Mohon tunggu...
Alex Japalatu
Alex Japalatu Mohon Tunggu... Penulis - Jurnalis

Suka kopi, musik, film dan jalan-jalan. Senang menulis tentang kebiasaan sehari-hari warga di berbagai pelosok Indonesia yang didatangi.

Selanjutnya

Tutup

Healthy Artikel Utama

Di Papua ASI Pertama Masih Dianggap Air Susu "Kotor"

1 Agustus 2022   06:23 Diperbarui: 4 Agustus 2022   13:30 1224
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ibu Yosina Tabuni, salah satu kader kesehatan dari Kampung Wugari, Distrik Yalengga, Kabupaten Jayawijaya. (Foto: Dokumentasi pribadi)

=000=

Hasilnya memang ada. Setidaknya di Wugari. Di kampung Yosina.  Sebelum tahun 2006, kata dia, angka kematian ibu dan anak cukup tinggi. Empat sampai lima kematian per tahun. Berkurang menjadi hanya satu kematian pada 2010. Hal ini terjadi karena sanitasi yang buruk dan asupan gizi yang rendah. Juga beban kerja yang tinggi pada ibu hamil.

Seperti diketahui, beban kerja pada perempuan Papua sungguh berat. Selain mengurus rumah, mereka juga harus bekerja di ladang sepanjang hari. Lalu kembali ke rumah membawa makanan untuk diolah bagi keluarga.

"Ibu-ibu sudah bekerja di kebun. Hanya makan satu kali sehari. Mereka juga pikul noken, pikul kayu bakar, gendong anak. Pokoknya ibu bekerja paling banyak sudah, meskipun dia sedang hamil," kata Yosina. 

Karena itu Yosina memberi pemahaman kepada para  ibu hamil  agar tidak boleh mengangkat beban yang berat-berat. Juga tidak boleh terlalu lelah bekarja, sebab akan berpengaruh pada kondisi janin di dalam perutnya.

Ia juga memberi pemahaman kepada para suami agar tidak memaksa istrinya bekerja di ladang.

Membantu Persalinan

Para kader juga belajar Home-Based Life Saving Skills (HBLSS ). Yakni keahlian untuk membantu ibu melahirkan di rumah. Buat jaga-jaga. Kejadiannya memang sering begitu. Karena susah menentukan HPL tadi. Apalagi para ibu malu kalau melahirkan di puskesmas.

Meskipun praktik ini sudah dilarang pemerintah, namun kenyataan bicara lain. Dalam kondisi darurat apapun harus dilakukan. Termasuk para kader yang harus membantu proses kelahiran.  

"Kader dilatih untuk bisa membantu ibu melahirkan di rumah. Mama-mama di sini malu kalau melahirkan di puskesmas atau Pustu. Tetapi ada peraturan pemerintah yang melarang ibu untuk melahirkan di rumah, sehingga proyek ini kami alihkan agar kader mampu menginformasikan kepada masyarakat mengenai tanda bahaya pada ibu hamil dan anak bayi baru lahir, serta mengupayakan ibu agar dapat melahirkan di tenaga kesehatan," kata Andri Lummy, Area Manager WVI yang meliputi Jayawijaya, Lanny Jaya dan Tolikara.

Diakui Yosina, para ibu hamil enggan melahirkan di Puskesmas karena malu bertemu petugas kesehatan. Ada juga yang takut. Khawatir akan diminta membayar biaya persalinan. "Padahal  sudah gratis semua," kata Yosina.

=000=

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun