Mohon tunggu...
Aldi Dzikri Sholihin
Aldi Dzikri Sholihin Mohon Tunggu... Pembelajar

"Kita tidak diciptakan untuk menyelesaikan masalah. Namun, kita diciptakan untuk menjalani masalah"

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Jangan so Tau..!! | Cerita Unik

14 November 2019   22:55 Diperbarui: 30 November 2019   05:36 0 0 0 Mohon Tunggu...
Jangan so Tau..!! | Cerita Unik
so-tau-5de19d3d097f3669f1164233.jpg

Pada zaman dahulu,ada sebuah desa tempat seorang tua yang sangat bijaksana tinggal. Penduduk desa percaya bahwa orang tua itu selalu dapat menjawab pertanyaan mereka atau memecahkan persoalan mereka.

Suatu hari, seorang petani di desa itu datang menemui orang tua yang bijak ini dan berkata dengan putus, "Pak tua yang bijaksana, tolonglah saya. Saya sedang mendapat musibah. Kerbau saya mati dan saya tak punya binatang lain untuk membajak sawah! Bukankah itu musibah paling buruk yang menimpa saya?" Orang tua itu menjawab "Mungkin ya, mungkin tidak". Petani itu bergegas kembali ke desa dan menceritakan kepada tetangga-tetangganya bahwa orang tua yang bijak itu sudah menjadi gila. Tentu saja inilah terburuk yang dialaminya. Mengapa orang tua itu tidak melihatnya ?

Namun, keesokan harinya, tiba-tiba muncul seekor kuda yang masih muda dan kuat di dekat tanah si petani itu. Karena tak punya kerbau lagi untuk membajak sawahnya, petani itu berpikir untuk menangkap kuda itu sebagai ganti kerbaunya dan akhirnya ditangkaplah kuda itu. Betapa gembiranya ia bisa kembali membajak sawah dengan bantuan kuda. Membajak sawah tak pernah menjadi semudah ini. Ia datang kembali ke orang tua itu dan meminta maaf, "Pak tua yang bijaksana, Anda memang benar. Kehilangan kerbau bukanlah musibah terburuk yang menimpa saya. Inilah rahmat terselubung bagi saya! Saya takan pernah mendapatkan kuda jika saya tidak kehilangan kerbau. Anda pasti setuju bahwa inilah hal terbaik yang pernah saya dapatkan." Orang tua itu menjawab sekali lagi "Mungkin ya, mungkin tidak". Lagi-lagi begini, pikir si petani. Pastilah orang tua yang bijak itu benar-benar gila sekarang. 

Tetapi, sekali lagi, si petani itu tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Beberapa hari kemudian, anak laki-laki si petani jatuh dari kuda yang sedang dinaikinya. Kakinya patah dan tak bisa lagi membantu ayahnya bertani. 

Sekali lagi, si petani itu kembali menemui orang tua itu, dan kali ini dia berkata "Bagaimana Anda bisa tahu bahwa mendapatkan kuda bukanlah sesuatu yang baik bagi saya? Anak saya terluka dan tak bisa lagi membantu saya bertani. Kali ini, saya benar-benar yakin bahwa inilah hal terburuk yang pernah menimpa saya. Sekarang pasti Anda setuju"

Tetapi seperti yang terjadi sebelumnya, orang tua bijak itu dengan tenang menatap di petani dengan suaranya yang sejuk berkata sekali lagi "Mungkin ya, mungkin tidak". Karena seringnya mendengar jawaban yang sama dari orang tua itu, akhirnya si petani pun marah dan kembali ke desanya.

Keesokan harinya, datanglah tentara yang bertugas mengumpulkan semua pemuda yang bertubuh sehat untuk dijadikan prajurit dalam perang yang baru saja meletus. Anak laki-laki si petani itu adalah satu-satunya pemuda yang tidak diikutsertakan . ia tetap hidup, sementara pemuda lainnya kemungkinan besar akan mati dalam peperangan.

Pesan moral cerita ini merupakan pelajaran yang sangat bermanfaat. Kebenarannya adalah kita tidak tahu apa yang akan terjadi, kitahanya berpikir kita tahu. Seringkali kita membesar-besarkan segala sesuatu. Pada sebagian besar kesempatan, kita salah. Bila kita tetap tenang dan tetap percaya bahwa akhirnya semua akan baik-baik saja.

Ingatlah : mungkin ya, mungkin tidak

*Dikutip dari buku "Jangan Membuat Masalah Kecil Menjadi Masalah Besar" karya Richard Carlson (hal. 174-176)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x