Mohon tunggu...
Alex Japalatu
Alex Japalatu Mohon Tunggu... Penulis - Jurnalis

Suka kopi, musik, film dan jalan-jalan. Senang menulis tentang kebiasaan sehari-hari warga di berbagai pelosok Indonesia yang didatangi.

Selanjutnya

Tutup

Healthy Artikel Utama

Di Papua ASI Pertama Masih Dianggap Air Susu "Kotor"

1 Agustus 2022   06:23 Diperbarui: 4 Agustus 2022   13:30 1224
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ibu Yosina Tabuni, salah satu kader kesehatan dari Kampung Wugari, Distrik Yalengga, Kabupaten Jayawijaya. (Foto: Dokumentasi pribadi)

Kampung Wugari terpencil di balik gunung-gunung. Berjarak  sekitar 100 kilometer di luar Wamena. Untuk datang ke pertemuan di atas, Yosina mesti berjalan kaki terlebih dahulu ke jalan besar selama dua jam. Sebab di Wugari belum ada jalan raya yang bisa dilewati kendaraan. Ia ke jalan besar untuk bisa naik kendaraan ke Wamena dengan ongkos Rp 35 ribu.

"Sekitar 2 jam saja sudah sampai Wamena," ujarnya. 

Infrastruktur jalan yang belum memadai membuat banyak distrik dan kampung di Kabupaten Jayawijaya sukar dijangkau kendaraan bermotor. Kalaupun bisa, perlu perjuangan keras. Jalannya berlumpur. Berlubang-lubang. Tidak layak untuk dilalui kendaraan.

Ada kalanya hubungan antar distrik atau kampung terputus. Karena jembatan diterjang banjir. Kondisi ini membuat petugas kesehatan sukar menjangkau kampung-kampung di balik gunung.

"Puskesmas hanya ada di Yalengga. Kalau jalan kaki dari Wugari sekitar dua jam baru sampai," jelas Yosina lagi.

Puskesmas Yalengga melayani  14 kampung di Distrik  Yalengga dan Distrik Koragi. Kampung-kampung itu adalah; Wugari, Taganik, Tumun, Marli, Biti, Pilimo,Akorek, Wananuk II, Wananuk I serta kampung Koragi, Kumudluk, Tagibaga, Tenondek dan Telegai.

Mengangkat Kader

Petugas kesehatan sangat minim di Jayawijaya. Demikian pula di seluruh pedalaman Papua. Sementara angka kematian ibu dan anak, antara lain karena pendarahan, diare dan infeksi paru (pneumonia) sangat tinggi.

Seperti dilaporkan Unicef Papua dan Papua Barat, tingkat kematian  Ibu melahirkan  di Papua masih tertinggi di Indonesia yakni 306 per 100.000 ibu melahirkan pada 2019.  Salah satu penyebabnya adalah  saat melahirkan tidak dibantu tenaga profesional.

Selain itu kondisi kesehatan Ibu menyebabkan pendarahan  tinggi saat hamil maupun saat melahirkan.

"Di pedalaman hampir tidak ada tenaga kesehatan yang mau menetap karena berbagai alasan," ujarnya.

Terhadap hal ini Pemerintah Daerah Jayawijaya tidak mau berpangku tangan. Antara lain, mereka mengangkat dan melatih kader kesehatan. Yakni para warga kampung terutama kaum perempuan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun