia pingsan.

Ceritanya, tukang ojek itu mendapat order untuk mengantar seorang pegawai yang baru pulang kerja. Pegawai itu adalah tetangga kakekku.  

Pada saat masih membonceng sang pegawai, meski melewati kebun-kebun pisang dan pohon-pohon tangkil serta beberapa pohon randu, tidak sekali pun ada gangguan. Tapi, kejadian yang menyeramkan baginya hadir ketika seorang diri melajukan kendaraan melawati kebun penuh misteri itu.

Pelan ia melajukan kendaraan. Saat melalui pohon randu yang menjadi tanda antara kebun dan jalan kampung, tukang ojek itu sudah mendengar ada desahan. Dia sempat menengok dan melihat ke spion. Tapi, tidak ada satu pun hal yang aneh.

Hal-hal yang aneh baru ia dapati ketika melalui jalan yang sisinya tumbuh pohon-pohon tangkil. Sekelabat bayang putih terlihat menyeberang jalan. Tapi, tidak menghalanginya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun