Mohon tunggu...
Aldina Hasti Putri
Aldina Hasti Putri Mohon Tunggu... mahasiswa universitas Jember

mahasiswa prodi perencanaan wilayah dan kota universitas jember. menyukai dunia literasi.

Selanjutnya

Tutup

Ruang Kelas

Masa Depan Pertanian Indonesia dalam Menyikapi Society 5.0 dari Kacamata Perencana

3 Januari 2021   20:18 Diperbarui: 3 Januari 2021   21:40 35 0 0 Mohon Tunggu...

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai perencanaan pertanian masa depan, disini akan memberikan pengertian tentang Society 5.0

Setelah perkembangan revolusi industri 4.0 yang mungkin dibanyak negara masih belajar merangkak, negara jepang telah membuat inovasi baru yaitu Society 5.0 disini mereka memberi klaim dengan adanya inovasi baru ini dapat mengguranggi degredasi umat manusia.

Setelah melakukan evaluasi mengenai revolusi industri 4.0 yang menjadikan internet adalah objek di inovasi terbaru menjadikan manusia sebagai objek, dijelaskan bahwa internet akan membantu manusia dalam menyelesaikan pekerjaanya.

Misalnya barang eloktronik kulkas yang akan memberikan rekomendasi makanan, penggunaan alat pembajak sawah otomatis, kendaraan tanpa pengemudi, pengiriman kurir dengan drone, dan lain sebagainya.

Mungkin masih banyak disini yang masih binggung, lalu apa yang membedakan dengan industri 4.0? pada pelaksanaanya penggunaan robot, dan teknologi masih tetap diterapkan disini. Namun hanya kemudahan menggunakan big data atau integrasi teknologi dan internet yang semakin canggih sehingga semakin memudahkan manusia dalam menjalani hidup.

Seorang perencana yang sebelumnya sudah banyak disuguhkan dengan konsep smart city, memang harus mengikuti perkembangan yang ada. Namun, juga harus lebih selektif lagi untuk menentukan mana yang lebih baik dan tidak terlalu memiliki banyak dampak buruk.

Perkembangan pertanian yang ternyata lambat tahun semakin mengalami penurunan karena banyak faktor eksternal dan internal seperti pengunaan peralihan lahan yang lebih potensial, kondisi iklim yang mulai sulit diprediksi, dan kurangnya minat generasi muda dalam hal pertanian menjadi tantangan nyata yang harus segera diselesaikan.

Di sini, saya mencoba beropini dari segi seorang perencana:

  • Kembali pada pengembangan pertanian dengan konsep kebudayaan, kenapa saya bisa beropini seperti itu, saya teringat dengan cara bertani suku Badui dalam misalnya pada satu luas lahan mereka tidak serta merta menggunkan untuk satu jenis tanaman, namun beberapa jenis tanaman yang memiliki simbiosis mutualisme anatr keduanya.
    Penanaman dengan jenis yang beragam (mixvariety) akan meningkatkan keragaman genetik pada pola tanam monokultur. Semakin tinggi keragaman hayati dalam suatu ekosistem, maka akan semakin stabil ekosistem tersebut (Untung, 1993)
  • Penggunaan indoor farming, solusi ini bisa mengatasi permasalahan semakin sedikitnya lahan pertanian, gengsi generasi muda yang tidak mau terjun kelapangan karena kondisi tanah becek, atau permasalahan climate change. Penanaman sayur dengan indoor farming juga menjadi solusi utama kebutuhan pangan masa depan. Namun, penanaman yang dilakukan dalam ruangan nantinya juga akan memberikan dampak negatif berupa penyalah gunaan penanaman tanaman terlarang, penggunaan listrik yang banyak, dan pengeluaran akibat gas co2 yang semakin meningkat. Sehingga nantinya jika solusi ini diterapkan pada masa depan, diperlukan perencanaan dan koordinasi antar government dan petani.
  • Perencanaan zonasi kawasan yang memang sesuai diperuntukan sebagai lahan pertanian pangan berkelanjutan agar dikelola dengan efektif dan penggunaan alat pembantu berteknologi tinggi yang aman dan berkelanjutan.

Nah, itu menjadi opini yang bisa saya berikan jika melihat perspektif seorang perencana. Perkembangan teknologi tidak bisa serta merta kita abaikan, meskipun nantinya terdapat dampak negatif namun sebisa mungkin kita melakukan pengambilan keputusan yang memiliki resiko terkecil didalamnya.

VIDEO PILIHAN